Diam-Diam Suamiku Ceo

Diam-Diam Suamiku Ceo
Ruangan Ceo


__ADS_3

Sinar matahari telah naik di atas kepala. Adira sedang menikmati waktu istirahat siang yang tak lama lagi habis dengan melakukan sambungan telepon. Berkabar dengan adiknya Aska.


“Bagaimana kabar kalian? Kalian makan dengan teratur kan. Rumah baik-baik saja. Kalian tidak membuat masalah kan?”


“Kak. Kami baik-baik saja dan tidak terlibat masalah.”


“Baguslah. Jika kalian membuat onar lagi. Lebih baik langsung aja serahin diri kalian ke panti jompo! Kakak tidak akan peduli!”


“Kakak. Percayalah kami tidak melakukan apa-pun!”


“Bagaimana dengan pernikahan kakak. Apa dia memperlakukan kakak dengan baik? Apa kakak bahagia!” cecar suara di seberang sana terdengar cemas.


Ada jeda dari Adira. Ia tak langsung menjawab.


“Iya. Dia lelaki yang sangat baik dan kakak bahagia,” dusta Adira.


“Apa pekerjaan suami kakak?


Pekerjaan.


Lagi-lagi Adira diam, otaknya berpikir keras. Tidak mungkin dia mengatakan jika suami misteriusnya seorang Ceo. Akan ada kegaduhan dari adiknya.


“Dia ... Dia pegawai biasa. Tenang saja kakak hidup baik dengannya!” sahut Adira.


“Syukurlah.” Tarikan napas lega terdengar.


“Tiga minggu lagi. Aku akan ada pertandingan basket. Kakak nontonkan.”

__ADS_1


“Tentu kakak pasti datang. Kakak akan mengawasi kalian. Jangan sampai kalian membuat ulah lagi.”


“Kakak sudahlah, kami tidak akan mengulanginya lagi.”


“Baguslah. Kau harus bermain yang baik jika kau menang kakak akan mentraktir kalian.”


Perhatian Adira teralihkan saat perempuan bertubuh tambun duduk di hadapan Adira.


“Kakak tutup dulu,” ucap Adira setelahnya memutuskan sambungan telepon.


“Cepat buatkan kopi hitam dan bawa ke ruang Ceo!” perintah Sari langsung.


Ruang Ceo


Adira tersentak mendengar tugas dari seniornya ini. Berarti ruangan lelaki dingin itu.


“Ke ruangan Ceo, Aku,” ulang Adira sambil menunjuk dirinya.


“Kenapa harus aku. Bukankah kak Sari senior di kantor ini, harusnya kak Sari yang melakukannya,” ujar Adira menolak.


“Tidak usah membantah kau ingin mencari masalah denganku. Kau ingin bernasib sama dengan orang yang menentangku,” ancam Sari galak.


Adira bergidik mendapatkan ancaman dari seniornya. Ia mengingat Sari begitu pintar bermain intrik dan begitu di percaya oleh perusahaan, sudah banyak orang yang menjadi korban pemecatan karenanya dan kini ancaman itu mengarah pada Adira. Oh tidak dia membutuhkan pekerjaan ini. Mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah untuk Adira yang berpendidikan rendah.


Dengan perasaan dongkol akhirnya Adira bangkit dari duduknya menuju meja kitchen untuk membuat kopi.


“Kerjanya hanya bisa perintah. Apa kantor ini buta. Kenapa bukan dia saja yang di pecat,” gerutu Adira pelan. Akan ada masalah jika dia ketahuan mengumpat. Sungguh untuk Sari ini banyak karyawan yang tak habis pikir mengapa dia bisa bertahan di kantor ini, seakan perempuan berstatus janda anak dua ini memiliki orang dalam yang menduduki posisi penting.

__ADS_1


Adira meraih cangkir, mulai menyajikan tak lama seorang perempuan menghampiri.


“Kakak ipar,” sapa Fuji dari arah belakang. Tak lama berdiri sejajar dengan Adira.


“Kopi untuk siapa?” tanya Fuji melihat Adira.


“Kak Sari menyuruhku mengantar minuman ke ruang Ceo, padahal kan itu tugasnya” papar Adira memasang wajah cemberut.


“Ke ruang Ceo. Tentu saja dia tidak mau,” jawab Fuji santai.


“Memangnya kenapa?” tanya Adira kepo.


“Sebisa mungkin orang di kantor ini akan menghindari bertemu Ceo," papar Fuji.


“Menghindar!” ulang Adira tak mengerti.


“Iya. Pak Elgi, orang yang tegas, sedikit saja membuat kesalahan di hadapannya maka akan langsung di pecat. Sudah banyak karyawan di pecat olehnya. Jika kak Sari bertemu Ceo. Kau tahukan Kak Sari itu tidak berguna dan tidak tahu apa-apa, karena itu, dia sedang mencoba menyembunyikan diri. Agar aman,” jelas Fuji melihat ke arah perempuan bertubuh tambun yang meletakkan kepalanya di meja sedang tertidur.


Adira mengingat beberapa interaksinya dengan Elgi. Benar lelaki itu dingin dan suka berbuat sesukanya. Menyebalkan.


“Tapi mengapa aku. Berarti dia ingin aku di pecat!” protes Adira tak terima.


“Kau akan menjadi tumbalnya,” gumam Fuji.


Gurat wajah Adira terlihat tak bersemangat. Uh, mengapa harus berhadapan lagi dengannya. Bagaimana jika nanti dia membuat kesalahan dan mendapatkan masalah. Ah, menyebalkan. Adira pun bersiap ke ruangan Elgi.


Bagaimana selanjutnya?

__ADS_1


Like


Coment


__ADS_2