
Dengan nafas ngos-ngosan, tangan Karang langsung menarik kasar gagang pintu hingga pintu tersebut terbuka lebar, mata Karang terus mencari sosok Vee ke seluruh penjuru ruangan namun hasilnya tidak ada siapapun di sana, yang ada hanya ruang kosong hampa tanpa penghuni. Langkah kaki Karang segera menuju ke seluruh sudut ruangan berharap ia segera bisa menemukan sosok yang membuatnya begitu khawatir, dua perawat yang ikut bersama Karang pun kini ikut masuk ke ruangan tersebut.
"Apa dokter sedang mencari Vee?" Tanya Andri sambil terus mencoba mencari apa yang sedang dicari oleh Karang.
"Hmmmm, barusan kalian juga mendengarnya kan?" Tanya Karang memastikan bahwa apa yang ia dengar benar adanya bukan hanya ilusi semata.
"Hmmmm, kami juga mendengarkannya!" Jelas Kania yang juga ikut mencari.
"Vee...!" Panggil Karang dengan perasaan yang begitu khawatir.
"Vee, kamu dimana? Vee!" Suara lantang Karang kembali menggema di seluruh ruang tersebut.
"Abang...!" Panggil Vee dengan suara pelan.
"Kamu dimana?" Tanya Karang yang terus mencari asal suara yang baru saja memanggilnya.
"Di sini, tolong..." Jelas Vee.
"Vee..." Ujar Andri yang seketika langsung panik saat melihat Vee yang bergelantungan di jendela sana.
"Haissssh!" Gumam Karang kesal dan segera berlari menuju jendela lalu secepat kilat meraih tangan Vee yang sejak tadi ia gunakan untuk mengenggam erat bagian pembatas jendela.
"Kamu gila! kenapa bisa bergelantungan disini? kamu pikir ini lantai satu?" Gumam Karang dengan tangan yang terus berusaha menarik tubuh Vee untuk kembali naik ke atas.
Andri dan Kania juga ikut membantu, setelah bersusah payah akhirnya usaha mereka berhasil membawa kembali tubuh Vee serta seekor anak kucing yang di gendong erat dengan tangan kanan Vee.
"Apa ini karena dia?" Tanya Kania dengan tangan yang langsung menyentuh anak kucing tersebut.
"Hmmmm, maaf karena sudah merepotkan kalian semua, maaf!" Pinta Vee dengan penuh rasa bersalah.
"Terima kasih karena kamu telah membuktikan bahwa masih ada manusia di bumi ini yang masih begitu peduli terhadap hewan, kamu hebat Vee." Puji Andri yang bahkan mengusap lembut kepala sang kucing yang terlihat begitu menggemaskan.
"Kalau gitu kami balik kerja dulu, selamat malam Vee."Jelas Kania dengan senyuman.
"Dokter, tolong jangan marah sama Vee, dia sama sekali tidak melakukan kesalahan, permisi!" Jelas Andri lalu ikut keluar bersama Kania.
Karang masih saja duduk di lantai tepatnya di hadapan Vee, mata tajamnya masih saja mengintrogasi Vee, sedangkan Vee hanya terdiam tanpa berani berkomentar sama sekali, dia tau persis jika sedikit saja dia membuat alasan itu semua malah akan membuat Karang semakin kesal dan marah tak jelas padanya.
__ADS_1
"Apa kamu sudah bosan hidup?" Tanya Karang.
"Maaf!" Ucap Vee dengan tangan yang perlahan menyentuh lembut tangan kanan milik Karang.
"Vee, kita baru aja beberapa menit yang lalu jadian, apa kamu akan langsung meninggalkan abang begitu saja? masih banyak hal yang belum kita lakukan sebagai pasangan, berhenti membuat abang khawatir!"
"Apa abang sedang mengajak aku untuk kencan?" Tanya Vee dengan senyuman bahagia.
"Hahhhh! apa kamu paham tentang apa yang sedang abang bicarakan? tolong, jangan lagi melakukan hal-hal yang berbahaya, abang mohon sama kamu, Vee!"
"Tapi kan abang selalu saja datang tepat waktu, abang selalu muncul saat aku dalam bahaya, aku mencintai mu, Karang." Ucap Vee dan langsung memeluk erat tubuh Karang.
"Huffff, tapi bagaimana kalau abang tidak datang tepat waktu? bagaimana kalau abang terlambat sedikit saja? apa yang harus apa lakukan jika sesuatu yang buruk terjadi pada mu, apa nanti yang harus abang jelaskan sama mama dan tante?" Gundah Karang dengan nada bicara yang begitu pelan dan terdengar jelas begitu menyedihkan.
