
Di sebuah restoran mewah, seorang lelaki tampan baru saja menyilang sendok dan garpu di atas piring yang masih tersisa banyak makanan, membuat perempuan yang duduk di seberangnya menatap heran.
“Kau sudah selesai? Kenapa kau makan sedikit sekali?” tanya Karin menatap Elgi.
“Aku sudah kenyang,” balas Elgi singkat.
Nafsu makannya menghilang setelah melihat kejadian tadi. Di mana gadis tuyul kecil dan Raga jalan bersama, kejadian itu sukses mengganggu pikiran Elgi. Apalagi senyum keduanya. Ah entah mengapa menyebalkan sekali melihatnya.
Elgi dapat menyimpulkan jika tatapan Raga tersirat sesuatu. Apalagi setelah merunut ingatan kemarin, ternyata inilah yang menjadi alasan Raga terus tersenyum. Dan tuyul kecil itu apa dia menyukai Raga? Ah. sial. Kenapa ia merasa ada rasa sesak menghimpit dadanya.
***
Malam telah menyambut seperti biasa Adira berada di ruang tengah. Menghabiskan waktu dengan menonton tv sambil berkabar dengan adiknya.
“Kakak bolehkah kami keluar untuk merayakan kemenangan pertandingan basket?” tanya sang adik setelah basa-basi bertanya kabar itu selesai.
Adira sedikit berpikir.
__ADS_1
“Baiklah. Kalian boleh pergi. Tapi ingat jangan pulang larut malam. Jangan membuat onar. Jika kalian membuat masalah. Lebih baik kalian langsung saja serahin diri kalian ke Dinas Sosial,” ancam Adira dari balik telepon.
“Ya ampun kakak tega sekali. Kami tidak akan membuat ulah.”
“Ingat jangan berkelahi.”
Panggilan telepon terputus. Ugh, memiliki dua adik lelaki memang membutuhkan kesabaran extra. Apalagi mereka masih dalam proses mencari jati diri. Adira kembali menatap kearah tv sambil menunggu kedatangan Elgi.
Sementara itu, Elgi menghela napas berat saat ia pulang ke rumah, lagi-lagi melihat Adira duduk di ruang tengah menunggu kepulangannya. Lagi bayangan menyebalkan tadi siang. Ah. rasa kesal merasuk di dalam hati Elgi
Elgi melangkah cepat menuju kamar, mencoba menghindari perempuan ini.
“Anda sudah kembali,” sapa Adira menyambut Elgi dengan senyuman.
Elgi membuang pandangan, ia hanya berlalu dengan wajah dingin. “Anda butuh sesuatu,” kata Adira lagi.
Tak ada satu kata pun yang keluar dari Elgi. Ia hanya berlalu dengan wajah dingin. Menerobos tubuh Adira. Jelas sekali tak suka melihat kehadiran Adira. Terus berjalan abai.
__ADS_1
“Anda ingin teh jahe?” tawar Adira menatap punggung Elgi yang hendak menapaki tangga.
Mendengar Adira terus bicara padanya membuat tangan Elgi terkepal erat, lelaki itu pun menghentikan langkahnya. “Cukup!” sergah Elgi dengan intonasi tinggi.
Adira tersentak mendengar satu kata Elgi. Menatap Elgi yang telah berbalik menatapnya. Wajahnya terlihat begitu dingin, tersirat kemarahan.
“Berhentilah melakukan ini semua! Jangan berpura-pura peduli untuk mendapatkan perhatianku!” sungut Elgi menatap Adira dengan tatapan sinis.
“Kau pikir setelah merawatku saat sakit. Hubungan ini akan berubah. Tidak mungkin!” tekannya.
“Apa pun yang kau lakukan tidak akan membuatku luluh. Yang ada kau hanya membuatku muak!” hardik Elgi dengan kekesalan. Di tambah bayangan yang ia lihat tadi siang. Ah, entah mengapa dia rasanya ingin meledak.
Adira terdiam tak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya.
“Jangan pernah menungguku lagi. Ingat posisimu kau hanya office girl di kantor milikku. Jadi jaga batasanmu!” tekan Elgi setelahnya kembali berbalik mulai menapaki satu persatu anak tangga meninggalkan Adira. Ah. sial dia meledakan amarah.
Sedangkan Adira hanya berdiri mematung menatap kepergian lelaki dingin itu. uhg, menyebalkan sekali dia, decak Adira di dalam hati.
__ADS_1
Ih gemes banget dah ini, jeles banget ....
Masih Sya liatin ya .....