Diantara Galang Dan Karang

Diantara Galang Dan Karang
Panik.


__ADS_3

Vee yang baru saja pulang sekolah dengan diantar oleh Wesvy langsung di hadang oleh Karang saat Vee bahkan belum keluar dari mobil Wesvy. Karang yang memang baru saja keluar dari gerbang rumah Vee, seketika langsung membuka pintu mobil Wesvy lalu menarik Vee keluar dari sana, sikap Karang justru membuat Wesvy juga segera keluar dari mobilnya.


"Abang..." Ujar Vee dengan mata yang terus saja menatap Karang yang sejak tadi masih saja mencengkram lengannya.


"Kenapa tidak minta abang buat jemput kamu? kenapa malah diantar sama bocah itu?" Tanya Karang.


"Jangan salah paham, aku yang menawarkan diri untuk mengantar Vee, soalnya tadi nggak sengaja aku lihat ada orang aneh yang terus memperhatikan Vee." Jelas Wesvy.


"Siapa? apa kamu melihat wajahnya?" Tanya Karang yang melangkah mendekati Wesvy.


"Maaf, aku sama sekali tidak bisa melihat wajahnya." Jelas Wesvy.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Karang yang kini beralih kembali mendekati Vee.


"Hmmmmm, abang habis dari rumah? nyariin mami?" Tanya Vee.


"Nungguin kamu, soalnya mama sama tante lagi pergi dan mungkin sampai malam baru pulang." Jelas Karang.


"Oooh!" Ujar Vee.


"Terima kasih sudah mengantar pulang pacar aku!" Ucap Karang lalu menarik tangan Vee untuk masuk.


"Terima kasih banyak, Wesvy. Ayo mampir!" Ajak Vee.


"Nggak usah, udah pulang aja gih sana." Cetus Karang bahkan sebelum sempat Wesvy menjawab ajakan Vee.


"Nggak usah Vee, sampai jumpa besok di kelas, bye!" Ujar Wesvy dengan senyuman dan kembali ke mobilnya.


"Jangan membalas senyumannya!" Tegas Karang yang langsung menutup pintu gerbang bahkan sebelum Wesvy pergi dari sana.


"Apa abang sedang cemburu?" Tanya Vee saat keduanya masuk ke dalam rumah.


"Ciiih! jangan bercanda, udah sana gih ganti baju, abang tunggu di meja makan." Jelas Karang yang langsung menuju ke ruang makan sedangkan Vee bergegas menuju kamarnya.


Setelah mengganti seragamnya dengan kemeja kotak-kotak berwarna abu-abu serta celana yang berwarna senada serta kerudung yang berwarna hitam kini langkah Vee segera keluar dari kamarnya, namun perlahan langkah Vee mulai melambat dan akhirnya terhenti di tangga karena mendengar suara Karang yang sedang memgobrol lewat ponselnya.


"Ayo bertemu! Akan aku jelaskan semuanya, sekali lagi aku katakan kalau aku ini adalah manusia, aku tidak bisa menjamin umur seseorang, setelah hasil tesnya keluar besok, aku akan langsung menemui mu." Jelas Karang dengan suara yang terdengar kesal sekaligus khawatir.


Vee yang masih terhenti di tengah-tengah tangga sana, perlahan menatap sosok Karang yang perlahan kembali melangkah menuju ruang makan.


"Apa dia sedang menyembunyikan sesuatu dari aku? Apa ini masih ada hubungannya dengan Kenzo? Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa tiba-tiba saja aku jadi khawatir gini?" Gundah Vee dengan suara yang begitu pelan.


"Vee, buruan!" Teriak Karang dengan suara lantang yang menggelegar ke setiap ruangan yang ada di rumah megah tersebut.

__ADS_1


"Iya bentar..." Jawab Vee yang lekas menuruni tangga lalu segera menuju meja makan.


Vee langsung duduk tepat dihadapan.


"Setelah makan, ayo ikut abang ke rumah sakit." Ajak Karang dan mulai menyantap makanan yang ada di hadapannya.


"Kenapa?" Tanya Vee yang juga ikut makan.


"Apanya yang kenapa?" Karang malah balik mengajukan pertanyaan.


"Iya kenapa ngakak aku ke rumah sakit, biasanya juga selalu ngelarang aku ikut abang." Jelas Vee santai.


"Karena di rumah nggak ada orang dan abang harus kembali ke rumah sakit." Jelas Karang.


"Kan ada pak saleh, bibi juga ada kan." Jelas Vee.


"Bibi nggak ada, dia lagi pergi keluar, udah nggak usah banyak ngomong, ikut aja sama abang." Jelas Karang.


"Aku di rumah aja, atau di rumah abang juga nggak masalah, kan ada mbak Ina di rumah abang, terus juga ada pak satpam kan, udah aku di rumah aja, biasa juga nggak apa-apa di tinggal sendirian." Jelas Vee.


