Diam-Diam Suamiku Ceo

Diam-Diam Suamiku Ceo
Laporan


__ADS_3

Di kantor seorang pemuda tinggi berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan. Banyaknya beban pekerjaan membuatnya rehat sejenak, memutuskan untuk berbincang dengan salah satu bawahan.


Pintu terbuka terlihat lelaki sedang sibuk dengan beberapa laporan. Hingga tak lama lelaki yang duduk di kursi kerja itu menyadari kedatangan seseorang. Lalu berdiri menyambut.


“Pak Elgi Nayaka yang terhormat. Untuk apa Anda datang langsung ke ruangan manajer keuangan sepertiku,” cibir pemuda berwajah tampan bernama Raga. Dia adalah teman kecil Elgi.


Elgi mendengkus mendengar cibiran Raga. Kemudian duduk di sofa panjang dengan kaki menyilang. Uh, aura keangkuhan itu terpancar nyata.


“Ada hal penting yang ingin aku bahas denganmu!” papar Elgi langsung.


Alis Raga berkerut menatap Elgi yang memasang wajah datar. Hal penting apa yang akan di bahas oleh sahabatnya ini. “Hal penting,” ulang Raga.


“Baiklah, kita akan membahasnya,” ucap Raga. Kemudian beralih meraih gagang telepon sejenak.


“Tolong bawakan dua cangkir kopi dan camilan ke ruanganku,” ucap Raga setelahnya menutup panggilan.


Raga pun meninggalkan meja kerja, mendekat ke arah Elgi lalu ikut duduk di sofa panjang.


“Apa yang ingin kau bahas denganku? Laporan keuangan atau kenaikan pendapatan perusahaan?” tanya Raga orang yang di percaya mengurus dan mengatur keuangan perusahaan selama ini.


“Emm,” balas Elgi mengiyakan dengan deheman.


“Tapi, selain itu ada hal yang lebih penting,” ucap Elgi. Ia terlihat ragu untuk meneruskan kata.


“Apa?” tanya Raga dengan penasaran.


“Ini mengenai ....” Elgi terdiam rasanya sangat berat.


“Apa mereka semua hidup dengan baik?” Setelah bungkam sejenak Elgi akhirnya bersua.


Untuk sepersekian detik. Raga terdiam tak ada jawaban darinya hanya terdengar helaan napas berat. Raga sudah sangat hafal jika pembahasan masalah ini yang selalu menyiratkan luka dan penderitaan. Tentang kilas masa lalu pahit.


“Kau tenang saja, mereka hidup dengan baik dan tidak kekurangan satu apa-pun!” ujar sebagai sahabat menenangkan.

__ADS_1


“Setiap bulan mereka akan mendapatkan uang bulanan yang lebih dari cukup. Anak-anak mereka juga bebas mengejar pendidikan hingga jenjang tertinggi, tanpa batas,” jelas Raga.


Raga menepuk pudak Elgi. Bersikap layaknya sahabat yang memberikan dukungan.


“Kau tidak perlu terus merasa bersalah, kau sudah mencoba memperbaikinya semampumu dan memberikan yang terbaik,” jelas Raga lagi.


Elgi menarik napas berat , menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa.


“Keluarga yang pertama, selain uang bulanan, mereka juga mendapatkan rumah, dan telah lama di pekerjakan di kantor ini. Perusahaan juga membiayai pendidikan dua anaknya yang duduk di bangku kuliah,” jelas Raga.


“Yang ke dua, juga mendapatkan rumah yang sekarang di tempati bersama keluarga paman dan bibi yang sebagai walinya. Untuk yang ini dia berbeda. Dia tidak ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang selanjutnya hanya terhenti pada di Sma, tidak ingin kuliah. Dia malah melamar di kantor ini sebagai Og.”


Mendengar itu Elgi menegakkan duduknya.


“Kenapa berhenti. Kenapa dia tidak melanjutkan pendidikannya setinggi-tingginya!” cecar Elgi.


"Katanya otaknya sudah tidak mampu berpikir keras dan memilih untuk bekerja di perusahaan ini sebagai og,” jelas Raga akan informasi yang ia dapat.


“Yang ketiga seperti yang kau tahu dia hidup sangat baik tanpa kekurangan sedikit pun. Kau begitu melindunginya dan terus menuruti keinginannya.”


“Istri dan ketiga anaknya ...” ucap Raga lemah.


“Entah bagaimana nasib mereka? Apa mereka hidup dengan baik, Aku tidak akan tenang jika belum menemukannya.”


Sejuta rasa bersalah seketika merasuk dalam hati Elgi.


“Jika aku menemukannya aku akan menebusnya dengan apa-pun,” tekan Elgi.


“Sudahlah ini takdir. Siapa bisa melawan garis tuhan. Lagi pula kejadiaan beruntun ini bukan kesalahanmu sepenuhnya, ini karena dia.” Lagi-lagi menenangkan.


Suara ketukan di pintu membuat obrolan terhenti. Terlihat perempuan cantik, dengan rambut tercepol masuk ke dalam ruangan dengan nampan di tangan.


Raut wajah Elgi kini berubah yang tadinya terlihat sedih sekarang menjadi dingin melihat kedatangan perempuan itu.

__ADS_1


“Kopi Anda,” ucapnya sembari berjalan mendekat.


“Kenapa dia ada di sini,” ucap Elgi tatapannya tajam menatap perempuan yang berjalan ke arah mereka.


“Oh Adira. Dia yang selalu membuatkan kopi untukku. Aku suka kopi buatannya. Kau harus mencoba kopi buatnya sangat nikmat,” jelas Raga antusias dengan lengkungan senyuman menghiasi bibirnya. Berbeda sekali dengan wajah Elgi yang datar.


“Bonus dia juga sangat cantik,” ucapnya pelan ke arah Elgi agar tak terdengar ke Adira.


Cantik


Elgi mendengkus mendengar kata cantik. Seakan tidak sependapat dengan ucapan Raga.


Adira telah berada di depan meja berdiri di antara ke dua lelaki itu. Siap untuk menatap cangkir di meja namun baru saja Adira hendak meletakkan cangkir.


Elgi seketika bangun dari duduknya.


“Aku pergi dulu. Bawa laporannya ke ruanganku,” ucap Elgi dingin tak ingin lama lagi berada di ruangan Raga apalagi ada perempuan yang harus ia hindari.


“Hei, kau tidak mencoba kopi buatan Adira?” seru Raga.


“Tidak perlu! Aku tidak punya waktu!” sinis Elgi sembari netranya menatap dingin Adira kemudian melangkah keluar ruangan. Elgi tak ingin menyentuh suguhan dari Adira.


“Ada apa dengannya. Buru-buru sekali,” ucap Raga heran.


Adira hanya mengendikan bahunya. Seolah tak tahu.


***


Di mohon kesabarannya untuk kulkas nungget ini.


Hai segini dulu yee.


Fokus lagi terganggu banget nih, ma timses caleg yang pada sibuk minta foto copy ktp, ngoceh mulu lagi, kaya mc Ramayana. Mana gula ma minyak belum di bagi lagi.

__ADS_1


Like


Coment


__ADS_2