Diam-Diam Suamiku Ceo

Diam-Diam Suamiku Ceo
Kamar


__ADS_3

Adira telah berdiri di depan pintu kamar Elgi dengan nampan berisi menu makan malam di atasnya. Ada rasa gugup melikupi Adira saat akan masuk ke dalam kamar Elgi. Bayangan wajah dingin Elgi yang kesal malam itu terniang. Bagaimana suara bentakkan Elgi memenuhi ruangan. Memintanya menjaga batasan antara bos dan anak buah.


Setelah tarikan napas panjang Adira masuk ke dalam kamar.


Arah pandang Adira mengarah pada pemuda tampan yang duduk di sofa menyilang kaki telah menatapnya lekat. Seakan menunggunya.


“Permisi, saya membawakan makan malam Anda,” ujar Adira melangkah mendekat.


Elgi hanya diam hatinya berdesir hebat. Sekuat tenaga menahan irama jantung yang bertalun sejak tadi, saat melihat wajah itu lagi setelah beberapa hari tak bertemu. Gemuruh di dadanya bergejolak kuat.


Adira meletakkan nampan di meja.


“Silahkan tuan. Saya permisi,” pamit Adira setelah merasa tugasnya telah selesai, sebelum dia di usir lebih baik dia pamit lebih dulu. Apalagi sejak tadi melihat Elgi hanya diam memasang wajah datar seakan ingin menelannya. Membuat Adira bergidik.


Adira akan berbalik namun terhenti saat suara Elgi membelah suasana hening kamar.


“Mau ke mana kau!” sentak Elgi menahan langkah Adira.

__ADS_1


Adira kembali berdiri siap di hadapan Elgi.


“Ada yang kurang? Anda butuh sesuatu lagi?” tawar Adira.


Elgi kemudian bangkit dari duduknya, melangkah setapak demi setapak, mendekat ke arah Adira tanpa mengalihkan sedetik pun pandangannya dari wajah cantik perempuan itu membuat Adira yang mendapatkan tatapan seperti itu menundukkan wajah canggung.


“Kau tiba-tiba pulang ke rumahmu, tidak mengatakan apa-pun padaku!” cecar Elgi. Akan isi hatinya. ya, kejadian inilah yang membuatnya tiba-tiba merasakan perasaannya bak roller coster.


“Maaf pak semua mendadak. Adik saya harus mendapatkan perawatan beberapa hari di rumah sakit,” jelas Adira lemah merasa di hakimi oleh tatapan Elgi.


“Apa! Adikmu di rumah sakit! Hal sebesar ini kau tidak memberi tahu padaku!” sentak Elgi dengan nada tinggi lelaki itu terlihat kesal.


Adira meremmas tangannya, hanya diam tertunduk lemah. Ah, kenapa kena semprot lagi sama seperti malam itu. padahal kan dia tidak salah, untuk apa memberitahukannya. Kenapa lelaki ini marah lagi padanya. Ih, membuat menjadi serba salah saja.


“Kau tidak bisa seenakmu saja menghilang tanpa kabar, tidak ada di rumah, tidak ada di kantor. Kau pikir kau bisa berbuat sesuka hatimu,” tekan Elgi kesal. Seakan menghakimi, kini pemuda tampan itu telah berdiri tepat di hadapan Adira.


“Maaf Pak.” Hanya itu kata yang bisa keluar dari mulut Adira tertunduk lemah Elgi lagi mode CEO galak.

__ADS_1


Elgi menghela napas kasar, memutar mata malas saat melihat Adira hanya tertunduk diam mendengar kan ocehannya.


Tanpa kata lagi. Elgi mengulurkan satu tangannya melingkar di pinggang ramping Adira, lalu dengan satu kali tarikan kuat tubuh Adira merapat menghimpit tubuh Elgi. Adira tersentak mengangkat pandangan, Netranya tertuju pada wajah tampan itu.


Tatapan mereka terkunci. Elgi menatap lamat-lamat wajah perempuan yang membuat perasaannya terus bergejolak hebat, menyalurkan perasaan rindu yang selama ini tertahan.


Sebelah tangan Elgi lalu naik menjalar meraih tengkuk leher Adira hingga pandangan mereka terkunci tak bisa berpaling, tubuh Adira membeku bak tak dialiri darah, dia begitu dekat dengan Elgi. Dan tak lama. Wajah tampan itu semakin maju mengikis Jarak, hingga.


Cup


Ah astaga .... Apa yang telah terjadi? Adira tersentak membulatkan mata terkejut, saat bibir mereka bertemu. Degup Jantungnya seakan lompat keluar. Ini gila, Elgi menciumnya.


Like,


Coment ....


Segini dulu ya. Lagi mumet banget, setelah drama cucian yang meresahkan selesai, sekarang pikiran bertabrakan ma lipatan numpuk banget kaya hutang negara.

__ADS_1


__ADS_2