
Pagi menyambut udara pagi terasa begitu segar. Di balkon sebuah kamar seorang pemuda tampan, bertubuh tinggi sedang menikmati pagi dengan mengayun barbel di tangan, seperti biasa melatih otot dan kebugaran tubuh.
Dret
Suara ponsel membuat kegiatan terhenti. Lelaki itu meraih ponselnya membaca nama yang tertera di layar dengan cepat mendeal jawaban.
“Apa kau sudah mendapatkan informasi di mana keberadaan keluarga lelaki yang bernama Ayah Ira? Bagaimana istri dan anak-anaknya?” cecarnya tak sabaran.
“Belum tuan, kami kehilangan jejak. Hingga saat ini kami belum mendapatkan petunjuk.”
“Terus cari hingga dapat. Jika kau berhasil menemukannya berikan apa-pun yang mereka inginkan. Uang yang banyak, rumah mewah, tanah yang luas. pendidikan tinggi untuk anak-anaknya! Apa-pun berikan semua,” Jelas Elgi menekan kata terakhirnya.
“Baik, saya akan melakukan perintah Anda.”
“Bagus. Terus kabari aku.”
Panggilan telepon terputus. Elgi termenung.
“Di mana mereka?” gumam Elgi bertanya.
“Aku bertanggung jawab untuk menebus kesalahannya di masa lalu,” ucap Elgi memasang wajah sendu, sekilas bayangan seorang anak remaja lelaki terlintas, rasanya ada batu besar yang mengimpit hatinya.
Tak ingin berlarut dengan perasaan, Elgi meletakkan ponselnya di meja kemudian beralih meraih handuk kecil yang ada di meja. Mengusap tubuhnya yang penuh dengan peluh karena olahraga yang di jalani. Setelahnya memutuskan untuk keluar dari kamar tenggorokannya terasa kering.
__ADS_1
Elgi telah berada di dapur berjalan menuju kulkas. Dia butuh minuman dingin untuk menyegarkan tenggorokannya.
Elgi membuka kulkas yang penuh dengan berbagai jenis minuman. Akan tetapi Kening Elgi mengerut dalam, saat melihat deretan minuman di rak lemari pendingin itu kini di dominasi oleh minuman berkotak hijau.
"Anda butuh sesuatu tuan," sapa bibi Anna dari belakang.
Tangan Elgi pun meraih minuman botol yang memiliki kandungan elektrolit setelanya menutup pintu kulkas. Di dekat Elgi telah berdiri bibi Anna.
“Anda butuh sesuatu tuan?” ulang bibi Anna menghampiri sang tuan.
“Kenapa banyak minuman kacang hijau di kulkas?” tanya Elgi memasang wajah sama dinginnya dengan kulkas itu.
“Itu karena saya menyiapkan untuk nona Adira. Saya melihat nona menyukai minuman itu,” jelas bibi Anna mencoba menyiapkan kesukaan nyonya rumah.
Obrolan Elgi dan bibi Anna terhenti, saat melihat perempuan cantik dengan seragam og serta rambut tercepol berjalan masuk ke dalam dapur.
“Nona Adira selamat pagi!” sapa bibi Anna mengulas senyum lembut.
“Selamat pagi bibi!” balas Adira dengan senyuman namun senyum itu surut saat melihat Elgi memasang tatapan tajam padanya. Mengerikan.
“Saya akan pergi kerja,” pamit Adira mencoba menghindari lelaki itu.
Meninggalkan Elgi, Bibi Anna berjalan mendekat ke arah Adira.
__ADS_1
“Kemarilah sarapan sudah siap!” ucap bibi Anna antusias menggiring tubuh Adira duduk di kursi makan yang telah terhidang beberapa jenis menu sarapan pagi.
“Sebelum pergi, Anda harus sarapan dulu,” jelas bibi Anna melayani Adira.
“Oh iya. Saya membuat bubur kacang hijau untuk nona. Nona suka kan?”
“Iya. Bi” Balas Adira sambil ujung netranya melirik Elgi yang masih berdiri melihat interaksi mereka. Bagaimana bibi Anna melayani Adira begitu bersemangat.
Elgi memutar bola mata malas mendengar kacang hijau kesukaan perempuan itu.
Setelah selesai dengan Adira. Bibi Anna beralih pada Elgi yang masih berdiri di tempat.
“Tuan. Ayo sarapan!” panggil bibi Anna.
Elgi mendengkus.
“Aku tidak selera!” balas Elgi dingin. Elgi pun melangkah meninggalkan kulkas. Kakinya terhenti saat
“Rumah ini sudah seperti memelihara tuyul!” tekan Elgi menatap tajam Adira bak musuh setelahnya berlalu meninggalkan dapur.
Tuyul ....
Adira mengerutkan bibirnya. “Memangnya hanya tuyul yang menyukai kacang hijau,” protes Adira di dalam hati.
__ADS_1
“Apa dia ngak sadar. Sikap dinginnya sudah seperti kulkas nungget,” balas Adira namun hanya berani di dalam hati.
Ikuti terus yah. Tuh tuyul Ma kulkas nungget ....