
Irama jantung Adira berdetak dua kali lipat, menggila. Saat ia telah berada di dalam kamarnya. Adira menelan salivanya kelat menatap ke arah ranjang. Sungguh seakan tak percaya sekarang dia berdiri sejajar dengan Elgi menatap ke arah ranjang yang berseprai motif pelangi. Uhg, kulkas nugget ini kekeh akan menginap di rumahnya.
“Anda yakin akan menginap di rumah ini?” tanya Adira untuk kesekian kalinya memastikan.
“Emm,” balas lelaki dingin irit bicara ini, seperti biasa dengan deheman.
“Anda lihat kan kamarku sempit sekali, ranjangnya sangat kecil. Dan tidak ada ac di kamar ini, berbeda dengan kamar Anda. Anda tidak akan tidur dengan nyaman,” jelas Adira membandingkan dengan kamar Elgi yang begitu nyaman sangat jomplang, lelaki itu tidak akan bisa tidur dengan nyenyak di kamar Adira.
“Tidak masalah untukku,” terang Elgi.
“Lebih baik Anda pulang,” usir Adira.
Elgi tidak menghiraukan ocehan Adira, ia kemudian berjalan ke arah ranjang. Lelaki itu lalu duduk di ranjang merasakan kasur Adira yang memang jauh berbeda dengan miliknya.
Adira mendesah berat menatap ke arah Elgi, kulkas nugget ini tidak mendengarkan sedikit pun perkataannya, tak mau pulang, bahkan lelaki itu telah berbaring di ranjang Adira.
“Baiklah, Anda tidurlah di sini,” ucap Adira pasrah membiarkan Elgi untuk menguasai ranjangnya.
“Jangan salahkan aku, jika kau tidak bisa tidur malam ini,” batin Adira berdecak.
“Aku akan tidur di luar,” tambah Adira lagi hendak berbalik. Adira tidak mungkin tidur seranjang dengan Elgi. Lelaki dingin itu tidak bisa tersentuh.
“Apa kata adikmu nanti, jika kita tidur terpisah,” sahut Elgi berbaring miring dengan sebelah tangan bertumpuh siku menyanggah kepalanya menatap ke arah Adira yang akan keluar.
__ADS_1
Adira menghentikan langkahnya. Astaga benar, apa yang akan di pikirkan adiknya jika dia tidur di kamar terpisah. Adiknya akan curiga tentang rumah tangga mereka.
“Kalau begitu aku akan tidur di lantai,” ucap Adira.
“Tidak boleh,” tegas Elgi kemudian bergeser, memberi ruang kosong di sebelahnya. “Kemarilah,” panggil Elgi.
Adira pun melangkah mendekat ke arah Elgi.
“Tidurlah di sini,” ucap Elgi menepuk ruang kosong di sisinya.
Apa! Tidur bersama!
“Ha!” Adira tersentak mendengar ucapan Elgi. Lelaki dingin ini mau berbagi ranjang dengannya. Ada apa dengannya? bukankah bersentuhan saja tidak mau, sekarang mau berbagi ranjang.
“Ayo! Naik cepat, ” imbuh Elgi lagi terdengar mendesak.
Lagi-lagi Adira pasrah. Dengan ragu-ragu Adira mulai merangkak naik ke atas kasur mengisi sisi kosong di samping Elgi. Sebenarnya Adira tidak cemas dan berpikir Elgi akan melakukan sesuatu padanya dan bernafsuu untuk menjamahnya, itu tidak mungkin, siapalah dia. Adira lebih menimbang kenyamanan lelaki itu jika mereka berbagi ranjang. Secara Elgi terbiasa hidup enak tidak pernah merasa kekurangan.
Adira telah berada di samping Elgi, berbaring terlentang menatap langit-langit kamar. Tak lama ranjang di samping Adira bergerak kuat.
Adira merasakan Elgi sekarang pasti bergerak gelisah mencari posisi ternyaman tidur di kasurnya yang sempit.
“Anda merasa tidak nyamankan?” tebak Adira tanpa melihat ke arah sampingnya. tuh kan dia sudah bilang apa tadi, masih kekeh.
__ADS_1
“Anda merasa sempit kan,” tambah Adira lagi, merasa gerakan gelisah Elgi.
Tak lama satu gerakan Elgi membuat Adira terjengkit. Membulatkan mata menatap ke arah pinggangnya.
Astaga.
Debaran jantung Adira bergemuruh saat merasakan sebuah lengan kekar melingkar di pinggannya. What. Lelaki ini memeluknya erat. Dengan cepat Adira menolehkah kepalanya ke arah samping. Namun lagi Adira tersentak kaget, saat melihat wajah Elgi hanya berjarak beberapa senti darinya hingga pandangan mereka bertemu. Wajah tampan Elgi terlihat dengan jelas pahatan wajah sempurna itu. Ternyata tadi tubuh Elgi bergerak mencari posisi untuk memeluknya dan sekarang tubuh Elgi telah menempel padanya.
“Tidurlah, jangan pikirkan apa-pun lagi,” ucap Elgi setelahnya memajukan wajahnya.
Cup.
Elgi melabuhkan satu kecupan lembut selamat tidur di pipi Adira.
Ya ampun, Adira menahan napas, paru-parunya seakan kering, ia merasa tak bisa bernapas setelah mendapatkan pelukan serta ciuman di pipi oleh lelaki dingin itu. Ternyata tidur bersama lelaki ini berbahaya untuknya. Tidak seperti yang Adira pikirkan, bagaimana ini? Adira pun mengapit rapat kakinya. Ia menjadi Was-was.
Segini dulu ya. Satu lagi belum di edit. Jadi sabar...
Like
Coment...
Sya Salah kirim, ke naskah Si culun
__ADS_1