
Hari berlalu kesehatan Elgi mulai membaik. Lelaki itu telah berada di kantor, siap untuk kembali memulai kesibukan yang padat. Apalagi dia sudah banyak membuang waktu berharga karena sakit. Pasti sudah banyak pekerjaan bertumpuk menunggunya.
Elgi memulai pekerjaan dengan mengecek laporan dari layar komputernya.
Kegiatan Elgi terhenti sejenak. Perhatian Elgi tertuju pada pintu yang terbuka menampakkan Raga yang sedang berkunjung melihat keadaan Elgi.
“Kau sudah ke kantor. Apa kau sudah baik-baik saja!” ucap Raga berjalan mendekat kemudian duduk di kursi kosong di depan meja Elgi.
“Emm,” balas Elgi dengan deheman kembali menatap ke arah layar.
“Syukurlah,” ucap Raga dengan helaan napas terdengar lega.
“Lain kali jika kau butuh sesuatu katakan pada Og bernama Adira. Dia Og terbaik dan tidak akan melakukan kesalahan,” saran Raga.
Adira.
Elgi memikirkan bayangan tuyul kecil itu. Lalu menghela napas berat, karena menghindari perempuan itu ia menjadi keracunan makanan.
Elgi menghentikan kegiatannya kini fokus pada Raga, teringat sesuatu.
“Apa kau sudah memecat Og yang membuatku keracunan makanan itu?” tanya Elgi memasang wajah dingin.
“Belum,” jawab Raga singkat.
__ADS_1
“Kenapa kau belum memecatnya!” cecar Elgi.
“Kau yakin?” tanya balik Raga terlihat sangsi.
“Tentu saja. Kinerjanya sangat buruk, berani-beraninya dia memberikanku makanan kaki lima, itu kesalahan sangat fatal,” decak Elgi kesal mengingat beberapa hari ia tidak berdaya.
Bagi Elgi siapa pun yang bekerja tidak baik dan membuat kesalahan di kantornya harus di pecat. Elgi adalah ciri bos pekerja keras yang sangat menuntut kesempurnaan.
“Pecat dia!” kata Elgi tegas.
“Tapi El. Dia ... Janda anak dua itu. Yang selama ini dia bekerja di kantormu,” jelas Raga penuh maksud.
Elgi terbungkam, tak bisa berkata mendengar penjelasan Raga, jika sudah seperti itu mau apalagi.
***
Malam telah larut Elgi baru saja pulang menginjakkan kaki di rumah setelah melalui hari panjang. Hari ini begitu banyak pekerjaan.
Elgi masuk ke dalam rumah, melalui ruang tengah, seperti biasa ia melihat penampakan perempuan cantik, bertubuh mungil, duduk di sofa sambil menatap tv. Jangan lupa dengan sari kacang hijau yang telah di seruput.
Adira yang menyadari kehadiran Elgi seketika bangun dari posisi duduknya.
“Anda sudah kembali!” sambut Adira mengukir senyum berdiri.
__ADS_1
“Emm,” balas Elgi dengan deheman di sertai wajah datar yang telah menjadi ciri khasnya. Kali ini Elgi tidak berlalu lelaki itu terdiam di tempat menatap lawan bicaranya.
“Anda butuh sesuatu?” tanya Adira asal seperti biasa.
Setelahnya Adira berbalik hendak meninggalkan ruang tengah menuju kamar. Sama seperti sebelumnya lelaki itu pasti menolak perhatiannya. Dan acuh padanya.
“Aku ingin teh jahe!” ucap Elgi singkat.
Apa! Bagaimana-bagaimana tadi?
Adira tersentak, mengerjapkan mata kaget, menghentikan ayunan langkahnya niatnya ke kamar terhenti. Lelaki itu bicara padanya.
Adira dengan cepat berbalik menatap Elgi dengan tatapan bingung. Ya ampun. Tumben sekali. Baru kali ini lelaki itu meminta sesuatu padanya.
***
Like
Coment ...
Nyahut juga nih. Kulkas nungget.
Sejauh ini makasih udah Like, Vote, Coment terutama yang koreksi typoku, bahasaku, makasih banyak banget ya. Sya terbantu banget. dengan Ereksii eh salah, Koreksi kalian ... Lagi ya.
__ADS_1
Maaf ngelunjak ...