
Dengan nampan di tangan Adira telah berada di depan ruangan Elgi. Seperti biasa menyiapkan diri jika akan masuk ke dalam ruangan pak Ceo itu. “Kenapa harus aku sih,” sesal Adira. Selalu itu yang terucap saat ia akan masuk ke ruangan Elgi. Setelah menyiapkan diri Adira pun masuk ke dalam ruangan itu.
Adira masuk ke dalam ruangan, menatap Elgi yang sedang berkutat dengan banyak laporan di meja kerjanya.
Elgi mengalihkan perhatiannya dari map laporan saat menyadari ada yang masuk ke dalam. Sekilas pandangan mereka bertemu.
“Permisi pak. Saya membawakan minuman dan cemilan untuk bapak,” ucap Adira dengan senyuman ramah ia sedang bertemu dengan bos.
“Hemm,” balas Elgi dengan deheman. Kan, hanya itu kata andalan lelaki dingin itu. Setelahnya Elgi kembali membaca kertas-kertasnya, bersikap acuh.
Adira berjalan mendekat ke meja kerja Elgi. Setelahnya tangannya akan menurunkan mug berisi minuman.
“Permisi pak,” ucap Adira. Di luar dugaan, Elgi menggeser laporan yang ia baca seakan mengatur posisi agar mug dan piring itu mendekat padanya. Setelahnya mengarahkan sebelah tanganya untuk memberi tanda di mana mug dan piring itu di taruh.
Adira terlihat bingung. Astaga bukan ini yang ada di bayangan Adira. Baguslah decak Adira di dalam hati.
Selama Adira melakukan tugasnya. Elgi hanya terdiam tanpa bahasa, tak ada kata ketus, marah yang terlontar. Hanya ekor matanya melirik kegiatan Adira. Ya, Elgi terlihat membaca laporan tapi ujung pelupuk matanya tertuju pada Adira. Entahlah, tiba-tiba ia tidak tertarik pada laporannya. Lebih tertarik mengamati pergerakan Adira yang berada di dekatnya.
“Permisi pak,” pamit Adira sedikit membungkukan badan setelahnya berjalan ke luar ruangan.
Adira mengerutkan alisnya saat berada di luar ruangan.
“Aku tidak di usir. Dia tidak kesal,” gumam Adira bingung sendiri dengan sikap Elgi.
__ADS_1
***
Hari ini adalah hari minggu, waktunya bersantai. Hari libur ini akan Adira habiskan untuk menonton pertandingan basket Adiknya.
Adira sedang menatap penampilannya di cermin besar. Sesekali memutar tubuh yang kini berbalut dres bunga di sebawah lutut. Penampilannya terlihat sempurna dengan rambut kali ini bebaskan tergerai. Uhg, dia jarang berpenampilan seperti ini, dia terlihat seperti anak Abg.
Kegiatan Adira di depan cermin terhenti saat dering ponselnya berbunyi. Perempuan itu berdecak sebal setelahnya meraih ponselnya.
“Fuji ini genap ke sepuluh kalinya kau menelponku!” sembur Adira kesal.
“Kakak ipar cepatlah.”
“Iya tunggu sebentar. Aku juga harus berdandan biar seperti gadis-gadis kampus. Biar mereka ngak malu.”
“Aku sudah menunggu dua jam.”
“Kau. Siapa yang menyuruhmu datang secepat itu.”
“Aku sudah tak sabar melihat ayang Askaku bertanding.”
“Kau ini berlebihan sekali.”
“Cepatlah.”
__ADS_1
“Iya.”
Panggilan terputus Adira mengerucutkan bibirnya. Setelahnya menyambar tas. Jika dia tidak segera pergi Fuji akan terus menerornya.
Sebelum berangkat Adira, melangkah ke dapur, menuju kulkas. Adira berniat, meminum minuman kacang hijau favoritnya karena saat ini dia sangat lapar, ia memutuskan menunda makan karena dia sudah berencana akan makan bersama dengan adiknya untuk merayakan kemenangan adiknya. Dan itu tentu saja dari uang hasil kasbon dari pak Raga. Ya, adira berhasil mendapatkan pinjaman dari lelaki itu.
Adira membuka kulkas namun belum juga tangannya terulur mengambil sari kacang hijau. Kembali ponselnya berdering.
Dret .... Dret ...
“Fuji,” decak Adira kesal. Cepat meraih minuman lalu menutup pintu kulkas.
Adira Berjalan cepat ke luar. Akan tetapi Adira terjengkit saat ia hampir saja menabrak Elgi yang baru saja masuk ke dalam dapur.
“Pak Elgi,” sapa Adira.
Deg ...
Elgi yang baru saja berolahraga dan ingin minum air dingin ini terpaku di tempat. Netranya menatap Adira lekat yang mengenakan dress bunga, kali ini rambutnya tak tercepol seperti biasa, tergerai indah. Tuyul kecil ini terlihat sangat berbeda dari biasanya. Kecantikan wajah itu berlipat. Kelopak mata Elgi tak berkedip sedikit pun menatap wajah cantik Adira. Seolah terbius.
“Pak Elgi, saya ada acara pak,” pamit Adira.
Tak ada kata dari Elgi, lelaki terus mengamati Adira lekat.
__ADS_1
“Saya pergi dulu pak,” pamit Adira terburu-buru karena panggilan telepon Fuji. Setelahnya pergi meninggalkan ruangan karena ponselnya lagi-lagi berbunyi. Sedangkan Elgi masih berdiri di tempat menatap kepergiaan Adira. Tangannya kemudian terulur memengang dadanya. Entah mengapa ada gelenyar aneh menjalar di dalam dadanya setelah melihat penampilan tuyul kecil itu.