Diam-Diam Suamiku Ceo

Diam-Diam Suamiku Ceo
Bukan dia


__ADS_3

Di ruang rumah sakit, terlihat dua orang pemuda. Di mana satu orang berbaring di brankar dan satu lagi duduk di sisi ranjang. Beberapa luka menghiasi tubuh mereka namun rasa sakit sama sekali tak di rasakan. Yang mereka rasakan hanya ada perasaan cemas yang teramat kuat.


Ingatan mereka kembali berputar akan sebuah pesan. “Jika kalian membuat onar langsung serahin diri kalian ke dinas sosial!”


Dan kini mereka kembali membuat ulah.


“Habislah kita!” ucap Aska pelan tak bertenaga dengan kepala tertunduk, membayangkan nanti akan datang seorang perempuan dengan amarah mengerikan. Mereka pasti akan kembali di hajar.


Untungnya Aska tidak mendapatkan luka yang banyak, karena mereka lebih menyerang Andra.


“Aska, ayo lebih baik langsung serahin diri ke Basarnas minta perlindungan,” balas Andra si bontot tak kalah paniknya berbaring di ranjang rumah sakit.


“Kau ini bukan korban banjir atau longsor!” sahut Aska dengan decakan setelahnya.


“Lebih baik serahin diri ke Bmkg, akan ada gempa nanti,” tambah Aska si tampan. Membuat Andra semakin di kepung takut.


“Ah. Rasanya Kalau begini Lebih baik serahin diri ke pangkuan illahi,” sahut Andra putus asa.


Netra Andra berputar menatap ke arah ruangan melihat benda apa yang akan mendarat di tubuhnya. Andra membulatkan mata pada benda berbentuk tabung.

__ADS_1


“Aska sembunyikan benda itu. Gawat jangan sampai kakak memukul kita dengan tabung oksigen,” rancau Andra. Ya, jika kakaknya marah, tidak akan segan-segan memukul dengan apa-pun yang ia jangkau apalagi di ruangan ini tak ada sapu. Jangan sampai tabung oksigen yang melayang.


Belum Aska menjawab seorang perempuan cantik dengan pakaian tidur masuk ke dalam ruangan, penampilannya terlihat kacau. Uhg, karena mendengar kabar mengejutkan dari rumah sakit, dia hanya cuci muka dan menggosok gigi tak sempat untuk mengganti pakaian.


Suara ludah tertelan dari keduanya melihat kehadiran Adira. Akhirnya kakak galaknya datang.


“Kalian! Bagaimana keadaan kalian?” tanya Adira cemas mendekat ke arah Adiknya, meneliti tubuh adiknya satu persatu.


“Kami baik-baik saja,” balas Aska.


“Syukurlah,” ucap Adira menghela napas lega setelah melihat tubuh adik-adiknya hanya memar.


“Kakak bilang jangan membuat onar! Kenapa harus berkelahi lagi sih ...  kalau begini .....” omel Adira terhenti saat.


“Kakak sakit, terkilir, ” keluh Andra si bontot dengan nada manja, menunjukkan tangannya lebam. Mengalihkan perhatian kakaknya.


Mendengar itu Adira menghela napas berat. Jika sudah seperti ini sisi keibuannya akan bangkit. Melupakan apa yang terjadi.


“Makanya jangan berkelahi,” ucap Adira ketus namun melihat luka adiknya.

__ADS_1


Sementara itu di kantor Elgi duduk di kursi kebesarannya terlihat serius dengan layar komputer. Suara ketukan pintu terdengar. Di jam seperti ini Elgi sudah tahu siapa yang akan masuk ke dalam ruangannya. Seorang berseragam OG yang sering mengantarkan minuman dan camilan untuknya.


Elgi pun bersiap untuk bersikap abai. Dia tidak mengalihkan tatapannya dari layar persegi itu bersikap tidak peduli, jangan lupa wajah datar itu.


“Saya mengantarkan minuman untuk Anda tuan,” ucap Fuji.


Elgi menghentikan kegiatannya. Suara itu berbeda. Perhatian Elgi tersita.


Alis Elgi bertaut melihat perempuan berseragam OG itu.


“Bukan dia?” gumam Elgi sedikit heran. Biasanya kan Adira.


“Di kantor juga, dia tidak menampakkan dirinya di hadapanku,” batin Elgi.


Jika tadi pagi Elgi tersenyum saat tak melihat bayangan Adira, kali ini berbeda. Tak ada garis senyum di wajahnya.


Like


coment

__ADS_1


__ADS_2