Diam-Diam Suamiku Ceo

Diam-Diam Suamiku Ceo
Pulang


__ADS_3

Pagi menyambut. Di depan pintu rumah sederhana tiga orang anak manusia berdiri.


“Kakak pergi dulu,” pamit Adira pada dua pemuda tampan yang ada di hadapannya.


Adira terpaksa pamit karena tidak mau adiknya curiga dengan rumah tangganya. Yang memang bermasalah itu. Padahal Adira masih ingin tinggal di rumah bersama adiknya.


Tinggal bersama adik di rumah sederhana terasa jauh lebih baik dari pada tinggal di rumah mewah bersama kulkas nugget itu. Ih, sangat menyebalkan.


“Kakak akan datang lagi besok,” ucap Adira tak lama gurat wajah cantiknya berubah galak. Kan dia harus memberi pesan mematikan untuk adiknya.


“Jangan ke mana-mana, awas saja jika kalian keluar rumah dan membuat masalah baru. Kali ini kakak akan langsung pesan liang lahat untuk kalian,” ancam Adira dengan netra memicing galak.


Pesan liang lahat.


Glek


Kedua pemuda itu kompak menelan salivanya kelat. Ya ampun galak sekali kakaknya.


“Kakak kejam sekali sudah seperti ibu tiri di sinetron. Iya kami hanya akan di rumah,” ucap Andra.


“Kami tidak akan melakukan apa-pun,” tambah Aska.


“Bagus,” kata Adira.


Adira pun meninggalkan rumah, sebelum pulang ke rumah mewah Elgi. Adira akan ke tempat kerja. Adira akan kembali bekerja. Sudah beberapa hari dia tidak masuk karena mengurus adiknya.


Adira telah berada di kantor. Masuk ke dalam ruangan. Baru saja menginjakkan kaki ke ruangan pantry. Fuji si heboh telah menyambut.


“Kakak ipar kau sudah masuk ke kantor!” sambut Fuji heboh.

__ADS_1


“Kalau kau di sini siapa yang merawat dan menjaga ayang Aska,” cerocos Fuji.


Adira hanya memasang wajah malas. Ya ampun masih pagi dia sudah mendengar ucapan berlebihan Fuji.


“Ya ampun kakak ipar pulang saja. Jaga ayang Askaku. Ingat, ada pak Raga yang akan memberimu izin walau kakak ipar ngak masuk satu bulan. Kakak ipar tenang saja biar aku yang menggantikan tugas kakak ipar,” oceh Fuji.


Oh astaga rasanya telinga Adira akan meledak.


“Fuji! Kau ini berlebihan sekali. Ayang Aska mu itu tidak apa-apa.” Decak Adira sebal.


****


Cahaya keemasan menghiasi langit senja. Adira baru saja pulang kerja. Perempuan itu menghela napas panjang menatap ke arah pintu rumah mewah tempat tujuan pulangnya.


Adira memutuskan pulang sebentar untuk membunuh kecurigaan adiknya. Setelah menginap semalam, Adira akan kembali lagi ke rumah adiknya. Ia masih khawatir meninggalkan adiknya yang belum pulih sepenuhnya.


“Iya bibi,” balas Adira dengan senyuman.


“Bagaimana keadaan adik Anda?” tanya bibi Anna.


“Kondisinya sudah mulai membaik,” jelas Adira.


“Syukurlah. Kalau begitu saya akan menyiapkan makan malam untuk Anda,” ucap bibi Anna.


“Saya akan membantu."


“Tidak perlu nona istirahat saja di kamar.”


“Saya tidak lelah,” balas Adira ia belum terbiasa hidup bagai tuan putri. Di layani setiap saat. Di mata Adira bibi Anna bukan pelayan tapi sudah seperti orang tuanya. jadi tidak mungkin dia melihat perempuan tua itu mengerjakan pekerjaan rumah sendirian.

__ADS_1


Adira dan bibi Anna pun menuju dapur menyiapkan makan malam.


Hari baru saja berganti malam, seorang pria telah sampai di rumah. Tidak seperti biasa, ia akan menghabiskan waktu untuk berlama-lama dengan tumpukan laporan. Kali ini tidak, ia memutuskan untuk pulang awal, lama di kantor pun tidak akan berguna jika ia tidak memiliki fokus. Elgi baru saja menginjakkan kaki di rumah.


Elgi melangkah lemah, kini setiap pulang ke rumah rasanya tak ada semangat. yang ada hanya rasa kosong dan hampa.


Elgi mendesah kasar, saat berjalan melalui ruang tengah. Netranya terpusat pada sofa. Ah, lagi sofa di ruang tengah kosong, membuat perasaannya semakin tak karuan, sepi.


Elgi pun kembali melanjutkan langkah.


“Anda sudah kembali!”


Suara perempuan memecah kesunyian rumah.


Deg


Suara itu!


Akhirnya


Elgi menghentikan langkahnya.


Oh. Astaga setelah beberapa hari ia mendengar suara itu lagi menyambut kepulangannya.


Elgi dengan cepat berbalik, mengalihkan netranya ke sumber suara yaitu ruang makan. Elgi terpaku menatap lekat wajah perempuan cantik dengan senyuman lebar. Akhirnya Elgi melihat senyum itu lagi.


***


Segini dulu ya. Lagi buntu banget nih. mana pikiran lari mulu ke cucian yang udah numpuk banget kaya pahala puasa. Sorry banget ya ... kurang feel ya ini. ih sebel sendiri Sya.

__ADS_1


__ADS_2