Diam-Diam Suamiku Ceo

Diam-Diam Suamiku Ceo
Makan bersama


__ADS_3

Adira mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali memastikan jika dia tidak salah liat.Oh Tuhan benar. Udara yang mengisi rongga paru-paru Adira terasa menipis saat melihat lelaki tinggi nan tampan itu telah berada di rumahnya. Astaga, kenapa dia ada di sini? Ini sesuatu yang mustahil bagi Adira.


Otak Adira berputar keras memikirkan, bagaimana bisa lelaki itu ada di rumahnya? Namun sebelum itu Adira harus mencegah pergerakan langkah lelaki itu untuk masuk ke rumahnya lebih dalam lagi.


Adira segera bangkit dari duduknya menghampiri Elgi.


“Anda di sini,” sapa Adira panik mendekat ke arah Elgi yang hanya berdiri diam.


“Bagaimana Anda tahu rumah ini? kenapa Anda bisa ke mari?” cerocos Adira.


“Apa ada sesuatu terjadi di rumah? Apa ada yang terjadi dengan bibi Anna?” cerocosnya tanpa henti akan alasan Elgi ke rumahnya, yang jelas tak ada point untuk sengaja bertemu dirinya dalam pikiran Adira. Kulkas nugget ini kan. Tidak peduli dan menjaga jarak dengannya.


“Tidak ada,” balas Elgi singkat memutar netra mengamati suasana rumah.


“Kakak ayo cepat. Aku sudah lapar,” panggil Andra yang sejak tadi menunggu di meja makan sambil menyaksikan pasangan itu.


Adira menoleh kebelakang ke arah Andra.


“Tunggu sebentar,” tekan Adira gemas, melotot galak pada adiknya. Uhg, kalian tidak tahu bagaimana lelaki yang datang ke rumah ini. ia harus menyelesaikan urusan dengan Elgi agar dia cepat pergi dari rumah ini. Jangan sampai berlama-lama.


“Anda butuh sesuatu? Seharusnya Anda menghubungi saya tidak perlu ke rumah ini,” cerocos Adira lagi kembali pada Elgi.


“Kakak ayo, ajak suami kakak makan bersama,” ujar Aska dari kejauhan.


What


Adira tersentak kaget bak di sambar petir mendengar tawaran dari adiknya. Mengajak Elgi makan bersama ke dua adik rusuhnya. Elgi pasti menolak, makan bersama Adira saja jarang. Dia kan pemilih. Lagi pula CEO, ini pasti tidak akan selera dengan tumis kangkung buatannya.


“Tidak perlu, dia pasti sudah makan,” sahut Adira cepat.


“Aku belum makan,” balas Elgi lelaki itu pun berjalan menerobos tubuh Adira menuju meja makan. Adira membulatkan mata mendengar ucapan Elgi.

__ADS_1


Adira pun mengekori Elgi dari belakang.


“Anda yakin makan di sini?” tanya Adira.


"Emm."


"Saya hanya masak makanan sederhana, anda pasti tidak akan selera. "


Elgi terus berjalan mengabaikan Adira tidak terpengaruh sedikit pun, hingga ia telah sampai di meja makan. Adira menarik napas pasrah. Ya ampun, ada apa dengan lelaki ini? batin Adira bertanya dan lebih panik lagi mengingat menu yang tersaji tumis kangkung dan ayam goreng menu sederhana untuk lelaki yang tinggal lama di Jerman.


Empat anak manusia ini telah berada di meja makan duduk di depan menu tersaji dengan suasana seakan canggung. Ini pertama kalinya mereka berkumpul dalam suasana sedekat ini.


Adira pun berdiri di samping Elgi dengan cekatan mulai menyiapkan menu masakan di piring, mengisi piring dengan lauk lalu menaruhnya di hadapan Elgi.


“Bagaimana keadaan kalian? Maaf, Aku baru sempat melihat keadaan kalian?” tanya Elgi menatap Aska dan Andra bergantian yang duduk berdepanan dengan Elgi.


Andra hanya diam tak menjawab, memasang wajah datar. Netranya menatap sang kakak yang berdiri di samping Elgi melayani suaminya.


“Silahkan,” ucap Adira setelah menaruh piring yang telah terisi nasi dan lauk di depan Elgi. Adira hendak duduk


“Kakak tanganku sakit,” keluh Andra manja pada sang kakak memijit pergelangan tangan kanannya.


Mendengar itu Adira seketika panik bangun dari duduknya.


“Sakit. Bagaimana bisa, bukannya sudah membaik!” papar Adira cemas. Adira tidak bisa mendengar keluhan sakit dari adiknya.


“Aku tidak bisa makan,” ucap Andra lagi si bontot yang begitu manja pada sang kakak. “Suapin ya,” pinta Andra menatap Elgi dengan mata memicing tajam.


“Baiklah,” ucap Adira menarik kursinya tadi yang berada di samping Elgi, ke samping Andra. Andra tersenyum menang. Sedangkan Elgi memutar bola mata malas. Tatapan kilat penuh persaingan terlihat di antara keduanya.


Makan malam telah di mulai, tidak ada kata lagi yang terucap. Adira sibuk dengan si bontot.

__ADS_1


Elgi mendengus sebal melihat Adira begitu perhatian pada adik lelakinya. Entahlah mengapa dia panas melihat Adira lebih perhatian dengan adik lelakinya dari pada dirinya.


Makan malam baru saja usai, Adira pun berdiri, mulai memungut piring kotor lalu menumpuknya  untuk di cuci.


“Apa Kak Elgi juga akan menginap di sini?” tanya Aska.


Adira yang mendengar itu, tersentak kaget.


What


Menginap di rumah sederhana ini?


Itu tidak mungkin. Ini tawaran yang gila. Adira menjadi panik dengan pertanyaan adiknya. Apalagi jika menginap Elgi akan tidur bersamanya.


“Aska jangan berkata seperti itu, dia harus kembali,” jawab Adira cepat. “Dia harus ...” ucapan Adira terpotong.


“Aku akan menginap,” ucap Elgi bak mendapatkan angin segar mendengar tawaran itu, lalu menatap Andra dengan senyum miring, penuh kepuasan.


Apa


Jeduar


Adira membatu, tubuhnya seakan di sengat listrik jutaan volt.


Pranggg


Tanpa sadar tangan Adira yang memegang sendok jatuh di atas piring yang telah di susun. Apa! Lagi-lagi Elgi mengiyakan menginap di sini. Ini gila. Ada apa dengan kulkas nugget ini?


Like


Coment

__ADS_1


__ADS_2