
Sinar mentari pagi menyapa. Adira telah mengenakan seragam Og bersiap untuk bekerja. Namun sebelum meninggalkan rumah. Perempuan cantik ini mendudukkan tubuhnya di ruang tengah. Netranya menatap ke arah tangga. Sebenarnya Adira sudah ingin berangkat kerja, namun dia harus Menunggu sang pemilik rumah turun untuk memastikan Elgi memulai hari dengan sarapan.
Ya, selama bibi Anna tidak ada di rumah. Adira akan menggantikan tugas bibi Anna mengurus rumah dan keperluan Elgi. Pagi-pagi sekali Adira telah membersihkan rumah, kini tugas yang lain coba ia kerjakan yaitu melayani sang tuan rumah.
Seperti pagi sebelumnya Adira telah menyiapkan sarapan pagi di meja makan. Adira tidak peduli jika Elgi kembali menolak masakannya, yang penting dia telah berniat baik menggantikan tugas bibi Anna.
Adira bangun dari duduknya saat mendengar derap langkah dari anak tangga. Yang ia tunggu telah menampakkan diri. Lelaki tampan dengan stelan jas berwarna abu-abu membalut tubuh tingginya. Ah, selalu saja sempurna.
“Selamat pagi pak,” sapa Adira dengan senyum ramah.
Elgi hanya diam, tak membalas. Seperti biasa wajah itu datar tak bersahabat.
Elgi berlalu meninggalkan Adira.
“Anda tidak sarapan sebelum ke kantor pak!” ujar Adira lagi mengingatkan.
Tak ada jawaban dari Elgi. Ia hanya membulatkan mata galak ke arah Adira. Netra itu seakan mengatakan jangan ikut campur urusanku. Sama seperti yang sering pemuda itu ucapkan pada Adira.
Mendapatkan tatapan tajam Adira menjadi cicit. Tertunduk untuk menghindari tatapan mengerikan dari Elgi. Dia tidak mau mencari masalah dan didamprat oleh pemuda dingin ini.
Adira mendesahkan napas ke udara saat melihat bayangan Elgi telah hilang. Uhg, menyebalkan sekali kan dia.
Adira kan, hanya mencoba menjalankan pesan bibi Anna untuk mengurus tuan kesayangannya.
***
Elgi baru saja menginjakkan kaki di kantor. Lelaki tinggi itu masuk ke dalam ruangan di ikuti oleh Karin yang membawa catatan. Sang sekretaris telah siap menjelaskan apa saja agenda yang akan di jalani Elgi sebagai pemimpin perusahaan.
Elgi duduk di kursi kebesarannya.
“Hari ini ....”
“Bawakan roti gandum dan segelas jus buah untukku,” sela Elgi.
Karin kembali menutup buku agenda mendengar permintaan Elgi. menatap heran.
“Kau belum sarapan?” tebak Karin.
__ADS_1
“Emm,” balas Elgi dengan deheman.
“Ada apa dengan bibi Anna? Apa dia sakit?” tanya Karin.
“Tidak. Bibi Anna tidak ada di rumah, dia sedang ada urusan” jelas Elgi.
Karin pun mengangguk mengerti setelahnya keluar dari ruangan mengurus pesanan Elgi.
Elgi pun beralih membaca beberapa laporan sembari menunggu pesanannya datang. Tak lama suara ketukan terdengar. Membuat perhatian Elgi ke arah pintu.
Terlihat seorang gadis cantik dengan nampan di tangan masuk ke dalam ruangan.
Iris mata Elgi berpendar malas melihat perempuan itu. Ya ampun, di rumah, di kantor masih juga bertemu. Dia sudah bersusah payah menghindari sarapan di rumah malah perempuan ini lagi yang membawakan makanan untuknya.
“Kau lagi!” sergah Elgi melihat lagi-lagi Adira berada di ruangannya.
“Saya mengantarkan roti gandum dan jus buah pesanan bapak,” jelas Adira lalu menata pesanan di meja.
“Dari banyaknya office girl kenapa hanya kau yang terus berada di ruanganku!” cecar Elgi.
