
Mentari pagi telah menyambut, bias cahayanya masuk melalui celah jendela, menyilaukan mata. Adira mencoba menggeliat pelan namun ia merasakan tubuhnya terasa berat, ia pun membuka kelopak mata sayu.
Adira tersentak saat penampakan paginya di suguhkan wajah tampan seorang lelaki, Adira tak menapik sungguh pagi yang indah. Ya ampun, Elgi berbaring di sebelahnya dengan tangan masih terpaut erat di pinggangnya. Semalaman dia tidur dalam dekapan Elgi. Mereka begitu dekat, bahkan Aroma wangi tubuh Elgi, begitu melekat di indra penciuman Adira.
Adira menatap lekat wajah damai Elgi yang masih tertidur pulas. Ia salah menebak, ia mengira Elgi tidak akan bisa tidur di kamarnya namun lihatlah, Elgi tidur begitu pulas seakan tak akan bangun.
Adira pun memutuskan untuk bangun. Karena sekarang Elgi berada di rumah ini maka ada banyak hal yang harus ia lakukan. Dengan perlahan dan hati-hati perempuan itu melepaskan pelukan Elgi.
Setelah berusaha Adira berhasil bebas dari dekapan Elgi. Perempuan itu pun turun memutuskan untuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Elgi terjengkit kaget, saat ia baru membuka mata, melihat sisi di sampingnya telah kosong. Adira sudah tidak berada di dalam kamar. Elgi meregangkan tubuhnya tanpa terasa wajah tampannya mengukir senyum puas mengingat untuk pertama kalinya dia tidur bersama dengan Adira, rasanya sangat menyenangkan. Lalu di mana perempuan itu kini? Elgi pun keluar kamar mencari keberadaan Adira.
Elgi sudah melangkah kan kaki ke dapur, bahkan baru saja keluar dari kamar mandi untuk membersihkan diri namun ia belum juga menemukan di mana Adira. Elgi terus menyusuri rumah mencari keberadaan Adira. Hingga netranya tertuju pada dua pemuda duduk sejajar di sofa tengah dengan tv menyala.
“Kak Ira ngak ada di rumah, dia ke pasar,” tebak Aska saat melihat Elgi yang netranya berputar mencari sesuatu.
Aska pun menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk Elgi duduk di sampingnya. Elgi mendekat melabuhkan pinggulnya di samping Aska.
“Kakak tunggu saja, sebentar lagi kak Ira pulang, kak Ira ngak lama,” ujar Aska agar, Elgi tenang.
Mendengar ucapan Aska, Andra mendengus tersenyum miring.
“Dia pasti sangat lama, kak Ira kan kalau tawar menawar lama. udah kaya aduh pantun sama penjual, belum lagi nego harga sampai penjual berlinang air mata,” cibir Andra sambil menatap ke arah tv. Sengaja dia Agar kakak iparnya ini gelisah menunggu istrinya.
Tangan Aska bergerak menyikut Andra agar diam.
“Ngak Ira ngak akan lama, dia sudah hafal seluk beluk pasar, kecuali kakak Ira ketemu ibu-ibu rempong atau kenalan teman lama,” jelas Aska.
“Nah itu dia, kak Ira akan lama, ngobrolnya bisa sampai pasar tutup,” sahut Andra sekali lagi.
Aska memutar bola mata malas. Ya ampun ada apa dengan anak ini ketus sekali. Ingat dia ini kakak iparmu.
“Karena sejak dulu mengganikan peran ibu. Kak Ira udah kaya emak-emak rempong,” seru Aska memicingkan mata ke arah si bontot yang bersikap tak sopan pada kakak iparnya sendiri.
__ADS_1
“Sejak ayah meninggal, kak Ira yang merawat kami. Sedangkan ibu menggantikan peran ayah mencari nafkah, Kak Ira bahkan berkorban besar, harus putus sekolah karena harus menjaga kami yang masih kecil. Dan sekarang banting tulang membiayai hidup dan kuliah kami, ” jelas Aska.
Elgi terdiam rasa prihatin menggelayuti perasaannya mendengar hidup miris yang di jalani oleh istrinya. Ternyata itu yang menjadi alasan pendidikan Adira terhenti dan tidak melanjutkan pendidikannya, padahal perempuan itu sangat cerdas. Ah miris sekali hidupnya.
