Diantara Galang Dan Karang

Diantara Galang Dan Karang
Marah


__ADS_3

Apa dia habis berantem?" Gumam Karang yang langsung panik saat mendapati pipi Vee yang memerah dan sedikit bengkak.


Perlahan Karang memperhatikan pipi Vee, lalu menyentuhnya pelan membuat Vee sedikit meringis di dalam tidur nyenaknya. Karang duduk tepat di samping tubuh Vee yang masih terbaring lelap, lalu kembali membasahi handuk yang ada di tangannya lalu meletakkannya kembali pada pipi Vee.


"Awwww!" Pekik Vee pelan dengan tangan yang langsung menyentuh bagian pipinya yang terasa sakit.


Tangan Vee justru menyentuh tangan Karang yang masih menyentuh handuk basah tersebut. Karang malah membawa tangan Vee kedalam genggaman hangatnya membuat Vee perlahan membuka matanya lalu mendapati sosok Karang yang sedang menatap khawatir pada keadaannya.


"Sejak kapan abang disini?" Tanya Vee yang segera bangun lalu menutup kepalanya dengan jilbab yang tergeletak di sisi kiri kasur.


"Apa kamu berkelahi di sekolah?" Karang malah mangajukan pertanyaan alih-alih menjawab pertanyaan dari Vee.


"Kenapa abang peduli? Aku kan bukan pasien abang!" Jelas Vee cuek.


"Vee!" Gumam Karang yang langsung berubah menjadi nada bicara yang begitu serius dan tegas.


"Cuman kejedot dinding doang." Bohong Vee dengan kepala tertunduk.


"Beneran? Kamu nggak sedang membohongi abang kan?" Tanya Karang memastikan.


"Hmmmm." Ujar Vee.


"Udah hampir magrib, jangan tidur lagi, mandi dan siap-siap sholat, abang juga mau pulang dan mandi, ntar abang balik bawain salep." Jelas Karang lalu segera berdiri.


Tangan Vee langsung bergerak menarik tangan Karang, sejenak saling memandang lalu perlahan Vee bergeser dan hendak memeluk Karang, namun seketika ia berhenti bahkan sebelum tangannya menyentuh tubuh Karang.


"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Karang yang dibuat heran dengan sikap Vee yang seakan menjaga jarak darinya.


"Hmmm, aku kangen banget sama abang." Jelas Vee.


"Lalu kenapa berhenti? Bukankah kamu ingin memeluk abang?" Tanya Karang.


"Hmmm, tadi niatnya begitu, tapi tiba-tiba aja..." Jelas Vee terhenti.


"Kenapa?" Tanya Karang yang semakin dilanda rasa penasaran.


"Kita kan bukan muhrim, untuk selanjutnya jangan lagi masuk ke kamar aku tanpa izin lebih dulu, dan juga jangan menyentuh aku." Jelas Vee.


"Bukan muhrim? Haaah! Sejak dulu kita emang bukan muhrim kan, terus kenapa kamu selalu aja nempel sama abang, tiba-tiba ke kamar abang, tanpa permisi langsung meluk abang, kenapa sekarang di permasalahkan?" Tanya Karang.

__ADS_1


"Dulu aku masih kecil, belum paham. Lagi pula sekarang udah beda cerita kan? Kalau ntar tiba-tiba aku malah kelepasan gimana?" Tanya Vee.


"Kelepasan? Kamu kira abang ini cowok brandalan?" Cetus Karang.


"Masalahnya bukan di abang tapi di aku. Kalau tiba-tiba aku nyium abang terus melecehkan abang gimana? Abang tau kan kalau anggota tubuh aku nggak bisa di kontrol dengan baik saat berada di dekat abang." Jelas Vee.


"Terserah kamu aja deh maunya gimana." Jelas Karang ngalah.


"Atau kita nikah aja, biar aku bebas ngapa-ngapain aja sama abang." Usul Vee.


"Ciiih! Sekolah dulu yang benar gih sana baru ngomongin nikah! Udah buruan gih mandi! Abang pulang." Cetus Karang dan lekas keluar dari kamar Vee.


Setelah menutup pintu rapat-rapat, kini langkah Karang terhenti dengan punggung yang bersandar pada dinding kamar disebelah kiri pintu.


"Menikah? Apa aku harus segera melakukannya? Lalu bagaimana dengan masa depan Vee, dia harus kuliah dan meraih cita-citanya, masa iya aku seegois ini hanya agar bisa menyentuhnya. Sadar, Karang! Berpikirlah dewasa, Vee masih remaja, perjalanannya masih jauh, jangan hanya karena dia mencintai kamu lantas kamu robohkan semua dunianya yang lain. Haissssshhh!" Gumam Karang pada dirinya sendiri dan lekas menuruni tangga hendak pulang.


"Loh, mau pulang?" Tanya Anggie.


"Iya tante, ntar malam aku balik lagi buat makan malam sama tante." Jelas Karang.


