Diam-Diam Suamiku Ceo

Diam-Diam Suamiku Ceo
Sakit


__ADS_3

Malam semakin sunyi. Waktu ternyaman untuk insan terlelap, terlena dalam mimpi. Tapi tidak dengan seorang lelaki yang baru saja keluar dari kamar mandi. Berjalan sempoyongan memegangi kepalanya yang terasa berat.


“Ada apa denganku,” gumam Elgi.


Sudah berkali-kali Elgi ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Ada yang salah pada tubuh Elgi. Sejak tadi perutnya terasa melilit, ia sangat mual dan kepalanya terasa menahan beban berpuluh kilo


Elgi berjalan pelan, sambil meraba dinding kamar agar tidak terjatuh. Ia mencoba berbaring kembali ke ranjang. Karena malam telah larut. Elgi memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter besok pagi saja.


***


Pagi telah menyambut, sinar matahari semakin naik. Adira sedang duduk di ruang tengah. Terlihat menunggu. Untuk kesekian kalinya menatap ke arah jam yang tergantung di dinding.


Waktu telah menunjukkan hampir jam masuk kantor. Akan tetapi Elgi belum juga menampakkan diri.


Ini aneh.


Tidak seperti biasanya, Elgi terlambat. Wajah datar itu belum terlihat sejak tadi.


“Kenapa dia belum turun,” gumam Adira terus menunggu sambil melihat ke arah tangga.


“Dia tidak ke kantor?”


"Apa dia belum bangun?"


Kilas ingatan Adira terkenang kejadian semalam di mana ia menahan tubuh Elgi yang hampir terjatuh.


“Apa benar dia sakit,” gumam Adira mengingat wajah pucat Elgi.


“Aku akan melihat keadaannya.” Adira bermonolog sendiri.


Setelah menimbang, Adira memutuskan naik ke lantai menuju kamar Elgi untuk mencari tahu apa yang terjadi.

__ADS_1


Untuk sesaat Adira terdiam di depan pintu kamar. Dia sudah membayangkan apa yang terjadi jika dia masuk ke dalam kamar Elgi. Dia akan mendapatkan ucapan tak mengenakan dari lelaki dingin ini. Ugh, membuat dilema saja, satu sisi jiwa kemanusiaannya ingin tahu apa yang terjadi, satu sisi takut terkena damprat dari kulkas nungget itu.


Lama berpikir Akhirnya, tangan Adira terulur memutar knop pintu. Mencoba membuka pintu kamar Elgi.


Kepala Adira sedikit menyembul dari balik pintu untuk memastikan situasi.


Suasana kamar Elgi terlihat sepi. Netra Adira bergeser menatap ke arah ranjang. Di sana terlihat Elgi terbaring di ranjang dengan selimut tebal membungkus tubuhnya.


"Dia masih tidur," gumam Adira heran.


Adira berjalan mendekat ke arah ranjang. Terdengar suara rintihan dari sana. Membuat Adira semakin ingin melihat keadaan Elgi.


Oh astaga. Terlihat Elgi mendekap selimut erat, seperti orang yang sedang menggigil kedinginan.


“Pak Elgi, Anda kenapa!” pekik Adira melihat Elgi yang terlihat menggigil kedinginan dengan mata tertutup.


Mendengar ada suara di kamarnya. Elgi membuka kelopak mata sayu.


Wajah pucat Elgi memancarkan tak suka melihat kehadiran Adira di kamarnya.


“Mau apa kau di kamarku!” sentak Elgi.


“Anda sakit.” Adira semakin mendekatkan tubuhnya di pinggir kasur.


Melihat Adira mendekat, Elgi pun bangun duduk di ranjang mengambil ancang-ancang.


“Keluar. Pergi dari sini!” usir Elgi.


Bukan mendengar ucapan Elgi. Adira malah duduk di tepi kosong di sisi Elgi. Tanganya terulur hendak menyentuh kening Elgi. Namun melihat tangan Adira dengan cepat, Elgi sigap.


“Jangan menyentuhku!” tolak Elgi memperingatkan dengan tatapan tajam. Menepis tangan Adira.

__ADS_1


Adira menghela napas berat. Ya ampun, masih saja menyebalkan.


Tak mengidahkan ucapan Elgi. Tangan Adira kembali terulur menyentuh kening Elgi. Kali ini Adira berhasil. Elgi terdiam, saat tangan itu telah berada di keningnya


“Panas sekali,” ucap Adira merasakan suhu tubuh Elgi.


“Anda demam. Anda harus ke dokter,” ujar Adira.


“Tidak usah sok peduli. Aku mati pun, itu bukan urusanmu!” balas Elgi ketus.


“Pergi dari sini!” usir Elgi lagi.


Oh astaga, walau sudah lemah masih saja menyebalkan.


“Tapi bapak harus ke dokter!” kekeh Adira. Melihat wajah Elgi sangat pucat, dan lemah membuat Adira menjadi khawatir. Apalagi hanya dalam semalam kondisi Elgi cepat sekali memburuk. Itu berarti butuh penanganan yang intens, bukan hanya sekedar memanggil dokter ke rumah. Adira takut terjadi sesuatu pada lelaki itu. Apalagi hanya mereka berdua di rumah ini. Adira merasa bertanggung jawab. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan tuan pemilik perusahaan ini.


“Saya akan membawa Anda ke dokter!” putus Adira.


Setelahnya mendekat meraih tangan Elgi. Hendak memapah tubuh tinggi itu keluar dari kamar.


“Hei! Aku bilang jangan menyentuhku! Jaga jarak denganku!” protes Elgi tak terima.


“Bapak harus mendapatkan penanganan yang baik,” ucap Adira. Kali ini dia tidak mendengarkan ucapan lelaki dingin itu. Menghadapi Elgi memang butuh sikap keras.


Elgi pun pasrah saat Adira memapah tubuhnya ke luar kamar. Dia sudah tidak punya tenaga untuk menolak apa-pun yang di lakukan padanya.


****


Sekalian Adira, minta otaknya di keteter ma dokter.


Segini dulu ya kalau ngak buntu malam di lanjut. Maaf ya hiatus dua tahun bikin nulis kagok lagi. Suka buntu .... harap maklum.

__ADS_1


__ADS_2