
Matahari telah tenggelam. Setelah menikmati makan malam dan mencuci peralatan makan. Adira meninggalkan dapur. Berjalan ke ruang tengah dengan ponsel di telinga. Ia sedang bertukar kabar dengan sang adik.
“Jaga diri kalian baik-baik. Jangan banyak begadang nanti kalian kena tipes,” ucap Adira sembari berjalan ke arah ruangan tengah. Tempat menunggu kepulangan Elgi.
“Iya kak.”
“Ingat! Jangan cuci tangan di dispenser!”
“Setelah makan gorengan jangan lap di gorden!”
“Kalau buka kulkas, tutup dengan rapat, jangan sampai airnya ke mana-mana.”
“Jangan menaruh sendok nasi di mejikom,” pesan Adira bawel. Ya, memiliki dua adik laki-laki bukan hal mudah untuk mengatur tingkah laku mereka.
“Iya. Kak.”
“Jangan ...” ucapan Adira menggantung, saat mendengar derap langkah kaki berjalan ke arah ruang tengah.
“Nanti kakak telepon lagi,” ucap Adira memutuskan sambungan telepon, setelahnya memasukkan ponsel di saku celana.
Adira menatap sekilas jam yang tergantung di dinding yang baru menunjukkan pukul 7 malam. Ini masih terlalu awal.
Mungkinkah dia sudah pulang ....
__ADS_1
Dan benar saja.
Alis Adira bertaut heran, saat melihat pemuda tinggi berwajah dingin itu telah berada di rumah. Tidak seperti biasa yang selalu pulang di larut malam.
Ada apa ini? “Tumben pulang awal,” batin Adira bertanya.
“Anda sudah kembali pak,” sapa ramah Adira.
Elgi menatap Adira sekilas yang menyambutnya dengan senyuman.
Ya, ampun. Lagi dan lagi perempuan itu berdiri di ruangan tengah. Pulang awal mau pun terlambat sama saja. Adira pasti akan menyapanya saat pulang ke rumah. Elgi mendesah napas. Ah sudahlah. Dia tidak peduli. Ia terus berjalan, tidak punya tenaga membalas sapaan Adira.
Elgi memutuskan untuk pulang lebih awal, karena merasa ada yang aneh pada dirinya, kepalanya mendadak terasa berat. Tubuhnya lemah. Karena itulah ia memutuskan pulang awal untuk beristirahat. Mungkin dia kelelahan setelah beberapa hari terus lembur. Dengan istirahat awal mungkin dapat membuat tubuhnya kembali segar. Itu pikir Elgi.
Adira sedikit merasa aneh melihat gerakan Elgi yang sedikit berbeda. Lelaki dingin itu melangkah lemah, terlihat sempoyongan. Wajah tampannya pun terlihat memucat.
Lagi Elgi hanya diam tak menghiraukan sapaan Adira. Ia terus berjalan hendak melalui Adira. Saat hendak menerobos tubuh Adira.
Cengkraman kuat begitu terasa. Ah ... Kepala Elgi seakan ingin meledak, ia memejamkan kelopak mata kuat. Agar rasa sakitnya sedikit berkurang. Akan tetapi tubuhnya seketika oleng. Dan kehilangan keseimbangan.
Melihat itu Adira tersentak. Oh tidak kulkas nungget ini akan jatuh.
“Pak Elgi,” seru Adira terkejut dengan sigap menangkap tubuh tinggi itu agar tidak terjatuh terhempas ke lantai.
__ADS_1
Tangan Elgi terulur memegangi kepalanya yang terasa akan meledak.
“Anda. Tidak apa-apa kan?” tanya Adira cemas, kini berada dalam posisi sedikit kepayahan memapah tubuh tinggi Elgi.
Suara Adira membuat Elgi tersadar, mengamati apa yang telah terjadi! Netranya menatap tangan Adira terulur di pinggannya. Astaga, dia telah berada dalam pelukan Adira.
“Lepaskan!” sentak Elgi tak suka. Dengan tenaga yang tersisa Elgi menggeliat mencoba melepaskan tubuhnya dari rengkuhan perempuan itu.
Adira pun melepaskan tangannya, lalu sedikit menjauh untuk menjaga jarak. Ia pun tak sadar dengan apa yang ia lakukan. ia baru saja menyentuh lelaki dingin itu.
“Jangan pernah menyentuhku lagi!” tekan Elgi dengan tatapan tajam.
Setelahnya melanjutkan langkah menapaki anak tangga, meninggalkan Adira.
Adira menatap kepergian Elgi.
“Ada apa dengannya? Apa dia sakit?” gumam Adira sedikit cemas setelah melihat Elgi begitu lemah.
***
Si Elgi langsung di jemput pake keranda aja napa sih. Sakit juga masih Ngeselin.
Elgi kalau lomba mirip dajjal juara dua kayanya.
__ADS_1
Like yang kencang ya
Coment yang banyak.