
Malam semakin larut, denting detik demi detik terus berlalu, Di sebuah kamar seorang lelaki masih terjaga. Sekuat hati dia mencoba terlelap namun kelopak matanya enggan tertutup rapat, padahal tubuhnya begitu di rundung lelah.
Hati dan pikirannya terus bermonolog tiada henti. Sejak tadi menegaskan pada pikirannya jika ia lakukan pada perempuan yang berada di ruang tengah itu tidak salah. Ia benar. Tapi kenapa ujung hatinya di kepung rasa bersalah dan gelisah. Ah sial.
Sementara itu di pekatnya malam. Di tempat yang berbeda seorang pemuda berjaket jeans biru memasang wajah penuh amarah. Meraih kerah baju seorang anak lelaki lain. Tangannya terayun keras menghajar pipi anak lelaki itu.
“Sudah hentikan!” ucap seorang lelaki mencoba melerai.
“Aku tidak akan diam saja! Berani-beraninya kau mengatakan ibuku gila!” geramnya. Sekali lagi kepalan tangan itu melayang ke wajah lelaki itu.
“Hentikan kita akan mendapatkan masalah,” lerainya lagi. Namun tak di idahkan oleh lelaki berjaket jeans itu. lagi menghajarnya.
Lelaki yang telah babak belur itu tersungkur. Tak lama berseru pada orang di sekitar.
“Kurang ajar. Berani-beraninya kau. Hajar dia!” serunya dengan suara menggema. Hingga beberapa orang mulai maju. Perkelahian pun tak terelakan dengan dua orang lelaki. Sungguh perkelahian yang tidak imbang.
***
__ADS_1
Fajar akan segera menyingsing, Adira masih terlena dalam dunia mimpi saat suara ponsel yang ia letakkan di laci nakas berdering. Ah mengganggu saja. Semakin menarik selimut menutupi tubuhnya agar nyaman. Tidak peduli ia masih ingin menikmati alam mimpi.
Tidur lelap Adira mulai terganggu dengan dering ponsel yang terus bersautan tiada henti. Ah, siapa si itu? Decak Adira kesal. Setelahnya meraih ponselnya dengan mata tertutup, membawanya ke telinga.
“Hallo,” ucap Adira.
“Ini dari ....”
Adira terdiam menyimak ucapan dari seberang, namun tak lama. Kelopak mata Adira seketika terbela. Perempuan itu bangun terduduk saking terkejutnya dengan kabar yang ia dapatkan.
“Rumah sakit!” sentak Adira terkejut.
***
Pagi menyambut, penampilan Elgi telah sempurna dengan setelan jas hitam membalut tubuh tingginya. Walau semalam dia kurang tidur wajah tampannya masih bersinar. Kini ia bersiap ke kantor. Lelaki itu melangkah keluar kamar, menuruni anak tangga. Elgi melangkah cepat. Sama seperti kemarin dia akan menghindari interaksi dengan tuyul kecil itu.
Elgi telah berada di ruang tengah namun tak ada terdengar suara yang menyapanya. Ini aneh. Pikir Elgi.
__ADS_1
Sekilas iris matanya menatap jauh ke arah ruangan makan di mana biasanya perempuan itu berdiri menunggunya untuk sarapan.
Elgi menggantung langkahnya, saat matanya menangkap meja makan yang kosong. Tak ada yang duduk di kursi.
“Dia tidak ada?” gumam Elgi kini netranya berputar melihat suasana rumah yang sepi. Tidak seperti biasanya.
Ingatan Elgi kembali mengudara pada kejadian semalam, di mana dia meluapkan kekesalannya dan meminta pada perempuan itu menjaga jarak dengannya. Dan benar, pagi ini berbeda dari biasanya. Kini perempuan itu tidak ada di hadapannya.
“Apa dia benar-benar melakukannya?” gumamnya.
"Dia akan menjauh dariku?" Elgi terdiam sejenak,
Tak lama.
“Baguslah! Ternyata dia tahu diri juga,” ucap Elgi dengan senyum miring setelah melanjutkan langkah ke luar rumah bersiap ke kantor.
Like
__ADS_1
Coment
Segini dulu ya ... Sya lagi mau proses kontrak cerita Ini. Lumayan kan kalau dapat seribu-dua ribu perak, buat nambah-nambah beli pulau pribadi.