
Enam Tahun Lalu
Karang yang masih lengkap dengan seragam SMAnya terlihat begitu buru-buru turun dari tangga padahal baru saja beberapa menit yang lalu dia pulang dari sekolah dan sekarang sudah hendak pergi lagi. Tuti yang melihat tingkah anaknya yang tidak seperti biasanya seketika langsung menghadang langkah Karang untuk keluar rumah.
"Loh, mau pergi lagi? Bukannya baru pulang?" Tanya Tuti.
"Ada hal yag harus aku urus ma!" Jelas Karang.
"Ya paling nggak ganti seragam mu dulu!" Jelas Tuti.
"Aku lagi buru-buru banget ma." Jelas Karang yang bergegas menuju motornya yang masih terparkir di halaman rumah.
"Karang...!" Panggil Anggie yang baru saja datang.
"Tante Anggie..." Ujar Karang yang langsung menghentikan langkahnya.
"Apa Vee nggak kesini? Tadi katanya mau menemui kamu, terus hilang keluyuran gitu aja, kamu nggak ketemu sama dia?" Tanya Anggie.
"Dari tadi Vee nggak kesini." Jelas Tuti.
"Aku akan mencarinya." Jelas Karang yang langsung naik keatas motonya.
"Buruan cari Vee, temukan dia, perasaan mama nggak enak, cepat bawa pulang Vee." Pinta Tuti dengan penuh harap dengan menyentuh lembut lengan kanan Karang.
"Paling juga keluyuran ke taman komplek, cari alasan supaya nggak harus les." Jelas Anggie.
"Tapi biasanya dia main kesini, dia nggak mungkin ke taman sendirian tanpa Karang. Udah buruan cari dia, jangan pulang kalau tidak membawa pulang Vee." Tegas Tuti.
"Hmmm, aku pergi." Ujar Karang.
"Hati-hati sayang! Kalau ketemu langsung jewer aja tuh bocah." Jelas Anggie.
Karang langsung meluncur meninggalkan kedua wanita yang begitu setia menatap kepergiannya.
Motor Karang mulai mengililingi area komplek perumahan mereka lalu menelusuri taman yang biasanya ia datangi bersama Vee dan hasilnya nihil, dia tidak bisa menemukan Vee di sana.
"Kemana sih tuh bocah! Apa jangan-jangan..." Ujar Karang tertahan lalu segera meraih ponsel dari saku celananya.
Karang langsung menghubungi seseorang yang sejak tadi mengusik pikirannya karena saat pulang sekolah tadi Kenzo sempat mengancam dirinya bahwa dia akan mengambil semua milik Karang.
__ADS_1
"Hello...!" Suara Kenzo terdengar begitu sumringah dari seberang sana, terdengar bak orang yang sedang mendapatkan lotre.
"Apa kamu menculiknya?" Tanya Karang spontan.
"Nya? Siapa yang kamu maksud?" Tanya Kenzo dengan nada yang begitu santai.
"Jangan bercanda, katakan kemana kamu membawanya?" Tanya Karang yang mulai emosi.
"Hei, come down! Nya yang kamu maksud itu siapa sih?" Goda Kenzo yang begitu senang dengan suara Karang yang terdengar sedang tidak baik-baik saja.
"Cepat katakan, dimana dia sekarang?" Gumam Karang.
"Hmmm, pacar mu atau simpanan mu? Yang mana nih? Soalnya kedua-dua sedang berada dalam genggaman ku!" Tegas Kenzo.
"Bajingan!" Maki Karang.
"Ayo pilih? Waktu mu tidak banyak, mau menjemput Renata sang kekasih yang cantik jelita atau Veeliria sang simpanan yang begitu imut dan polos, sejak tadi dia bahkan merengek minta diantarkan pulang!" Jelas Kenzo diakhiri dengan gelak tawa puas karena berhasil membuat Karang kacau dan kebingungan.
"Jangan pernah mencoba untuk menyentuh mereka berdua, lepaskan! Lepaskan mereka!" Tegas Karang.
"Mana bisa begitu! Hei, dengar baik-baik, saat kamu membuat pilihan itu artinya kamu siap mengorbakan salah satunya, mana bisa dua-duanya, namanya juga pilihan kan? Okay fine, aku beri kami waktu sepuluh menit, aaaah terlalu lama pasti tambah pusing mikirnya kan? Ya udah sepuluh detik dari sekarang, cepat tentukan pilihanmu!" Tegas Kenzo.
"Sebelum itu terjadi maka aku akan lebih dulu menghancurkan mereka berdua, siapa kira-kira lebih dulu yang harus aku nikmati ya, hmmmmm jadi dilema!" Ujar Kenzo yang begitu puas.