"Okay, terus Vee mana? Apa dia tidur?" Tanya Anggie.


"Lagi mandi, ya udah aku pamit pulang tante..." Jelas Karang dan segera berlari ke rumahnya.


_______


Vee yang duduk santai di ayunan terlihat sesekali mengayunkan tubuhnya mengikuti irama ayunan yang bergerak maju mundur sedangkan Karang duduk di bangku yang memang terletak berdekatan dengan ayunan yang sedang dimainkan oleh Vee.


"Apa abang tidak ada jadwal jagan malam ini?" Tanya Vee memulai pembicaraan.


"Hmmm!" Jawab Karang namun dengan fokus yang tidak teralihkan dari ponsel miliknya yang sejak tadi terus saja ia scroll tanpa henti.


"Apa lagi sibuk?" Tanya Vee.


"Nggak!" Jawab Karang bahkan tanpa menoleh pada Vee sama sekali.


"Sana gih pulang!" Gumam Vee yang bahkan langsung bangun dari ayunan dan hendak melangkah masuk ke rumah.


"Vee..." Panggil Karang yang juga ikut bangun.

__ADS_1


"Percuma aku duduk di situ, toh yang jadi fokus abang juma sama ponsel doang, manding aku ke kamar." Jelas Vee kesal.


"Abang lagi...!" Keluh Karang yang bahkan langsung di selip oleh Vee.


"Lagi chat sama pasien abang? Ngurusin mereka semua, gitu?" Tanya Vee yang terbawa emosi.


"Haissssshhh!" Gumam Karang kesal dan lekas pulang.


"Baru juga jadian, belum pun satu minggu, dia udah berulah! Apa sejak awal emang dia nggak sayang sama aku? Apa hanya karena kasihan atau nggak enakan sama mami makanya di menjadikan aku pacarnya? Aku harus gimana coba! Kenapa malah semakin rumit, perasaan orang lain pacaran enteng-enteng aja, kencan, nonton bareng, romantis, haissssshhh!" Gumam Vee kesal dengan mata yang terus saja menatap kepergian Karang yang perlahan menghilang dari perkarangan rumahnya.


________


"Karang, ini udah jam sebelas malam, kamu mau kemana? Apa ada pasien darurat?" Tanya Tuti saat mendapati Karang yang turun dari tangga dengan langkah yang terburu-buru.


"Ada urusan sebentar di luar ma, aku keluar sebentar ya!" Jelas Karang.


"Ke rumah sakit?" Tanya Tuti.


"Bukan ma, jumpai teman kok ma. Selamat malam!" Jelas Karang yang bahkan langsung berlari menuju garasi dan lekas pergi dengan menggunakan motornya.


Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, akhirnya Motor Karang berhenti tepat di alamat yang tertera di chat yang baru saja dikirimkan untuknya. Karang turun dari motor, matanya masih melirik ke sana-sini mencari sosok yang meminta dirinya datang ke lokasi sepi tersebut.


"Hai, lama nggak ketemu, gimana kabar kamu?" Tanya Kenzo yang perlahan keluar dari dalam mobilnya yang terparkir agak jauh dari tempat Karang berdiri.


"Haaaah! Jadi kamu rupanya? Ada apa? Masih mau ngulang masa lalu?" Tanya Karang sinis saat tau bahwa orang yang mengajaknya bertemu adalah musuh semasa SMA dahulu.


"Dokter Karang Frimawan, pekerjaan yang cukup wow." Ucap Kenzo.


"Lalu, bukankah pekerjaan mu lebih wow? Hmmmm, preman? Ganster? Atau aku harus menyebut mu Mafia? Profesi mu jauuuuuuuuh lebih wow!" Cetus Karang dengan tatapan sinis.


"Terserah kamu menyebutnya bagaimana, aku nggak peduli! Senang berjumpa kembali dengan mu! Ooooh, satu lagi sepertinya aku tertarik dengan bidadari mu itu, semakin remaja dia semakin terlihat seksi dan menawan!" Jelas Kenzo dengan tatapan penuh dengan aura mesum.


"Jaga mulut mu!" Tegas Karang yang mulai emosi.


"Upsss! Selain seksi, cantik dan imut ternyata kulitnya begitu halus, apa dia nggak cerita soal pertemuannya dengan ku tadi siang? Waaah, aku rasa dia sengaja merahasiakannya dari mu. Katakan padanya kalau lain kali aku bukan hanya akan menyentuh wajah cantiknya tapi..." Jelas Kenzo yang sengaja menggantungkan pembicaraannya.


Karang terlihat jelas begitu di penuhi amarah, kedua tinjunya semakin ia genggam dengan erat seakan siap menghantam wakah Kenzo.


"Bye....!" Jelas Kenzo dan langsung kembali ke mobil lalu pergi begitu saja.

__ADS_1


"Haissssshhh!" Gumam Karang kasar dengan kaki yang langsung menendang ban keretanya, dia terlihat jelas begitu marah saat ini.


_____


__ADS_2