Diam-Diam Suamiku Ceo

Diam-Diam Suamiku Ceo
Ternyata pulang


__ADS_3

Malam telah menyambut, waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. Elgi baru saja menginjakan kaki di rumah. Niatnya untuk pulang awal untuk memastikan sesuatu ia urungkan setelah berspekulasi tentang perasaanya yang mengarah ke jatuh cinta. Uhg, itu pasti salah. Karena itu Elgi lebih memilih menyibukan diri. Masa bodoh pada tuyul kecil itu. Rasa gundah ini hanya akan sementara, sebentar lagi akan menghilang.


Elgi masuk ke dalam rumah, langkahnya terhenti di ruang tengah. Pemuda itu menghela napas berat saat netra tertuju pada sofa yang kosong. Tak sesuai dengan harapannya, Tuh kan dia memikirkan perempuan itu lagi. Walau mengatakan tidak peduli. Akan tetapi jauh di ujung hati Elgi kecewa. Melihat lagi tidak ada senyum dan sapaan lembut menyambut kepulangannya.


“Selamat malam tuan,” sapa lembut seorang perempuan membuat Elgi tersentak berbalik menatap perempuan tua itu.


“Bibi Anna. Kau sudah kembali,” ujar Elgi menatap bibi Anna yang mengukir senyum lembut.


“Iya tuan. Saya kembali karena Nona Adira menghubungi saya untuk pulang mengurus tuan,” balas bibi Anna yang sempat bertukar kabar dengan Adira dari sambungan telepon. Karena itulah bibi Anna kembali untuk mengurus sang tuan.


“Anda butuh sesuatu tuan, biar saya yang akan menyiapkannya. Karena Nona Adira pulang ke rumahnya,” jelas bibi Anna.


Deg

__ADS_1


What


“Pulang!” sentak Elgi memasang wajah terkejut, bak di sengat listrik mendengar informasi yang ia dapatkan. Bagaimana bisa? Oh pantas saja dia tidak pernah melihat bayangannya itu lagi di rumah.


“Iya tuan,” balas bibi Anna singkat.


“Anda butuh sesuatu tuan?” tanya bibi Anna ulang mengalihkan pembicaraan tentang Adira. lebih baik mengurus keperluan tuannya dulu baru memberi penjelasan tentang kepulangan Adira.


“Tidak ada. Istirahatlah,” balas Elgi setelahnya melangkah meninggalkan bibi Anna menuju kamar.


Ah. Apa yang telah dia lakukan. Adira pulang ke rumahnya karena mendapatkan amarah darinya.


***

__ADS_1


Fajar akan menyinsing. Di kamar terlihat Elgi bergerak gelisah di atas ranjang king size. Sekejap pun kelopak matanya tak bisa terpejam.


“Apa ucapanku sangat keterlaluan, sampai dia pergi dari rumah,” gumam Elgi sejak tadi berpikir.


Elgi tenggelam dalam kepingan kenangan malam itu. Ketika ia meluapkan amarahnya pada Adira. uhg, ini semua karena ia tersulut rasa panas setelah melihat kedekatan tuyul kecil itu dengan sahabatnya. Akhirnya dia meledak.


“Yang kau lakukan hanya membuatku muak. Jangan pernah menungguku lagi. Ingat posisimu. Kau hanya Office Girl di kantorku.  Jadi jaga batasanmu.” Kenang Elgi.


Ah sial, Elgi berdecak. Benar, Tajam sekali ucapannya bak pisau menghunus perasaan. Kenapa dia Tega sekali dia berkata seperti itu?


Pikiran Elgi semakin jauh mengudara, irama jantung Elgi terasa terpukul kencang akan sebuah bayangan buruk. Seketika mengingat hari-hari yang telah berlalu bersama. Bagaimana ia selalu bersikap dingin dan ketus pada Adira. belum lagi ucapannya yang tajam begitu melukai hati.


“Apa dia tidak akan kembali lagi ke rumah ini?” batin Elgi memikirkan sikap abainya. Bagaimana jika ia sudah tidak bisa melihat tuyul kecil itu lagi? Oh astaga. Rasa takut berbalut cemas menjalar di perasaannya akan kemungkinan itu.

__ADS_1


***


Maaf ya, sya janji up malam ternyata ngak jadi, ketikan Sya hilang udah begadang juga. Uh. Kesel banget bawaanya emosi. Jefri Nickol aja kalau nyapa ini, Sya bentak saking kesalnya.


__ADS_2