Diam-Diam Suamiku Ceo

Diam-Diam Suamiku Ceo
Ruangan Ceo


__ADS_3

Sinar terik matahari telah berada di atas kepala. Di kantor. Di ruangan pantry yang sepi. Adira sedang duduk di kursi, menghabiskan sisa waktu istirahat dengan termenung memikirkan sesuatu yang penting.


“Kakak ipar.” Suara membahana memenuhi ruangan di sertai tepukan di bahu membuat Adira tidak perlu berbalik. Siapa lagi yang memanggilnya dengan sebutan kakak ipar jika bukan si heboh Fuji.


Fuji duduk di kursi kosong samping Adira.


“Kakak ipar, apa yang sedang kau pikirkan!” tanya Fuji yang melihat Adira duduk termenung.


Adira menghela napas berat. “Gajian masih beberapa hari lagi,” ucap Adira lemas tentang apa yang sejak tadi mengusik pikirannya.


“Kakak ipar lagi butuh uang ya? Kalau kakak butuh uang banget kasbon saja di kantor,” saran Fuji.


Adira menyandarkan tubuh lemahnya di sandaran kursi.


“Kasbon lagi. Kau tahu kan kasbonku sudah terlalu banyak. Apalagi bulan ini aku banyak ngak masuk. Pasti kantor tidak akan memberi,” jelas Adira. Ya, dia beberapa hari tidak masuk karena merawat Elgi yang sakit pasti gajinya akan di potong.


Adira menegakkan punggungnya terlihat menemukan ide.


“Apa coba pinjol ya,” cetus Adira sedikit bersemangat.


Mendengar jalan itu Fuji tercengang.


“Huss kakak ipar, Jangan tergiur iklan di hp. Nanti terjebak bunga besar,” protes Fuji.


“Seperti biasa saja, kalau tidak bisa di kantor, langsung kasbon jalur manager keuangan. Berapa pun langsung cair. Jangan menghubungi Ada kami hubungi saja ada pak Raga,” saran Fuji dengan cengiran.


“Pak Raga,” ulang Adira terlihat berpikir.


“Iya. Pak Raga pasti memberikannya,” balas Fuji.


“Memangnya kakak ipar butuh uang untuk apa?” tanya Fuji penasaran.


“Untuk merayakan jika Aska menang dalam pertandingan basket. Besok Aska ada pertandingan basket. Dan aku ....” kata Adira terpotong.


“Ayang Aska ada pertandingan basket!” Fuji seketika bangun dari duduknya. Lalu memegang bahu Adira. “Benarkah?” tanya Fuji memastikan.

__ADS_1


“Emm. Besok!”


“Ahhh.” Suara teriakan memenuhi ruangan.


“Kakak ipar bolehkah aku ikut melihat pertandingannya, ayang Aska pasti semakin terlihat tampan di lapangan basket. Wajahnya yang basah karena keringat. Ahhh.”


Adira mendengus melihat tingkah heboh Fuji jika menyangkut tentang adiknya.


“Kakak ipar. Aku ingin menontonnya!” mohon Fuji kini memasang wajah memelas.


Adira hanya diam tidak menjawab membawa, perempuan ini pasti akan membuat heboh di sana.


“Ayolah kakak ipar aku ikut,” rengek Fuji. Membuat Adira tak tega melihat wajah itu.


“Ya, baiklah kau boleh ikut,” putus Adira.


“Yess ....” tangan Fuji meninju udara mengexpresikan rasa senangnya.


Perempuan ini kembali duduk lalu meraih ponselnya yang berada di saku celana.


“Pakai adat apa ya?”


Adira memutar bola mata malas mendengar ocehan Fuji.


“Fuji! Kau hanya menonton pertandingan basket Aska, bukan mau di nikahi,” sosor Adira sedikit kesal.


“Ini buat jaga-jaga,  persiapan, siapa tahu setelah ketemu ayang Aska, tahu-tahu hubungan kami berkembang. Menjadi serius,” ucap Fuji dengan cengiran.


“Uh, Cari uang buat resepsi pakai pinjol yang mana ya?” ucap Fuji terlihat menimbang.


Adira membulatkan mata mendengar ucapan Fuji.


“Bilangnya bunganya gede,” gumam Adira sinis menggelengkan kepala melihat kelakuan perempuan yang mengikrarkan sebagai calon adik ipar.


“Apa yang kalian lakukan!” sentak suara dari belakang. Membuat ke duanya tersentak kaget. Berbalik melihat perempuan bertubuh tambun baru saja masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


“Kalian sedang bermalas-malasan!” sosornya ketus.


“Tidak. Kami memang sedang tidak ada kerjaan,” balas Fuji.


Perempuan itu melangkah santai kemudian duduk di kursi bekas Adira.


“Baiklah kalau begitu. Jika kalian tidak punya kerjaan, aku punya banyak pekerjaan untuk kalian. Fuji pergilah ke ruangan Hrd, di sana ada tugas untuk memfotocopy laporan. Dan kau Adira pergilah ke ruangan pak Ceo antarkan minuman dan camilan untuknya,” titah perempuan itu.


Apa! Ruangan Ceo. Oh ya ampun kenapa dia lagi yang harus ke ruangan Ceo.


Adira tersentak mendengar perintah itu.


“Saya,” ucap Adira sembari menunjuk dirinya.


“Iya, siapa lagi! kau ” ketus Sari.


“Bukankah seharusnya kak Sari!” balas Adira.


“Sudah! Cepat kalian kerjakan aku tidak mau mendengarkan bantahan!” ucap Sari dengan mata melotot galak.


“Fuji saja,” saran Adira.


“Tidak ada bantahan!” Sari berdiri berjalan meninggalkan ruangan.


Adira dan Fuji pun memasang wajah kesal.


“Aku heran kenapa dia tidak jadi di pecat. Padahalah kesalahannya sangat besar. Membuat Ceo keracunan pun ngak di pecat,” gerutu Fuji melihat kepergiaan Sari.


Sedangkan Adira hanya diam.


“Ahhh. Kenapa harus aku. Pak Elgikan tidak ingin aku masuk ke dalam ruangannya. Aku akan di usir? Atau mendapatkan omelan,” batin Adira telah banyak bayangan buruk yang berterbangan di pikirannya jika ia masuk ke dalam ruangan kulkas nungget itu.


Like


Coment

__ADS_1


__ADS_2