“Karena itu jangan pernah sakiti kak Ira, dia sudah banyak menderita selama ini. Jangan sampai kau menyakitinya juga,” tambah Andra dengan nada mengayun sinis kini menatap Elgi dengan mata memicing. Dari sorot matanya terlihat jelas mengartikan awas saja kau menyakiti kakak kami.
“Tidak akan,” balas Elgi dengan wajah dinginnya.
Sejenak pandangan adik ipar dan kakak ipar ini beradu, Aska yang berada di tengah menarik napas berat. Astaga kelihatannya sifat mereka sama.
“Apa yang sedang kalian bahas!” suara lembut perempuan membuat mereka tersentak.
Adira masuk ke ruangan tengah dengan tangan membawa belanjaan, menatap ke arah sofa melihat ketiga lelaki itu, tadi saat Adira masuk ke dalam rumah ia mendengar obrolan mereka.
“Kakak,” sapa Aska dan Andra kompak berdiri melihat sang kakak kemudian berjalan mendekat meraih belanjaan Adira.
“Kakak pasti lelah istirahatlah sebentar,” ucap Andra mengarahkan Adira untuk duduk.
“Maaf jika mereka banyak bicara ngelantur, jangan dengarkan,” ucap Adira sudah sangat hafal dengan tingkah dua adik lelakinya. Adira bersandar di punggung sofa meluruskan punggungnya sejenak setelah menjelajahi isi pasar.
“Tidak, mereka anak yang baik,” sahut Elgi menatap Adira yang mengatur napas.
“Untuk apa ke pasar?” Kau pasti lelah,” ucap Elgi setelahnya meraih tisu di meja, kemudian tangannya terulur hendak mengelap keringat di kening Adira.
Mau apa dia? Adira terjengkit kaget, menegakkan tubuhnya cepat menghalau tangan Elgi untuk mendekat ke wajahnya. Namun lelaki itu menepis tangan Adira. lalu mengusap kening Adira.
Astaga. Adira membatu, menahan napas saat lelaki dingin ini mengusap keningnya, Adira dengan jelas menatap wajah Elgi. Ah, Kenapa kulkas nugget ini jadi manis sekali.
“Jangan melakukan hal seperti ini lagi,” ucap Elgi sambil terus mengusap kening Adira lembut.
Membuat Adira tersadar dia baru saja terbius dengan wajah tampan itu.
“Aku ingin kau berhenti bekerja,” ujar Elgi singkat.
__ADS_1
Adira tergelak mendengar ucapan Elgi.
Berhenti bekerja
Apa!
“Ha!” sentak Adira. Ya ampun ada apa lagi dengan lelaki ini? batin Adira bertanya. Elgi Tidak henti-hentinya mengejutkan irama jantung Adira.
“Aku akan menanggung hidupmu, kuliah adikmu, menjamin masa depan mereka, membuat mereka sukses. Kalian akan hidup dengan baik, jadi berhentilah bekerja, biar aku yang menanggung semuanya” papar Elgi akan meringankan beban Adira.
“Maaf, aku tidak bisa berhenti bekerja,” tolak Adira tidak ingin menggantungkan hidupnya dengan Elgi.
Sejak dulu dia tidak pernah menggantungkan hidupnya pada siapa pun.
“Aku tidak bisa menuruti permintaan Anda,” tambah Adira lagi.
Elgi menghela napas mendengar penolakan Adira.
“Kau istriku, sudah sepatutnya aku memberikan kehidupan yang baik untukmu, nikmatilah hidup mewah sebagai istri dari Elgi Nayaka,” tekan Elgi memasang wajah serius.
Deg
Istri
Adira mematung menatap Elgi lekat, darahnya seakan tak mengalir mendengar lelaki dingin itu menyebutnya istri. Ya ampun, Ada apa ini? Elgi si lelaki dingin yang selalu meminta menjaga batasan kini mengakuinya istri. Bukan kah di matanya Elgi dia hanya tuyul kecil. Ya Tuhan. Lelaki ini kenapa? Jerit Adira sungguh tak mengerti dengan perubahan sikap Elgi yang semakin aneh dan itu tak baik untuk kesehatan jantungnya.
***
Sebel banget dah ma novel toon main rubah urutan cerita saja. Ahh. Sya kan jadi salah kirim naskah malah nyasar ke si culun, Sya jadi kemaluaaan banget eh salah, malu banget. Sebal dah ah. Kalau gini Angga Yunanda nyapa juga bakal Sya bentak.
Like
Coment....
__ADS_1