
Malam semakin larut. Di kamar, seorang lelaki berbaring di ranjang king size, masih terjaga. Menatap langit-langit kamar dengan pikiran jauh berkelana memikirkan sebuah perasaan aneh yang menderanya beberapa hari ini.
“Apa batasanku goyah,” gumam Elgi sembari pikirannya mengulas kejadian beberapa hari terakhir yang terasa cepat dan tanpa ia sadari ada sesuatu yang sangat, sangat tak diinginkan.
***
Mentari pagi menyambut Adira telah berada di ruang makan. Menata menu sarapan pagi di meja. Semenjak Elgi keluar dari rumah sakit. Lelaki itu sudah tidak pernah menolak sarapan yang di siapkan oleh Adira.
Adira menarik senyuman, saat melihat lelaki tinggi berwajah datar itu telah menapaki anak tangga terakhir. Akan tetapi senyuman itu sirna saat melihat langkah Elgi lurus tak berbelok ke arah meja makan. Ada apa ini?
Dengan cepat Adira menghampiri Elgi.
“Selamat pagi pak,” sapa Adira dengan senyuman mengejar langkah Elgi.
“Saya sudah menyiapkan ...” kata Adira terpotong
“Aku tidak sarapan,” tegas Elgi memasang wajah dingin tak bersahabat. Setelahnya semakin melebarkan langkah keluar rumah meninggalkan Adira.
Adira menghentikan langkahnya, menatap kepergian Elgi. Ada apa lagi dengan pria itu bukankah ia sudah mau makan makanan yang di siapkan oleh Adira. Kenapa sekarang menolak?
***
Di kantor, seorang lelaki tampan berjalan penuh kharisma. Semua orang yang berpapasan menundukkan kepala, tanda hormat. Lelaki itu melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan bertuliskan manager keuangan. Sejak tadi ia uring-uringan dan memutuskan ke suatu tempat yang bisa membuat perhatianya teralihkan
__ADS_1
Elgi mendengus, saat melihat pemilik ruangan termenung sambil menggukir senyum. Ia pun mendekati.
“Apa kau sudah gila!” seru Elgi.
Raga tersentak dari lamunannya menatap lelaki berwajah datar itu dengan alis bertaut.
“Ada apa kau ke ruanganku?” tanya Raga heran.
Elgi duduk di sofa sambil menyilang kaki. Raga meninggalkan tempat kerjanya. Ikut duduk di samping Elgi.
“Aku ingin melihat laporan keuntungan perusahaan. Sebelum membahasnya di rapat besok,” jelas Elgi.
“Kenapa kau tidak menelepon saja. tidak perlu bersusah payah kemari,” jelas Raga.
“Tidak perlu!” tolak Elgi cepat. Uhg, dia kan sedang menghindari perempuan itu. Karena itulah dia kemari. Sebisa mungkin dia menghindari tuyul kecil itu.
“Apa yang sedang kau pikirkan!” tanya Elgi mengalihkan pembicaraan.
“Gajian!” jawab Raga singkat.
"Memangnya ada apa dengan gajian."
“Gajian kali ini akan terasa spesial,” ucap Raga terlihat memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Elgi memutar bola mata malas, ke ruangan ini ternyata tak membuatnya tenang yang ada jengah melihat Raga yang terus tersenyum lebar. Bak orang yang sedang kasmaran.
***
Dawai-dawai malam telah mengiasi suasana. Adira duduk di ruang tengah. Kelopak matanya begitu terasa berat. Malam begitu larut namun penguni rumah terakhir belum juga pulang. Lelaki itu begitu sibuk.
Kelopak mata Adira yang sempat tertutup terbuka kembali karena mendengar suara langkah. Itu dia. yang ia tunggu telah hadir. Adira gegas bangun dari duduknya, menyambut Elgi yang wajahnya memancarkan raut lelah.
“Selamat malam pak,” sapa Adira dengan senyum lebar seperti biasa.
Namun lelaki itu hanya diam, tak membalas sapaan Adira. Terus melangkah.
“Anda butuh ...” Lagi ucapan Adira terhenti.
“Tidak ada,” tekan Elgi singkat setelahnya berlalu melewati Adira.
Kembali Adira mengerut bingung. Ada apa lagi dengan lelaki ini? Kenapa sikapnya sama seperti semula. Dingin dan acuh.
****
Like
Coment...
__ADS_1
Otak Elgi habis di reset ulang kembali ke setelan pabrik, jadi kulkas nungget.