“Kau sengaja ya, mencari perhatianku!” tuduh Elgi.
Adira tersentak mendengar tuduhan yang di layangkan Elgi. Adira kan, juga terpaksa masuk ke dalam ruangan ini karena senior Sari yang tidak berguna itu dan tidak tahu apa-apa, selalu saja memaksanya dan mengancam akan membuatnya di pecat. Dan lagi pula tidak ada yang mau bertemu dengan bos tegas dan kejam seperti Elgi. Hingga Adira yang selalu menjadi tameng untuk anggota yang lain.
“Tidak pak,” sangkal Adira cepat. “Saya ....” kalimat Adira terpotong.
“Keluar ...” usir Elgi dingin.
Adira menyeret langkah lemah keluar dari ruangan Elgi. Enak saja lagi-lagi dia tuduh mencari perhatian sang bos. Ah, menyebalkan sekali kulkas nungget itu. Decak Adira di dalam hati.
***
Cahaya terik matahari telah naik di atas kepala. Di ruangan Ceo, Elgi masih begitu sibuk dengan layar komputer berkutat dengan banyak laporan hingga tak menyadari jika saat ini telah memasuki waktu makan siang.
“Elgi sudah waktunya makan siang. Kau ingin makan apa? Ayo kita makan siang di luar,” ajak Karin berdiri di samping Elgi.
“Aku sedang sibuk,” balas Elgi tanpa menatap Karin.
__ADS_1
“Pesankan saja makan siang untukku!” lontar Elgi.
“Kau ingin makan apa?” tanya Karin.
Sejenak tangan Elgi berhenti menari di tombol keyboard mulai berpikir. Tak lama.
“Aku ingin makanan Jepang,” ujar Elgi.
“Makanan Jepang! Nigiri Sushi.”
“Emm.”
“Baiklah. Aku akan menyuruh bagian pantry untuk menyiapkan pesananmu,” ujar Karin hendak keluar namun terhenti saat Elgi membuka kata.
“Oh iya. Jangan menyuruh office girl itu ke ruanganku. Aku tidak ingin melihatnya di ruanganku lagi. Perintahkan og lain,” tekan Elgi.
Karin mengerti siapa yang di maksud oleh Elgi.
“Baiklah. Aku akan meminta kepala pantry untuk langsung menyediakan pesananmu.”
Karin pun keluar dari ruangan Elgi untuk mengurus pesanan Elgi.
Kurang dari 45 menit pesanan makan Elgi telah datang. Kali ini perempuan bertubuh tambun masuk ke dalam ruangan Elgi. Bukan Adira lagi. Ya sesuai permintaan Elgi. Adira sudah tidak boleh masuk ke dalam ruangannya.
“Ini makanan pesanan bapak,” ucap Sari sebagai Og senior akhirnya terjun langsung untuk menyiapkan pesanan Elgi. Ini semua karena perintah mutlak Karin yang membuatnya tak berkutik. Tak bisa menyuruh og yang lain.
“Silahkan pak. Saya permisi dulu,” pamit Sari melangkah cepat keluar ruangan.
Sementara itu Elgi menarik senyum miring melihat bukan Adira yang mengantarkan pesanannnya.
Dengan hati puas. Elgi mulai menikmati makanan pesanannya. Menyumpit gumpalan nasi dengan seafood mentah diatasnya. Sejenak alis Elgi berkerut merasakan ada sesuatu yang aneh dari indera pengecapnya. Rasanya berbeda dari yang sering ia rasakan. Akan tetapi rasa aneh itu, menghilang saat perhatian Elgi teralihkan ketika melihat laporan di layar komputer. Dia harus cepat menghabiskan makanannya agar ia dapat fokus meneliti laporan itu.
Cahaya jingga telah menghiasi langit sore. Elgi yang masih berkutat dengan banyak laporan namun entah secara mendadak ia merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Kepalanya seketika terasa berat. Perutnya terasa seperti di aduk.
“Kenapa kepalaku terasa berat? Ada apa dengan tubuhku?” batin Elgi dalam hati.
***
__ADS_1
Nah kan pusing. Gimana. Kalau Elgi di bikin meninggal aja ...