
Cahaya keemasan menghiasi langit senja. Adira telah berada di sebuah rumah sederhana berwarna hijau. Perempuan itu melangkah masuk ke dalam rumah dengan membawa kantung belanjaan di tangan.
Setelah pulang kerja Adira memutuskan mampir ke rumahnya untuk melihat kondisi adiknya. Mumpung Elgi sedang tidak berada di rumah. Jadi dia menggunakan kesempatan ini untuk melepaskan rindu dengan adiknya.
“Kak Ira, Datang,” sambut dua pemuda tinggi antusias melihat Adira masuk ke dalam rumah. Mereka yang tadinya duduk di sofa seketika berhambur mendekat ke arah kakak kesayangannya.
“Bagaimana kabar kakak. Kakak baik-baik sajakan?” tanya si tampan Aska.
“Kakak baik-baik saja,” balas Adira dengan senyuman.
“Kak Ira ngak di usir suami kakak kan?” tanya Andra si bontot wajahnya cemas melihat kedatangan kakaknya. Ya, kakaknya kan, menjalankan pernikahan terpaksa, membuat pikiran buruk selalu berputar di pikiran Andra.
“Aska, perhatikan siapa tahu ada luka, awas saja, jika dia melukai kak Ira,” tambah Andra tatapan matanya kini meneliti tubuh Adira.
Adira berdecak kesal. Oh adik bontotnya ini.
“Kau ini, tentu saja tidak ada, kakak baik-baik saja,” balas Adira “Kakak kemari untuk melihat keadaan kalian. Kakak habis belanja bahan makanan untuk stok di kulkas. Sekalian kakak bawa nasi padang untuk makan malam,” jelas Adira.
“Kalian baik-baik saja kan?” Adira bertanya kabar.
“Kami baik-baik saja,” jawab ke duanya kompak.
__ADS_1
“Ayo makan.”
Ketiganya pun masuk ke dalam dapur. Aska dan Andra pun duduk di meja makan. Sedangkan Adira memilih untuk menyusun bahan makanan di kulkas.
“Kakak sudah mengisi kulkas dengan bahan makanan. Kalian harus mengolahnya menjadi masakan yang sehat dan bergizi. Jangan sering makan mie instan. Apalagi jadiin, mie pengganti sayur,” celoteh Adira seperti biasa menceramahi dua adik lelakinya.
“Mau bagaimana lagi kak. Kalau lapar tengah malam kepikirannya Cuma makan mie bukan bubur sum-sum,” celetuk Andra santai.
Adira menggeram kesal, memicingkan mata galak. Ya ampun kesabaran akan habis jika menghadapi Andra yang tidak sekalem Aska.
“Kau ini, Jangan makan mie instan terus-terusan. Ususmu tidak punya maps, nanti buntu,” gerutu Adira. Ya ampun mode galaknya akan bangkit jika sudah bersama dengan adiknya.
"Kemana Dia? Dia belum juga pulang," gumamnya berdecak kesal.
***
Setelah menghabiskan waktu bersama adiknya, Adira pamit pulang. Perempuan cantik dengan rambut tercepol ini, masuk ke dalam rumah mewah.
“Dari mana saja kau!” suara bariton terdengar.
Adira mengerjapkan mata kaget saat berada di ruang tengah, melihat penampakan bayangan seorang lelaki yang duduk di sofa sedang menatapnya lekat. Oh astaga, Bukankah seharusnya lelaki itu, masih harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Kenapa sekarang berada di rumah.
__ADS_1
“Pak Elgi,” gumam Adira kemudian melangkah mendekat.
“Anda sudah kembali. Secepat ini!” kata Adira seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Melihat reaksi Adira, Elgi memasang wajah malas, lalu melipat tangan di dada.
“Kenapa kau kaget! Ini rumahku,” sungut Elgi dengan penekanan. Oh, masih mode menyebalkan. Elgi merasa seperti di selidiki karena pulang awal.
“Aku pulang ke rumah. Karena aku mencemaskan rumahku. Akan jadi apa jika aku meninggalkannya denganmu!” alibi Elgi ketus. Setelahnya pergi meninggalkan Adira.
Ya, Elgi meyakini jika hatinya yang terus di balut gelisah saat berada di rumah sakit, karena memikirkan rumahnya. Bukan yang lain. Dan kini rasa kalut itu seketika sirna setelah berada di rumah, apalagi setelah melihat tuyul kecil itu. Entahlah kenapa ia merasa lega.
Adira menatap heran tubuh Elgi yang melangkah menjauh masih terlihat lemah.
“Aneh. Baru beberapa hari di rumah sakit dan Dia terlihat masih lemah, Kenapa dia pulang?” gumam Adira bingung.
Like
Coment
Maaf kalau ngak feel, ngak nyambung buntu banget .... banget ... banget ... udah 2 hari ini.
__ADS_1