
Sinar keemasan telah mengiasi langit senja. Adira baru saja sampai di sebuah rumah sederhana dengan kantung belanjaan di tangan. Setelah pulang kerja Adira sempat mampir ke pasar untuk berbelanja bahan makanan. Rencananya hari ini dia akan kembali menginap di rumah adiknya.
Adira masuk ke dalam rumah mendapati dua adiknya duduk di sofa panjang ruang tengah dengan tv menyala.
“Kakak,” sapa keduanya kompak saat melihat Adira masuk dengan kantung belanjaan di tangan.
“Bagaimana apa masih sakit?” tanya Adira menatap Andra.
“Sudah membaik,” balas Andra sedikit menggerakan tangannya.
Adira kemudian berjalan ke sofa ikut duduk sejajar bersama dengan adiknya. Berdekatan dengan Aska yang sedang sibuk dengan ponselnya.
“Apa kalian sudah makan?” tanya Adira lagi.
“Kami belum makan malam,” balas Andra tak bersemangat.
“Tadi siang hanya makan nasi goreng buatan Aska dari nasi yang udah basi dikit, mana pakai minyak jelantah sisa bekas ikan asin lagi,” ungkap Andra si bontot akan keluhannya.
“Tapi kan baunya juga belum mencekam,” protes Aska yang bertugas sebagai tukang masak pengganti Adira jika sang kakak tidak ada di rumah.
“Itu karena ada kunyitnya jadi bikin ngeblur,” jawab Andra tak mau kalah.
Adira berdecak sebal mendengar perdebatan adiknya. Inilah salah satu alasan yang membuat Adira cemas jika meninggalkan adiknya, makan yang tidak teratur dan sembarangan.
__ADS_1
“Sudah jangan berdebat kakak akan memasak makan malam untuk kalian,” ucap Adira setelahnya bangun dari duduknya.
“Kakak menginap lagi?” tanya Andra.
“Iya,” balas Adira, berjalan membawa kantung belanjaannya menuju dapur.
Setelah setengah jam Adira telah selesai dengan masakannya.
Tanpa di panggil Aska dan Andra masuk ke dalam ruang makan akan membantu sang kakak menata meja makan. Sudah menjadi kebiasan bagi keduannya ketika sang kakak memasak mereka akan membantu untuk menata meja makan menyiapkan piring, gelas dan sendok.
“Wah kelihatannya enak sekali,” ucap Andra melihat menu makanan yang tertata dengan mata berbinar senang.
Dia atas meja telah ada lauk ayam goreng dengan tumis kangung tidak lupa sambal.
“Ayo makan,” ujar Adira duduk di kursi makan.
Tok Tok
Ketiganya saling tatap dengan alis berkerut. Siapa yang datang di jam seperti ini.
“Siapa yang datang?” tanya Adira pada sang adik, barang kali diantara keduanya ada teman yang berkunjung.
“Teman Andra kali,” sahut Aska.
__ADS_1
“Ya, Paling cewek-cewek fans Aska,” cibir Andra akan kepopuleran Aska yang di gilai banyak cewek-cewek.
“Tidak mungkin,” balas Aska.
“Aska buka pintunya,” titah Adira tak ingin keduanya berdebat lagi.
Aska memutar bola mata malas.
“Ah. Udah mau makan juga,” decaknya sebal. Pemuda tampan itu pun melangkah ke luar untuk membuka pintu.
Adira dan Andra belum memulai makan menunggu kedatangan Aska.
Tak lama Aska berjalan masuk ke dalam rumah.
“Siapa yang datang?” tanya Adira penasaran yang telah melihat Aska kembali dengan cepat. “Mencarimu atau Andra?” tanya Adira lagi tentang perdebatan mencari siapa.
Pemuda itu hanya diam tanpa kata tak membalas pertanyaan Adira, lalu sedikit menggeser tubuhnya, memperlihatkan siapa yang bertamu dan kini berada di balik tubuhnya.
Dan
Deg
Netra Adira membulat sempurna, bola matanya seakan ingin keluar dari tempatnya saat pandangannya menangkap bayangan lelaki tampan nan tinggi di balik tubuh Aska. Oh Astaga. Dia ... Kenapa dia ada di rumah ini? batin Adira terpaku.
__ADS_1
Like
Coment