
Adira masih berada di rumah sakit. Menjaga Elgi yang kembali tertidur setelah meminum obat.
Adira yang duduk di sofa, segera bangkit dari duduknya setelah melihat ada pergerakan dari arah brankar. Elgi telah bangun dan lelaki itu terlihat mencoba untuk turun dari ranjang. Dengan cepat Adira menghampiri.
“Anda mau ke mana pak?” tanya Adira.
“Kamar mandi,” jawab Elgi singkat kakinya telah hampir menyentuh lantai.
Ya, tidur nyenyak Elgi terganggu saat merasakan panggilan alam yang terasa mendesak. Dia harus menuntaskannya.
“Mari saya bantu,” ucap Adira sebelum itu meraih botol infus yang menggantung di tiang.
Elgi tercengang. Ini Gila! Ke kamar mandi pun dia dibantu. Dia tidak lumpuh.
“Tidak perlu!” tolak Elgi cepat, lalu turun dari ranjang.
Adira tak menghiraukan penolakan Elgi, dengan cepat Adira meraih tangan Elgi menaruhnya melingkar di pundak.
“Aku bilang tidak perlu!” nada Elgi sedikit meninggi. Uhg, gemas sekali dia. Sejak tadi tidak ada satu pun ucapannya di dengar kan oleh Adira.
“Anda masih lemah,” papar Adira.
Tubuh mungil Adira telah menempel di pinggang Elgi.
“Tubuhmu yang sekecil tuyul itu, akan kesulitan memapahku,” cibir Elgi si pemilik tinggi 188cm meremehkan Adira yang memiliki tinggi 155cm agar perempuan itu menjauh darinya.
__ADS_1
Mungkin Elgi tidak ingat jika si tuyul inilah yang membawanya ke rumah sakit.
Adira mulai melangkah tak peduli.
Elgi memutar bola mata malas, terus berdecak sebal dengan aksi Adira.
Dua insan ini telah berada di depan pintu kamar. Dengan sigap Adira membuka pintu.
Elgi diam di tempat belum juga masuk ke dalam.
“Apa kau juga ingin masuk!” sinis Elgi terdengar menyindir.
Adira tersentak. Dia baru ingat. Ya, ampun. Ini kan Elgi si kulkas nugget bukan Adiknya. Adira memang telaten jika dalam hal merawat orang sakit.
Setelah beberapa saat Elgi telah keluar dari kamar mandi. Adira kembali sigap memapah Elgi kembali ke brangkar.
“Apa Anda masih pusing?”
“Apa perut Anda terasa sakit?” tanya Adira.
Tak ada jawaban dari Elgi. Lelaki itu memilih berbaring.
Niat Elgi untuk menutup mata diurungkan, ia tersentak saat melihat Adira berpindah posisi duduk selurus dengan kakinya.
“Kau mau apa lagi!” sosor Elgi saat melihat tangan Adira kini telah berada di kakinya. Perempuan ini pasti akan melakukan sesuatu lagi.
__ADS_1
“Saya akan memijat kaki Anda!” ujar Adira setelahnya mulai memberikan pijat di betis belakang Elgi.
“Hei! Kau tidak perlu melakukan itu!” seru Elgi mencoba menarik kakinya namun Adira kuat menahannya. Ahg, Elgi rasanya frustrasi.
"Di sini ada titik yang dapat mengurangi sakit perut. Anda diam saja,” ujar Adira.
Mendengar itu Elgi memasang wajah cemberut, tapi tubuhnya mematung menikmati pijatan Adira. Jujur perutnya memang sedang tidak enak. Tapi tidak mungkin dia mengatakan pada Adira. Tapi nyatanya. Tuyul ini tahu juga, gumam Elgi di dalam hati.
Elgi menutup mata menikmati pijatan Adira tak lama dia terlena masuk ke alam mimpi.
***
Pagi menyambut, mentari telah bersinar dengan terang. Perlahan Elgi menggeliat membuka mata. Elgi mengerjap berkali-kali saat melihat ada kepala di samping sisi kasurnya.
“Dia masih di sini!” gumam Elgi melihat Adira tertidur di kursi dengan kepala bersandar di kasur. Elgi tak menyangka jika perempuan ini menemaninya semalam. Melihat Adira yang telaten mengurusnya, dia seperti melihat perhatian seorang ibu. Telah lama dia tidak mendapatkan perhatian seperti ini.
“Kenapa dia begitu peduli denganku?” gumam Elgi menatap wajah Adira yang terlelap damai di samping Elgi.
***
Like,
Coment.
Oh iya kalau ada typo yang merusak kalbu, kesalahan tanda baca, bahasa ngak jelas yang mengganggu ketenteraman para warga. Coment ya entar di perbaiki.
__ADS_1