Diam-Diam Suamiku Ceo

Diam-Diam Suamiku Ceo
Pikiran


__ADS_3

Di sebuah ruang kantor. Seorang pemuda tampan sedang duduk termenung, menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, bergulat dengan pikiran tentang sesuatu yang terus terbayang di dalam benaknya.


“Pak Elgi!” suara membela pikiran. Lelaki itu tersentak kembali pada dunianya.


Netra Elgi menatap suasana sekitar, melihat orang-orang menatap heran kepadanya. Dia menjadi pusat perhatian. Elgi baru menyadari. Ah sial. Dia kan, sedang berada di ruang rapat, dan sedang memimpin rapat tentang keuntungan perusahaan. Bisa-bisanya dia kehilangan fokus dan tenggelam dalam lamunan.


“Lanjutkan!” ucap Elgi kembali memperbaiki posisi tubuh.


Rapat kembali di lanjutkan. Elgi kembali fokus untuk memimpin rapat.


Setelah dua jam berlalu Elgi pun mengakhiri rapat. Atas perintahnya semua membubarkan diri.


Elgi pun kembali ke ruangan, ia mendudukan tubuhnya di kursi kebesarannya. Sebelah tangan Elgi memijat pelipis. Mengingat tentang apa yang terjadi tadi di ruang rapat. Bisa-bisanya dia kehilangan fokus. Ini tidak pernah terjadi.


Elgi menghela napas berat. Entah apa yang terjadi padanya? Sejak tadi ingatannya terus tertuju pada perempuan menggunakan dres bunga. Ahhh, sial kenapa sejak tadi bayangan itu mencuri ruang kepala Elgi hingga membuatnya sulit fokus.


Suara ketukan membuat Elgi mengarahkan netranya ke pintu. Terlihat Karin masuk ke dalam ruangan membawa buku agenda. Elgi pun beralih melihat komputernya kembali bekerja.


Karin berjalan melangkah mendekat ke meja kerja Elgi.

__ADS_1


“Kau baik-baik saja?” tanya Karin sedikit cemas merasa ada sesuatu pada lelaki ini. Apalagi meningat Elgi sempat kehilangan fokus di ruang rapat membuat Karin bertanya. Elgi tidak pernah seperti ini.


“Emm,” balas Elgi dengan deheman seperti biasa.


Karin membuka buku agenda yang berada di tangan, bersiap membacakan urutan pekerjaan selanjutnya yang akan di jalani oleh Elgi.


“Batalkan jadwal malamku,” ucap Elgi singkat.


Karin mengalihkan pandangannya dari buku menatap Elgi intens.


“Ini penting, perjamuan dengan relasi bisnis,” tekan Karin mengingatkan.


Karin tergelak, tak ada kata lagi darinya. Lelaki dingin itu telah memutuskan, dia tidak akan mau pernah terima bantahan.


Elgi merasa tak bersemangat untuk menghabiskan waktu dengan bekerja. Hatinya terasa tak tenang dia ingin pulang saja. mungkin dia butuh istirahat, itu pikirnya.


****


Malam telah menyambut Adira baru saja menyantap makan malam. Seperti biasa jika semua telah selesai, dia akan bersiap untuk duduk di ruang tengah menunggu penghuni terakhir datang. Namun baru saja Adira duduk di ruang tengah. Suara langkah membuat perhatian Adira teralihkan. Adira menautkan alisnya saat melihat Elgi telah kembali.

__ADS_1


Dengan cepat Adira berdiri.


“Anda sudah kembali,” sapa Adira, seperti  biasa dengan senyuman.


Elgi terdiam di tempat menatap Adira yang berdiri, menyambutnya dengan senyum lebar sama seperti hari-hari sebelumnya. Oh astaga, Entah mengapa kali ini melihat senyum Adira terasa begitu berbeda. Manis sekali.  Hingga membuat ada sebuah rasa merambat dalam dadanya. Elgi seakan tak kuasa melihat senyum itu.


Deg ...


Elgi terpaku. Detak jantung Elgi seketika terpompa cepat, bertalun tanpa irama.


Sedangkan Adira mengerut bingung melihat Elgi hanya diam di tempat sambil menatapnya lekat. Merasa ada sesuatu pada lelaki itu.“Apa anda sakit?” tanya Adira mengambil kesimpulan. Ya Elgi hanya pulang awal jika dia sakit.


Mendengar itu, Elgi yang terpaku cepat tersadar menguasai dirinya. Tanpa kata Elgi berlalu meninggalkan Adira. Ah. sial apa yang terjadi padaku? decak Elgi kesal. Tentang rasa yang ia rasakan pada tuyul kecil itu.


***


Like


Coment

__ADS_1


__ADS_2