Diam-Diam Suamiku Ceo

Diam-Diam Suamiku Ceo
Sepi


__ADS_3

“Apa dia tidak akan pulang ke rumah lagi,” batin seorang lelaki tampan, duduk di depan layar komputer yang menyala sejak tadi bermonolog dalam hati, termenung dengan pikiran berkelana jauh. Ah sial. Sejak mengetahui Adira pulang ke rumahnya. Perasaan Elgi semakin kacau saja.


Pintu ruangan terketuk, Elgi lagi-lagi menghela napas berat saat perempuan berseragam OG masuk ke dalam ruangan. Selalu saja ada desir kecewa saat melihat Og lain yang masuk ke dalam ruangannya. Bukan seperti yang ia harapkan.


Fuji masuk ke dalam ruangan Elgi dengan nampan di tangan. Perempuan itu mengayun kaki mendekat ke arah meja.


“Permisi. Teh jahe Anda pak,” ucap Fuji lalu meletakkan secangkir teh jahe hangat permintaan Elgi.


Secangkir teh jahe pesanan Elgi seperti yang sering ia minta pada Adira. Elgi berharap jika dia memesan minuman itu maka Adira yang akan turun tangan untuk mengantarkan ke ruangannya. Kan dia tidak mungkin memanggil langsung Adira masuk ke ruangan. Itu memalukan. Pikir Elgi.


“Permisi tuan,” pamit Fuji meninggalkan meja.


Tangan Elgi meraih cangkir minuman lalu meneguknya, mengecap rasa yang ada pada minuman.


“Rasanya tidak sama,” batin Elgi setelah meneguk air di dalam cangkir.


Berarti bukan Adira yang membuatkan teh itu. Ada apa ini? Rasa penasaran menggelitik perasaan Elgi. Ada sesuatu yang harus ia tahu.


“Tunggu!” tahan Elgi.

__ADS_1


Fuji yang tinggal beberapa langkah lagi meraih pintu, menghentikan langkah. Berbalik kembali menatap Elgi.


“Saya Pak,” ucap Fuji memastikan.


“Ke mana office girl yang biasanya ke ruanganku?” tanya Elgi, Akhirnya dia membuang secuil harga dirinya untuk bertanya namun mencoba sesantai mungkin. Untuk menjaga gengsi. Tak menyebutkan nama Adira.


Fuji berpikir sejenak setelahnya


“Oh. Kakak i ...” ucapan Fuji terpotong dia baru teringat dengan siapa dia berhadapan.


“Adira, dia sudah beberapa hari tidak masuk. Dan saya menggantikannya,” jelas Fuji dengan senyum ramah.


Tidak masuk kerja juga.


Lagi Elgi terkejut dengan informasi yang ia dapatkan. Keterangan yang sama mengejutkan dengan kabar Adira pulang ke rumahnya.


“Bahkan, tidak masuk kerja juga,” batin Elgi di dalam hati, perasaannya semakin di kepung gelisah sudah tidak ada di rumah, di kantor pun tidak ada.


“Anda butuh sesuatu tuan?” tanya Fuji lagi membuat pikiran Elgi kembali.

__ADS_1


“Tidak, kau boleh pergi,” balas Elgi.


“Saya permisi tuan,” pamit Fuji dengan tubuh sedikit mmembungkuk lalu keluar meninggalkan ruangan.


“Apa dia juga berhenti bekerja untuk menghindariku, niat sekali dia,” gumam Elgi berdecak tak suka.


Ya ampun, kenapa ini, harusnya Elgi senang tidak melihat perempuan itu lagi namun kenapa sekarang dia menjadi galau seperti ini. Semenjak Adira tidak menampakkan diri, bukannya mendapatkan ketenangan ia malah menjadi gelisah, hatinya berselimut hampa.


***


Bertabur bintang menghiasi langit malam. Elgi baru saja menginjakkan kaki di rumah menyeret langkah lelah. Tak ada semangat di wajahnya.


Elgi mengedarkan pandangan. Perasaannya hampa menatap ruang tengah yang lagi sepi tanpa suara sapaan. Sudah berhari-hari dia tidak bersua dengan perempuan tuyul itu rasanya ada yang kosong dalam dirinya.


Elgi pun berjalan beralih menghempaskan tubuhnya di sofa. Menutup kelopak matanya. lagi mengingat ucapan yang ia sebutkan malam itu. Jaga batasanmu. Ah. ia menyadari ucapannya itu memang keterlaluan.


“Aku menyuruhnya menjauh bukan menghilang,” gumam Elgi. Ah hatinya semakin bergemuruh saja. rasa sesal semakin mengepung perasaannya.


Like

__ADS_1


Coment ....


__ADS_2