
Sinar hangat mentari pagi telah menyambut. Di dapur Adira sedang sibuk berkutat dengan peralatan dapur. Seperti biasa dia sedang membuat sajian pagi.
Sudah lebih dari waktu yang di janjikan oleh bibi Anna. Namun perempuan tua itu belum juga kembali. Entah ke mana hingga Adira masih menggantikan tugas bibi Anna.
Adira berdiri di depan kompor, dengan tangan sedang mengaduk masakan di panci.
Gerakan Adira terhenti saat menyadari Elgi masuk ke dalam dapur. Ya ampun, lelaki ini kan baru keluar dari rumah sakit. Kenapa masuk ke dapur? Dengan cepat perempuan itu melangkah mendekat.
“Kenapa Anda kemari. Saya baru akan membawakan sarapan Anda ke kamar,” ucap Adira berdiri di samping meja makan.
Elgi memasang wajah abai, seperti biasanya. Terlihat tak suka dengan perhatiaan Adira.
“Tidak perlu! Bukankah kau sudah tidak ingin mengurusku!” sinis Elgi. Uhg, Elgi masih terbawa kesal saat di rumah sakit Adira pulang dan tak kembali lagi menemuinya membuatnya merasa perempuan itu sudah tidak peduli padanya.
“Itu tidak benar. Ini saya sedang membuat bubur ayam untuk Anda. Saya juga sudah membuatkan teh jahe hangat untuk Anda, itu sangat baik, dan akan membuat perut Anda nyaman,” jelas Adira masih begitu peduli dengan kondisi Elgi.
“Anda duduklah." Adira menarik kursi mempersilahkan.
Melihat Adira antusias melayaninnya. Elgi pun duduk di kursi yang di tarik oleh Adira. Kali ini dia sama sekali tidak menolak perhatian Adira. Tidak seperti biasanya.
Adira meraih cangkir teh jahe yang berada di tengah meja yang memang dia persiapkan untuk Elgi tadi. Perempuan itu pun membawanya ke hadapan Elgi.
“Ini teh jahe hangat untuk anda, minumlah sambil menunggu Bubur untuk sarapan pagi Anda siap,” ucap Adira.
“Silakan,” kata Adira mempersilahkan, menatap Elgi lekat.
__ADS_1
Elgi memasang wajah datar. Tangan Elgi pun terangkat meraih cangkir kemudian mulai menyeruput pelan teh jahe buatan Adira.
Adira tersenyum saat melihat lelaki dingin dan irit bicara itu akur meminum teh jahe hangat buatannya.
“Tunggu di sini, saya lihat bubur saya dulu,” kata Adira setelahnya meninggalkan Elgi ia pun menuju kompor untuk menuntaskan masakannya.
Adira kembali mengaduk bubur di panci, dia harus menyelesaikan masakannya cepat agar lelaki itu tak menunggu lama. Dia bisa kena semprot jika membuat lelaki itu menunggu.
Adira masih sibuk dengan panci hingga panggilan telepon dari saku celana Adira terdengar. Uhg, Adira berdecak sebal mengganggu sekali. Adira kan sedang buru-buru.
Sebelah tangan Adira pun mengangkat panggilan yang ternyata dari adik Adira.
“Hallo. Ada apa?” ucap Adira sembari sebelah tangan mengaduk bubur di panci.
“Kakak ingat pertandingan basket minggu depan. Kakak datangkan.”
“Nanti kakak telepon lagi. kakak sibuk,” balas Adira.
“Kak Ira Sibuk apa?”
“Lagi masak bubur untuk suami.”
Elgi yang sejak tadi mengamati pergerakan Adira. Sembari menyeruput teh hangat. Tersentak kaget mendengar kata suami dari mulut Adira.
Masak untuk Suami ... itu dia.
__ADS_1
Dia di sebut suami.
Elgi menyemburkan minuman dari mulut. Ia tersedak hingga terbatuk-batuk sambil memukul dadanya.
Melihat Itu Adira menjadi gelagapan. Adira pun dengan cepat segera mendekat.
“Pak Elgi. Anda Kenapa?”
Adira pun meraih tissu di meja, kemudian mengusap bibir Elgi. Adira mencemaskan wajah tampan penuh kebanggaan serta idaman para wanita itu akan terluka karena teh jahe hangat pemberiannya.
Adira membungkukkan tubuhnya di hadapan Elgi, mulai mengusap bibir lelaki itu dengan tissu.
Tanpa sadar jarak Adira begitu dekat, Elgi dengan jelas melihat wajah cantik Adira.
“Bapak tidak apa-apa?” tanya Adira terus mengusap mulut itu.
Elgi diam, tak menjawab pertanyaan Adira. Ia termenung terus menatap wajah perempuan yang baru saja menyebutnya sebagai suami. Entah mengapa ada getar perasaan aneh di dalam dirinya.
Netra Elgi beralih pada bibir Adira yang ranum. Oh astaga. Kinerja jantung Elgi semakin menggila. Pikiran liar sebagai lelaki normal mulai merasuk. Ah ini tidak boleh. Ini pikiran gila. Elgi tersadar.
“Sudah hentikan!” sergah Elgi memasang wajah dingin, menepis tangan Adira yang mengusap bibirnya. Elgi kemudian dengan cepat berdiri berlalu meninggalkan Adira.
Sedangkan Adira hanya memasang wajah bingung, kenapa lelaki itu tiba-tiba meninggalkan meja makan.
***
__ADS_1
Like
Coment