
Malam semakin larut. Adira masih betah duduk di ruang tengah menanti kedatangan Elgi yang belum juga kembali dari kantor. Lelaki itu benar-benar sibuk hingga selalu pulang di jam larut malam.
Kurang dari 15 menit lagi, waktu telah menunjukan pukul 12 malam. Elgi menyeret langkah masuk ke dalam rumah. Seluruh tubuhnya terasa lelah. Setelah bekerja dan meeting seharian.
Elgi mendesah napas panjang, saat ia berjalan masuk ke dalam rumah. Masih melihat Adira di ruang tengah dengan tv menyalah. Sama seperti malam-malam sebelumnya.
Oh astaga, perempuan ini benar-benar tidak peduli dengan ucapannya.
Sudah di katakan jangan sedikit pun mencari perhatiannya, masih saja menunggunya pulang.
Adira bangun dari duduknya saat menyadari lelaki tinggi, berwajah tampan itu telah kembali ke rumah.
“Selamat malam pak,” sapa Adira dengan senyum ramah.
Elgi memutar bola mata malas. Lagi-lagi dia pulang di sambut oleh Adira yang tersenyum lebar.
“Anda butuh sesuatu?” tanya Adira pada lelaki yang terlihat lelah itu.
“Bibi Anna tidak ....” Adira tidak melanjutkan kata saat melihat Elgi terus berjalan.
Elgi hanya berlalu memasang wajah dingin, tidak ingin membuang waktu sedikit pun, ia mulai menapaki anak tangga tak peduli dengan kata yang di ucapkan oleh Adira. Tubuhnya lelah semakin tak bersemangat bertemu dengan Adira. Lebih baik dia ke kamar untuk mengistirahatkan diri.
Adira hanya bisa menarik napas berat melihat kepergian Elgi yang belum mendengar apa yang ingin dia katakan.
Setelah bayangan Elgi menghilang Adira pun masuk ke dalam kamar di juga sangat lelah.
__ADS_1
***
Mentari pagi telah menyambut. Adira sedang berada di dapur berkutat dengan peralatan masak.
“Bibi akan pergi. Bibi ada urusan keluarga selama tiga hari. Tolong bibi mengurus rumah dan tuan Elgi.”
Itulah pesan yang akan di sampaikan Adira semalam namun belum juga bicara Elgi telah pergi.
Ya, selama tiga hari Adira akan menggantikan tugas bibi Anna mengurus rumah. Karena itulah Pagi-pagi sekali Adira telah bangun mengurus rumah mewah ini dan menyiapkan sarapan untuk tuan pemilik rumah.
Adira baru saja meletakkan menu sarapan di meja makan. Perhatiannya teralihkan pada Elgi yang baru masuk mendekat ke meja makan, dia terlihat begitu tampan mengenakan stelan jas lengkap berwarna navy untuk ke kantor, benar-benar sempurna walau wajah itu seperti mayat hidup yang tidak pernah tersenyum. Tapi ketampanan itu tetap terlihat sempurna.
Alis Elgi berkerut saat tatapan datarnya meneliti penampakan Adira yang mengenakan celemek, mengurus meja makan. Bukan bibi Anna yang seperti biasanya.
“Selamat pagi pak,” sapa lembut Adira.
“Kau ...” ucap Elgi menyirat pertanyaan.
“Bibi Anna sedang tidak ada di rumah. Kemarin sore bibi Anna pamit katanya ada urusan keluarga selama tiga hari,” jelas Adira langsung.
“Urusan keluarga,” gumam Elgi.
Elgi terdiam, sedikit berpikir kemudian mendengkus dengan kesimpulan yang ada di kepalanya.
“Apa ini permainan bibi Anna agar aku dekat dengannya,” batin sinis Elgi.
__ADS_1
“Jika anda butuh sesuatu anda bisa mengatakannya pada saya,” tawar Adira.
“Saya sudah menyiapkan sarapan untuk anda, silahkan duduklah,” ucap Adira sembari tangannya siap meraih piring.
“Tidak perlu! Aku tidak akan memakannya!” ucap Elgi dingin.
Adira terhenti mendengar ucapan Elgi.
“Jangan melakukan hal tidak berguna seperti ini,” ketus Elgi sembari menatap meja makan sekilas.
“Aku bisa mengurus diriku sendiri!” ucap nya dingin setelahnya berlalu pergi meninggalkan Adira.
Elgi benar-benar, akan terus menjaga jarak dengan Adira. Seakan membuat benteng dalam dirinya. Dan dia tidak akan goyah dengan apa pun yang Adira lakukan padanya.
Adira memasang wajah cemberut. Dia sudah bersusah payah mengikuti keinginan bibi Anna untuk melayani tuan besar ini. Elgi malah bersikap menyebalkan.
“Menyebalkan sekali, untung dia bos,” gerutu Adira sembari tangannya mengepal ke udara.
***
Elgi ini ngeselin banget ya. Sama banget ngeselinnya sama orang yang suka datang bilang pinjam dulu seratus.
Tenang masih Sya liatin ....
Entar malam aku kembali ya ...
__ADS_1
Like
Coment