
Tangan Karang yang hendak mengetuk pintu rumah keluarga Salman seketika langsung terhenti saat ia menyadari bahwa saat ini sudah pukul dua belas malam, dengan wajah yang tertunduk lesu, sedikit menghela nafas kasar lalu perlahan duduk di kursi teras, sejenak mencoba untuk menenangkan diri.
"Huffffff! Come down, slow, tenang Karang, tenang! Ayo cari solusi yang paling baik, berpikir dengan jernih!" Ucap Karang mencoba untuk menenangkan dirinya dari emosi yang sejak tadi membakar seluruh sisi warasnya.
Karang bangun dari tempat duduknya lalu hendak melangkah pulang, baru saja hendak membuka pintu rumah, tiba-tiba tangannya kembali terhentinya, lalu kembali keatas motor dan lekas pergi.
_______
"Loh! Katanya nggak jaga malam ini? Terus ngapain coba tengah malam ke sini?" Tanya Galang saat mendapati Karang yang perlahan memasuki ruangan kerja mereka.
"Mau tidur!" Jelas Karang yang bahkan langsung menjatuhkan tubuhnya keatas sofa.
"Jangan bilang kalau kalian bertangkar!" Tebak Galang duduk di sofa tepat di depan Karang.
"Au ah! Lagi nggak mood ngomong! Sana gih keluar!" Cetus Karang lalu memejamkan matanya dengan kedua tangan yang bersila diatas perut ratanya.
"Apa terjadi sesuatu pada Vee?" Tanya Galang yang justru semakin ingin tau dengan apa yang membuat Karang terlihat kacau saat ini.
"Huuuuff!" Gumam Karang kasar dengan mata yang spontan melotot kearah Galang.
"Jika ada masalah, cerita! Biar aku bisa bantu selesaikan, setidaknya kita bisa sama-sama berpikir untuk mengatasinya." Jelas Galang.
"Bantu selesaikan? Berhenti bersikap baik sama aku, kita bukan sahabat, urus saja urusan mu sendiri!" Tegas Karang.
"Dasar egois! Kamu kira aku sudi jadi sahabat kamu? Ogah! Aku gini bukan karena aku peduli sama kamu, aku hanya nggak mau kalau keegoisan mu ini justru menyakiti Vee di kemudian hari." Jelas Galang.
"Apa kamu jatuh cinta beneran pada Vee?" Tanya Karang yang langsung bangun lalu duduk berhadapan dengan Galang.
Keduanya terdiam dalam tatapan yang begitu dingin satu sama lainnya.
"Iya, aku cinta sama Vee. Aku sangat mencintainya. Lalu, apa artinya jika dia justru mencintai mu setengah mati, aku rasa dia bahkan rela menukar nyawanya untuk hidup mu! Kamu memang buta Karang, kamu sama sekali tidak bisa segala hal yang Vee lakukan dalam hidupnya hanya demi dirimu." Jelas Galang lalu beranjak dari sofa dan hendak keluar dari ruangan tersebut.
"Ada orang yang ingin menyakiti Vee." Penjelasan Karang membuat Galang kembali melangkah mendekati Karang.
__ADS_1
"Siapa?" Tanya Galang yang terlihat jelas begitu emosi seakan sisi baiknya selama ini lenyap seketika.
"Musuh ku ketika SMA." Jawab Karang.
"Musuh? Sebenarnya tugas pelajar itu apa sih? Kenapa bisa kamu punya musuh sejak SMA? Apa yang kamu lakukan padanya sehingga sampai sekarang dia masih memburu mu dan Vee?" Tanya Galang.
"Apa yang aku lakukan? Pertanyaan mu seolah aku pernah membunuh keluarganya, aku pernah meneror hidupnya. Hei! Aku tidak semenakutkan itu!" Jelas Karang mencoba membela diri.
"Lalu? Apa yang kamu lakukan sehingga mereka menjadikan Vee sebagai umpan untuk mencelakai mu?" Tanya Galang.
"Haissssshhh, sial! Aku akan membunuhnya!" Gumam Karang yang langsung bangun.
Secepat kilat Galang langsung menghadang langkah Karang, kini keduanya berdiri tepat di depan pintu.
"Apa kamu ingin membuat Vee celaka? Tenangkan emosi mu itu! Berpikir dengan kepala dingin, ini semua demi Vee, ngerti!" Tegas Galang dengan tangan yang perlahan menyentuh pundak Karang, mencoba untuk membuatnya tenang.