"Haissssshhh!" Maki Karang penuh kekesalan.
"Siapa pilihan mu?" Tanya Kenzo penuh penekanan.
"Aku akan membunuh mu!" Tegas Karang bersamaan dengan panggilan yang langsung diputuskan secara sepihak oleh Kenzo.
"Hello! Hei bajingan!" Umpat Karang semakin dipenuhi amarah karena ulah Kenzo.
Karang mencoba untuk berpikir dengan tenang, lalu kembali menghubungi Kenzo.
"Apa kamu sudah memutuskannya?" Tanya Kenzo.
"Dimana Vee? Katakan dimana kamu sembunyikan dia?" Teriak Karang dengan penuh amarah.
"Okay, fine! Pilihan yang begitu mengejutkan, aku akan mengirimkan alamatnya. Jadi sekarang Renata milik ku!" Tegas Kenzo.
__ADS_1
"Kamu akan menyesali perbuatan mu hari ini!" Tegas Karang lalu memutuskan panggilan.
Setelah mendapatkan alamat, Karang langsung meluncur mencari alamat tersebut. Setelah menempuh perjalanan hingga beberapa puluh menit lamannya, kini motor Karang berhenti tepat di depan sebuah rumah sesuai dengan alamat yang ia dapatkan dari Kenzo, Karang segera berlari memasuki rumah tersebut.
Kedatangan Karang langsung disambut oleh orang-orang bayaran Kenzo, hingga mau tidak mau perkelahian pun terjadi dengn susah payah akhirnya Karang berhasil melumpuhkan ketiga lelaki yang menghadang dirinya pada pintu utama, tidak ingin membuang waktu yang ada kini Karang segera masuk untuk mencari sosok yang sejak tadi begitu ia khawatir kan.
"Benar-benar!" Gumam Karang saat ia mendapati dua orang lelaki lainnya sedang berjaga tepat di depan pintu sebuh kamar.
Karang kembali menyerang, meski mendapat beberapa pukulan itu tidak membuat dirinya mundur, dengan sisa tenaga yang masih ia miliki, Karang akhirnya berhasil mengalahkan dua lelaki kekar tersebut. Dengan nafas ngos-ngosan, tangan kanan Karang dengan kasar membuka pintu kamar tesebut.
"Bajingan!" Maki Karang saat mendapati Kenzo yang sedang membelai wajah Vee dengan penuh paksaan.
Suara Vee yang terus meminta tolong sama sekali tidak digubris olehnya, Vee terus meronta mencoba menghindari sentuhan Kenzo namun yang terjadi tangan Lenzo malah semakin brutal menyetuj wajah Vee dan yang satunya lagi mencengkram kedua tangan Vee dengan kuat.
Emosi Karang semakin tidak terkendali saat melihat perlakuan Kenzo terhadap Vee, Karang langsung menarik tubuh Kenzo menjauh dari Vee lalu dengan kasar mendorong tubuh Kenzo hingga terjatuh di pojok kamar.
"Abang..." Tangis Vee dan langsung bangun lalu memeluk Karang dengan erat.
"Abang disini, tenang lah!" Ujar Karang mencoba menenangkan Vee yang terlihat jelas begitu kacau dan ketakutan.
"Haaah! Pantes kamu menjadikan dia sebagai simpanan mu ternyata bibirnya begitu manis! Ups... Apa aku orang pertama yang merasakannya?" Tanya Kenzo saat mendapati ekspresi wajah Karang yang begitu kacau balau.
"Aku akan membunuh mu!" Tegas Karang lalu bangun dan kembali menyerang Kenzo.
"Hai...!" Seru Kenzo sambil menekan speaker pada tombol ponselnya yang sedang melakukan panggilan.
Tangan Karang seketika terhenti saat mendengar suara dari seberang sana.
"Lepaskan aku Ken, aku mohon lepaskan aku!" Pinta Renata dengan isak tangis yang terdengar jelas sedang ia tahan sekuat mungkin.
"Sayang, tenanglah!" Ujar Kenzo.
"Re kamu dimana? Katakan, aku akan segera menjemput mu!" Jelas Karang.
"Karang! Apa kamu dan Vee baik-baik saja? Kamu bersama Vee kan? Kamu menyelamatkan dia kan?" Pertanyaan Renata sontak membuat Karang kebingungan.
"Jawab aku Karang, kamu tidak membiarkan Vee dalam bahaya kan? Tolong selamatkan dia, selamatkan Vee, Karang!" Pinta Renata.
_____
__ADS_1