Diam-Diam Suamiku Ceo

Diam-Diam Suamiku Ceo
Keinginan


__ADS_3

Pagi menyambut, Adira baru saja menginjakkan kaki di kantor. Setelah dua hari meninggalkan pekerjaan karena menemani Elgi di rumah sakit.


Setelah Karin datang ke rumah sakit Adira memutuskan untuk kembali ke rumah.


Dan sekarang Adira memutuskan kembali bekerja. Masalah Elgi biarlah Karin sang sekretaris yang mengurus lelaki itu. Adira merasa sudah tidak punya kepentingan untuk mengurus Elgi. Toh lelaki itu pasti lebih nyaman bersama dengan Karin yang sejak dulu ia kenal dari pada dirinya. Elgi kan, selalu mencoba menjaga jarak dan bersikap dingin padanya, sudah pasti tak akan membutuhkan kehadirannya.


Adira yang hendak masuk ke dalam ruangan pantry, terhenti di depan pintu karena di hadang oleh Fuji perempuan yang selalu mengikrarkan dirinya sebagai adik ipar dari Adira.


“Kakak ipar dari mana saja kau, dua hari ngak masuk,” ucap Fuji berdiri di ambang pintu.


Dari mana?


Adira terpaku. Alasan apa yang akan dia beri. Tidak mungkin dia mengatakan menemani Ceo di rumah sakit. Uhg, bisa gempar kantor ini dengan teriakan heboh Fuji.


“Aku tiba-tiba ada urusan keluarga,” ucap Adira dengan cengiran.


Mendengar itu Fuji seketika panik.


“Ada apa? Ada masalah dengan ayang Askaku!” cecar Fuji panik.


Adira memutar mata malas. Melihat sikap lebay Fuji jika menyangkut Aska.


“Tidak ada, hanya masalah kecil dan Sudah selesai,” ucap Adira.


Helaan napas lega terdengar dari Fuji.


Adira menerobos tubuh Fuji masuk ke dalam ruangan, menatap bingung pada perempuan bertubuh tambun yang duduk termenung di sofa panjang.

__ADS_1


“Dia kenapa?” tanya Adira melihat Sari berwajah murung.


“Oh. Dia dalam masalah besar,” balas Fuji.


“Masalah apa?”


“Dia telah membuat pak Ceo mengalami keracunan makanan. Dia benar-benar tidak becus. Bisa-bisanya dia memberi pak Ceo suhsi yang ia beli dari tempat kaki lima,” ungkapnya.


“Kali ini dia akan di pecat,” ucap Fuji dengan keyakinan.


Adira termenung. Rupanya berita tentang Elgi yang keracunan makanan telah tersebar di kantor.


“Semoga saja dia lekas pulih,” batin Adira. Walau pun kulkas nungget itu menyebalkan melihatnya sakit rasa tak tega melingkupi.


***


“Aku sudah mengupaskan buah apel untukmu, makanlah,” Suara merdu seorang perempuan membelah lamunan Elgi.


Elgi menatap Karin yang duduk di sampingnya dengan piring berisi potongan buah. Sudah sejak kemarin Karin menemani Elgi di rumah sakit menggantikan Adira. Yang sudah tidak pernah menampakkan diri di hadapan Elgi.


“Ayo makan,” ucap Karin lagi kini dengan tangan hendak menyuapi Elgi.


“Aku tidak mau,” tolak Elgi memasang wajah datar.


“Ayolah sedikit saja,” paksa Karin memasang wajah memelas.


Membuat Elgi tidak bisa menolak permintaan perempuan ini.

__ADS_1


“Berikan padaku,” ucap Elgi menyodorkan tangan kanannya meraih piring.


“Aku suap,” ucap Karin.


“Tidak perlu. Aku bisa sendiri,” tolak Elgi.


Karin menghela napas berat. Sejak tadi Elgi terus menolak perhatiannya. Ya, walau mereka sangat dekat, bak saudara dan Elgi tak bisa menolak keinginan Karin tapi lelaki itu tetap saja dingin.


“Kak Elgi harus banyak-banyak istirahat. Aku sudah membatalkan beberapa jadwal pekerjaan kakak. Aku juga meminta Raga untuk beberapa hari ini membantu menghandel perusahaan,” jelas Karin.


“Karin,” panggil Elgi menatap Karin lekat.


“Ya ada apa. Kau butuh sesuatu?” tanya Karin sigap.


“Aku mau pulang!” ucap Elgi singkat memasang wajah serius.


Karin tercengang.


“Pulang!” sentak Karin.


***


Like


Coment


Segini dulu ya ....

__ADS_1


__ADS_2