
"Hello! Ini hari minggu loh!" Seru Karang dan Galang serentak bahkan dengan intonasi yang sama pula, hal tersebut sontak membuat keduanya saling menoleh satu sama lain.
"Coba ulangi! Ayo coba. Perpaduan antara kalian berdua menghasilkan sebuah mahakarya yang begitu indah, aku rasa kalian berdua bakal jadi partner kerja yang keren." Jelas Vee dengan senyuman manisnya.
"Nggak mungkin!" Tegas Karang.
"Mustahil!" Ujar Galang dan langsung keluar dari ruangan tersebut.
"Dokter Galang mau kemana?" Tanya Vee.
"Sarapan? Apa kalian nggak lapar? Ayo ikut!" Ajak Galang.
"Ayo kita sarapan!" Ajak Vee dan langsung menarik tangan Karang untuk ikut bersamanya.
Ketiganya langsung meluncur menuju kantin rumah sakit yang ada di lantai satu. Ketiganya langsung mengambil tempat di meja dekat jendela, Karang dan Galang duduk dalam posisi saling berhadapan sedangkan Vee langsung duduk di samping Karang.
"Mbak nasi goreng tiga!" Pesan Galang.
"Siapa yang minta dipesanin? Aku bisa pesan sendiri!" Cetus Karang.
"Siapa juga yang mesan buat kamu?" Tanya Galang.
"Lah tadi kamu pesan tiga, kalau bukan buat aku dan Vee lalu buat siapa lagi? Emang di meja ini ada orang lain apa selain kita bertiga." Jelas Karang.
"PD benar jadi orang! Toh aku mesan buat Vee dan aku doang, bukan buat kamu." Jelas Galang.
"Dasar gila! Jelas-jelas tadi kamu bilangnya tiga." Tegas Karang.
"Udah! Sebenarnya disini yang anak SMA aku atau kalian berdua sih? Ribut aja mulu, nggak pernah akur." Jelas Vee kesal.
"Dia yang mulai duluan!" Protes Karang.
"Udah deh bang, stop! Lagian abang ini sok jual mahal banget, udah untung dokter Galang pesankan, ya tinggal makan doang, ribet benget urusannya" Gumam Vee yang tidak lagi bisa kalem dengan tingkah Karang.
"Ya abang nggak...." Penjelasan Karang langsung diselip oleh Galang.
"Udah ayo makan!" Ajak Galang yang langsung menyodorkan nasi goreng kearah Karang dan Vee secara bergantian.
"Ciiih!" Cetus Karang sinis.
Tingkah Karang tidak hanya membuat Vee kesal tapi juga membuat pelayan yang baru sana mengantarkan pesanan mereka ikut tertawa melihat kelakuan Karang.
"Ayo makan!" Ajak Vee yang langsung menikmati sarapannya.
"Aku ke toilet sebentar!" Ujar Karang dan lekas pergi.
Vee terlihat begitu lahap dengan makanannya sedangkan Galang terlihat begitu fokus memperhatikan Vee.
__ADS_1
"Kamu mencintai Karang?" Pertanyaan Galang yang dengan spontan sontak membuat Vee berhenti makan.
"Ya nggak lah!" Sanggah Vee.
"Udah nggak usah bohong!" Saran Galang.
"Apa terlihat begitu jelas?" Tanya Vee yang kini fokus berbicara dengan Galang.
"Hmmmm, semua sikap, perlakuan, cara kamu ngomong dan cara kamu menatap Karang, itu semuanya terlihat jelas kalau kamu sangat mencintai Karang!" Jelas Galang.
"Iya, tapi sayang cuma cinta sepihak. Yah, bertepuk sebelah tangan!" Jelas Vee.
"Bertepuk sebelah tangan? Kamu keliru, Vee." Jelas Galang.
"Keliru bagaimana, orang terlihat jelas kalau abang Karang sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadap aku, yah hanya sebatas tetangga doang." Jelas Vee.
"Karang sangat mencintai mu, Vee. Hanya saja dia tidak menyadari perasaannya itu." Jelas Galang.
"Maksud dokter?" Tanya Vee.
"Dia begitu cemas dengan keadaan kamu, dia nggak akan bisa kehilangan kamu dan disisi lain dia justru tidak mengerti dengan perasaan dia sendiri. Vee, aku sarankan kamu cepat bertindak, jangan sampai kamu kehilangan dia, kamu akan nyesal nantinya." Jelas Galang.
"Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak tau bagaimana caranya untuk menyatakan perasaan aku ke dia." Jelas Vee.