"Kamu bisa nggak kalau nggak usah ngebantah abang? Tinggal ikut apa susahnya sih?" Cetua Karang yang mulai kesal dengan segudang alasan yang Vee sampaikan.


"Ya aku..." Protes Vee.


Beberapa menit kemudian, Karang udah siap diatas motornya, ia masih saja menunggu kedatangan Vee yang akhirnya muncul juga setelah menunggu hingga beberapa menit lamanya. Melihat mood Karang yang jelas terlihat nggak aman, Vee segera berlari mendekat dan tanpa perintah langsung naik keatas motor. Setelah Vee siap, tanpa sepatah katapun Karang lekas menjalankan motornya dan langsung menluncur menuju rumah sakit dimana dia selama ini bekerja.


_______


"Tunggu abang di ruang kerja abang, ada pasien yang harus abang urus!" Jelas Karang saat keduanya berjalan di lobi rumah sakit.


"Jangan lama, aku nggak betah sendirian." Jelas Vee.


"Ada Galang yang bakal nemanin kamu." Jelas Karang yang langsung masuk ke dalam lift dengan diikuti oleh Vee.


Pintu lift terbuka di lantai tiga dan Vee segera keluar.


"Jangan kemana-mana, tetap disana sampai abang datang." Jelas Karang.


"Hmmm!" Jawab Vee dan pintu lift pun kembali tertutup.


Karang yang baru saja sampai di lantai empat segera bergegas menuju ruangan dimana Hesti berada.


"Dokter..." Ujar Andri yang langsung mengikuti Karang memasuki ruang inap Hesti.

__ADS_1


"Gimana? Apa hasilnya sudah keluar?" Tanya Karang.


"Sudah dok, ini..." Jawab Andri lalu menyerahkan rekam medis milik Hesti kepala Karang.


Kini keduanya tepat berada di sebelah ranjang dimana Hesti terbaring dengan infus yang terpasang di tangannya. Karang mulai membaca rekam medis yang baru saja ia terima.


"Gimana kabar kamu hari ini?" Tanya Karang dengan senyuman.


"Masih sama seperti kemaren, tidak ada perubahan apapun, baik itu lebih baik ataupun tambah buruk." Jelas Hesti pelan.


"Kamu pasti akan segera membaik!" Jelas Andri dengan senyuman, ia mencoba untuk memberi semangat kepada sang pasien.


"Semua hasil pemeriksaan sudah keluar, kamu akan menjalani transplantasi hati setelah kami menemukan pendonor yang cocok, untuk lebih lanjut akan kami jelaskan setelah kami bicara dengan wali kamu." Jelas Karang.


"Abang Karang..." Panggil Hesti pelan.


"Hmmmm, apa ada hal yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Karang.


"Aku tidak ingin melakukan operasi apapun, aku tidak akan menerima donor hati dari siapapun itu. Tolong katakan pada abang Kenzo untuk menghentikan semua ini." Jelas Hesti.


"Hesti..." Ujar Karang.


"Aku tau, dia pasti memaksa abang untuk melakukan semua ini kan? Padahal hasilnya sudah jelas, kalau harapannya hanya 10% kemungkinan akan sembuh, jadi tolong, tolong minta dia untuk berhenti, aku mohon!" Pinta Hesti.


"Aku akan kembali menemui besok, istirahatlah!" Jelas Karang yang tidak berani memberi komentar apapun.


Karang keluar dari ruangan tersebut dengan disusul oleh Andri.


"Aku akan diskusi lebih dulu dengan dokter Galang, untuk saat ini tolong perhatikan Hesti dengan baik." Jelas Karang.


"Baik dok. Tapi, saat ini dokter Galang sedang melakukan operasi." Jelas Andri.


"Apa? Haissssshhh!" Gumam Karang yang langsung berlari menuju lift untuk turun ke ruangannya.


"Sial!" Gumam Karang yang segera masuk ke dalam lift.


Pintu lift kembali terbuka saat ia tiba di lantai tiga dan ia langsung berlari menuju ruangannya.


"Vee...!" Panggil Karang setelah membuka pintu ruang kerjanya dan matanya tidak mendapati sosok Vee do ruangan tersebut.


Ruang yang terlihat kosong sukses membuat Karang kalang kabut ketakutan, ia terus menelusuri setiap sudut ruangan hingga ke luar jendela namun tetap saja ia tidak bisa menemukan Vee, disaat Karang terus mencari dengan panik tiba-tiba ponselnya berdering, satu panggilan masuk membuat Karang segera merogoh ponsel yang berada dalam saku jas kedokteran yang ia kenakan, mata Karang membulat sempurna saat melihat nama 'Kenzo' yang tertera di layar ponselnya.


💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2