"Lalu, apa aku harus berdiam diri melihat mereka menyentuh Vee?" Tanya Karang.
"Apa aku meminta mu untuk berdiam diri? Dengarkan aku baik-baik, kita cari solusi sama-sama. Untuk saat ini, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara kalian berdua, baru aku bisa memikirkan cara terbaik untuk mengatasinya." Jelas Galang.
"Maaf, dok! Ada pasien darurat di UGD." Jelas Andri yang masih berdiri diambang pintu.
"Ayo!" Ajak Karang yang bahkan langsung bergegas menuju UGD.
Galang dan Andri pun segera mengikuti langkah Karang yang telah lebih dulu berlari menuju UGD untuk mengecek keadaan pasien yang baru saja datang.
______
Vee terus saja membolak-balikkan tubuhnya kesana-kemari, sejak tadi ia belum bisa tidur sedetik pun, ingatannya terus saja terbayang akan kejadian tadi siang, dia begitu gelisah dan ketakutan saat wajah sangar Kenzo kembali melintas di pelupuk matanya. Sejanak terdiam dengan mata yang menatap langit-langit kamar, lalu di menit berikutnya kini Vee sudah duduk dengan memeluk erat kedua lututnya, tatapan yabg kosong seakan tanpa ada tujuan sama sekali, Vee terus berdiam diri hingga beberapa menit lamanya.
***
"Apa dia simpanan mu? Waaaah!" Seru Kenzo dengan suara khasnya.
__ADS_1
Kenzo terus melangkah mendekati sosok Vee yang berdiri tepat di samping Karang.
Tanpa ucapan tinju Karang langsung melayang tepat mengenai wajah Kenzo, hal tersebut membuat langkah Kenzo langsung terhenti. Karang mengenggam erat tangan mungil Vee ke dalam genggamannya lalu menarik tubuh Vee agar semakin mendekat padanya.
"Jangan pernah mencoba untuk menyentuhnya, sedikit saja kamu berani menyentuh tubuhnya maka aku akan membunuh mu!" Ancam Karang dengan tatapan mematikan.
"Dasar phiskopat! Setelah kamu kamu merebut Renata dari aku, kamu malah memiliki simpanan dan parahnya dia bocah yang masih dibawah umur, atau jangan-jangan kamu malah sudah..." Ucapan Kenzo langsung terhenti saat tinju Karang menghantam bagian perutnya.
Di saat Kenzo masih meringis kesakitan, tangan Karang langsung membawa Vee ke dalam gendongannya lalu pergi meninggalkan lokasi tersebut.
***
Potongan akan kenangan tentang kejadian di masa lalu kembali mengusik ingatan Vee, membuat air matanya menetes tak terkendali. Ia mencoba yg untuk menarik dirinya dari ingatan tersebut, dia tidak ingin kembali ke masa itu.
"Berhenti, aku mohon berhenti menghantui ingatan ku...! Aku benci semuanya, aku benci!" Tangis Vee yang mulai tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Tangan Vee seketika maraih ponsel miliknya yang tergeletak disisi kanan tempat tidur, lalu segera menghubungi Karang.
Hanya butuh waktu beberapa detik saja, Karang sudah menjawab panggilan Vee.
"Abang..." Panggil Vee dengan suara sedikit parau dan terdengar jelas begitu lemah.
"Kamu belum tidur? Apa kamu sakit?" Tanya Karang yang mencoba untuk tetap tenang meski sebenarnya ia begitu khawatir saat mendengar suara Vee.
"Aku rindu sama abang!" Jelas Vee.
"Besok pagi abang akan mengantar mu ke sekolah, sekarang tidurlah! Jangan bergadang, ini udah tengah malam." Jelas Karang yang perlahan keluar dari ruangan pasien lalu pelan-pelan melangkah menelusuri lorong-lorong di rumah sakit.
"Tapi aku masih ingin mendengar suara abang!" Jelas Vee.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Karang.
"Tidak ada, aku hanya rindu!" Jelas Vee.
"Apa tadi siang Kenzo mendatangi mu??" Pertanyaan Karang sontak membuat Vee kalang kabut, ia bahkan terdiam seribu bahasa dengan tatapan kosong tak terarah.
__ADS_1
_____