"Aku punya ide, aku akan membantu mu untuk mendapatkan dia. Sekarang yang harus kamu lakukan hanyalah mengikuti permainan aku, gimana? Setuju?" Tanya Galang.
Keduanya saling membalas senyuman dengan jari kelingking yang saling ditautkan satu sama lain. Karang yang baru saja kembali ke meja langsung dibuat emosi oleh adegan Vee dan Galang yang terlihat sedang sangat bahagia tanpa dirinya.
"Apa-apa ini?" Gumam Karang yang bahkan langsung menarik tangan Vee dari genggaman Galang.
Karang kembali duduk di kursinya, sikap Karang membuat Galang dan Vee saling menatap satu sama lain.
"Kamu cemburu?" Tanya Galang lalu meneguk tehnya.
"Cemburu kata mu?" Tanya Karang yang bahka mengehentikan aktivitas makannya.
"Jangan ngaco!" Lanjut Karang.
"Oooh, jadi nggak cemburu? It's okay, nggak masalah!" Jelas Galang.
"Ayo Vee kita pulang!" Ajak Karang yang bahkan langsung menarik Vee agar bangun dari kursinya.
"Aku lagi sarapan! Kok pulang sih?" Keluh Vee.
"Kita makan di tempat lain aja!" Jelas Karang.
"Nanggung banget, dan aku lagi makan kok malah nyari tempat lain, udah di sini aja." Jelas Vee.
__ADS_1
"Okay fine! Abang pulang dan kamu tetap disini. Tapi ingat jangan pernah minta bantuan abang lagi dan juga jangan pernah merepotkan abang lagi." Tegas Karang lalu pergi begitu saja.
Vee bangun, ia hendak menyusul Karang namun langsung dicegah oleh Galang.
"Duduk Vee, lanjutkan sarapan mu, bentar lagi dia juga pasti bakal balik ke sini." Jelas Galang.
"Maksud dokter?" Tanya Vee tidak paham.
"Udah tenang dia bakal balik kok, dan satu lagi, mulai hari ini panggil aku abang aja, jangan lagi panggil aku dengan sebutan dokter, bisa kan?" Tanya Galang.
"Hmmm, abang Galang. Tapi, gimana kalau dia nggak bakal kembali? Yang ada justru dia bakal marah sama aku?" Tanya Vee khawatir.
"Aku yakin dia bakal balik buat menyeret mu pulang bersamannya!" Tegas Galang penuh rasa percaya diri.
"Tapi..." Keluh Vee yang begitu takut di tinggalkan oleh Karang.
"Udah santai aja, lihat, bentar lagi dia pasti bakal kembali kesini. Satu, dua, tiga, action!" Jelas Galang dengan tebakan yang tidak melesat sedikit pun.
"Vee..." Teriak Karang yang berdiri agak jauh dari meja dimana Vee dan Galang berada.
"Tuh kan dia kembali, sekarang percayakan sama aku?" Tanya Galang.
"Abang Galang hebat!" Puji Vee dengan senyuman bahagia.
"Iya aku pulang!" Jawab Vee dengan sedikit berteriak.
Vee segera berlari menghampiri Karang dan tanpa ucapan sepatah katapun Karang langsung menyeret Vee ikut bersamanya dan keduanya pun bergegas pulang.
Vee yang baru keluar dari mobil Karang, perlahan melangkah memasuki rumahnya.
"Aku pulang!" Seru Vee saat masuk ke rumah.
"Udah sarapan sayang? Karang mana? Kalian nggak bareng? Katanya semalam tidur di rumah sakit karena hujan deras." Jelas Anggie.
"Hmmm, apa abang yang ngabarin mami?" Tanya Vee.
"Hmmm, ayo sarapan!" Ajak Anggie.
"Aku udah sarapan tadi mi." Jelas Vee.
"Terus Karang mana?" Tanya Anggie.
"Di rumahnya dong mi, kalau mami khawatir banget sama putra kesayangan mami udah mending mami periksa aja sendiri sana, aku capek, mau istirahat." Jelas Vee yang langsung menuju kamarnya.
"Gimana mami nggak khawatir sama keadaan Karang, orang kamu juga yang selalu mengganggu dia, menjadi beban dia, macem-macem lah tingkah aneh kamu, ya jelas dong mami khawatir sama keadaan Karang, toh kamu oknum pertama yang selalu membuatnya kesal dan kewalahan." Jelas Anggie dan lekas kembali melakukan aktivitasnya di rumah.
💜💜💜
__ADS_1