
Adira tersentak membulatkan mata terkejut, saat bibir mereka bertemu. Oh astaga sungguh tak di sangkah. Degup jantung Adira seakan lompat keluar saat Bibir Elgi menempel di bibir ranum miliknya.
Elgi mengecup bibir Adira dengan lembut, mulai melummat merasakan kenyal dan manisnya. Elgi semakin menikmati menyesap bibir Adira meluapkan seluruh perasaan rindu yang selama ini ia miliki. Sungguh dia sangat merindukan perempuan ini berhari-hari hatinya kosong dan kini ia seakan meluapkan perasaan yang telah membuncah.
Sementara itu tubuh Adira menegang, debaran jantungnya terpompa dua kali lebih cepat, dia bak membeku di tempat, otak dan urat syarafnya seakan lumpuh, hanya bisa diam tanpa membalas saat Elgi terus menyesap, mengulum bibirnya lembut penuh perasaan.
Ya ampun, Adira bergulat dengan pikirannya. Mengapa pemuda ini menciumnya? Oh astaga ini gila, batin Adira.
Elgi melepaskan tautannya saat merasakan Adira semakin kepayahan bernapas akibat serangan mendadak yang Elgi layangkan.
Adira terengah-engah seolah kehabisan napas, dadanya terlihat naik turun. Mencoba meraup oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi rongga paru-parunya. Sedangkan Elgi wajah tampannya terlihat puas apalagi menatap wajah Adira yang memerah bak tomat.
Adira menutup mulutnya dengan punggung tangan kanan, menatap Elgi sekilas. Setelahnya berbalik, melangkah cepat keluar dari kamar tanpa satu kata pun.
Elgi mengulurkan tangan hendak menghentikan Adira namun bayang perempuan itu semakin menjauh membuat lelaki itu mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Setelahnya Elgi menatap kepergian Adira kemudian mengusap bibirnya dengan ibu jari. Sungguh dia puas telah melabuhkan ciuman pelepas rindu pada Adira.
Sedangkan Adira mengayun langkah turun ke lantai bawah. Cepat menuju kamar, sembari menutup mulutnya dengan punggung tangan.
Oh Tuhan, otak Adira belum bisa mencerna dengan baik apa yang terjadi dengan lelaki dingin itu.
Adira berjalan cepat ke kamar namun terhenti saat mendengar suara menyapa.
“Nona Anda mau ke mana? Anda tidak makan malam,” panggil bibi Anna yang menunggu Adira di meja makan.
Adira menatap bibi Anna sekilas.
Bibi Anna menatap heran Adira yang tiba-tiba menolak makan malam.
Adira menutup pintu kamar rapat, bersandar di pintu sambil mengatur napas. Demi apa-pun irama jantungnya masih terpukul kencang, ia begitu gugup. Tubuhnya masih lemah bak tak bertulang.
__ADS_1
Oh ini gila.
“Apa yang terjadi?” gumam Adira seakan tak percaya mengusap bibirnya yang masih terasa kebas bekas ciuman Elgi.
“Ada apa dengannya? Mengapa dia menciumku?” batin Adira terus bertanya. Ya ampun, Adira sangat tahu lelaki dingin itu kan sangat menjaga jarak dengannya. Bagaimana bisa melabuhkan ciuman untuknya. Ya ampun ini ciuman pertamanya.
“Ahh ini aneh,” gumam Adira heran.
Sementara itu di kamar yang luas. Terlihat Elgi berbaring di ranjang dengan posisi melipat tangan kanannya sebagai bantal sambil menatap langit-langit kamar. Kepingan kenangan mencium bibir lembut Adira terus terniang, tanpa sadar kedua sudut bibir Elgi tertarik. Rasanya ada bunga-bunga bermekaran di sudut hatinya.
Elgi tak menyangka perasaannya akan selega ini setelah melihat Adira kembali. Akhirnya dia bisa menikmati malam dengan tidur nyenyak. Sekali lagi senyum penuh kepuasan mengukir wajah tampannya.
Like
Coment ....
__ADS_1
Segini dulu ya, lagi butuh banget nih di semangatin. Pake yel-yel beda rumah.
Ngelunjak ya.