"Aku akan baik-baik aja selama abang menjadi milik ku! dan soal mami, abang tenang aja, mami malah lebih mengutamakan abang dari pada aku." Jelas Vee dengan senyuman lebar lalu kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Karang.
"Upsss!" Seru Galang yang baru saja masuk dan menyaksikan adegan romantis mereka berdua.
"Masih banyak sofa dan kursi loh, kenapa harus lesehan di lantai sih?" Tanya Galang yang terus melangkah menuju meja kerjanya.
"Terserah kami dong mau duduk dimana, ayo Vee!" Jelas Karang yang perlahan bangun lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Vee berdiri.
"Ciiiih!" Gumam Karang.
"Hmmm, manis kan?" Tanya Vee.
"Iya, manis banget mirip sama ayahnya!" Jelas Galang dengan gelak tawa.
"Kamu ngatain aku mirip kucing?" Tanya Karang dengan suara lantang.
"Ya emang mirip kan, sama-sama manis dan lucu bikin gemes!" Goda Galanng yang sontak membuat Karang emosi.
Karang yang hendak melangkah mendekati Galang langsung di hentikan oleh Vee.
"Tapi abang Galang ada benarnya loh! kalian sama-sama gemes, sama-sama buat aku jatuh cinta, aku akan memeliharanya." Jelas Vee.
"Terserah kalian berdua aja deh, bisa darah tinggi aku kalau terus dengar ocehan kalian berdua!" Jelas Karang lalu kembali ke kursi kerjanya.
__ADS_1
"Mau di kasih nama apa? atau butuh jasa aku untuk menamainya?" Tanya Galang yang kini perlahan mendekati Vee.
"Boleh, emang abang mau kasih dia mana apa?" Tanya Vee.
"Gimana kalau Ombak? kan bapaknya Karang jadi anaknya Ombak biar cocok!" Jelas Galang yang sontak mendapat tatapan horor dari Karang.
"Aku permisi, mau lanjut periksa pasien!" Lanjut Galang yang segera melarikan diri dari Karang yang terlihat siap untuk mencabik-cabik tubuhnya.
"Huffff, ayo pulang sebelum abang benar-benar membunuh teman mu itu!" Tegas Karang yang lekas pergi begitu saja.
"Tuh kan gemes banget, iya kan Ombak? papa mu emang paling bisa bikin aku klepek-klepek tak karuan." Jelas Vee dan lekas mengikuti langkah Karang untuk segera pulang.
_______
Vee menempelkan pipi kirinya diatas meja belajar dengan kedua tangan yang terjulur begitu saja diatas meja. Kedua mata Vee terpejam dengan nafas yang berhembus pelan. Iya, saat ini Vee sedang tertidur pulas di dalam kelas.
"Vee..." Panggil Wesvy yang kini berdiri tepat di depan meja Vee.
Suara Wesvy bak angin berlalu, Vee masih begitu lelap dalam mimpinya.
"Apa dia tidur?" Tanya Tsania yang baru saja datang lalu duduk di samping Vee.
"Kelihatannya begitu." Jawab Wesvy dengan langkah yang kembali ke mejanya.
"Bu Riani datang!" Teriak Tsania yang sukses membuat Vee terbangun.
Vee terlihat kalang kabut, ia bahkan segera mengeluarkan buku Kimia dari dalam tasnya. Vee sedikit membenarkan jilbany lalu segera fokus menatap ke depan dan ternyata kursi guru masih kosong.
"Haissssh! dasar teman laknat!" Umpat Vee kesal dengan tangan yang langsung memukul pundak Tsania.
"Tidur jam berapa sih? kenapa pagi-pagi malah molor? hayyo, kemana aja semalam? jangan bilang kalau..." Ucapan Tsania terhenti seketika saat mata tajam Vee melotot kearahnya.
"Cieeee..." Lanjut Tsania dengan lirikan yang begitu jelas kalau saat ini dia sedang menggoda sahabatnya tersebut.
"Diam nggak!" Gumam Vee kesal.
Dari kejauhan sana ternyata diam-diam Wesvy memperhatikan pembicaraan antara Vee dan Tsania yang begitu menarik perhatiannya.
__ADS_1
(Apa cowok yang datang kemaren adalah kekasih Vee? apa aku terlambat?) Tanya hati Wesvy yang mulai menerka dengan kenyataan yang ada, karena jujur saat ini dirinya.
_____