Diantara Galang Dan Karang

Diantara Galang Dan Karang
Annisa.


__ADS_3

"Cepat bawa teman mu pergi dari rumah aku, sebelum aku meminta polisi datang untuk menyeret kalian ke penjara!" Tegas wanita tersebut dengan wajah yang di penuhi dengan emosi, ia bahkan langsung menutup pintu dengan kasar.


"Aku minta maaf kare....!" Galang langsung menghentikan ucapannya ketika suara hantaman pintu yang cukup membuat dirinya kaget.


"Huffffff!" Desah Galang pelan mencoba untuk tetap tenang.


"Sial....!" Teriak Karang kesal.


"Ayo pulang!" Ajak Galang yang bahkan langsung menyeret tubuh Karang untuk pergi dari sana.


"Siaaaal!" Teriak Karang semakin brutal ia bahkan menendang kasar ban mobil.


"Tenanglah! Kalau kamu begini terus aku juga bakal ikut stres! Berhenti memperumit keadaan, ini bukan saatnya kita emosi dan marah-marah, kita harus berpikir dengan tenang, mencari solusi sama-sama!" Tegas Galang yang tidak lagi bisa menghadapi amarah Karang yang sama sekali tidak bisa dikontrol sedikitpun.


"Bagaimana aku bisa tenang jika taruhannya adalah Vee, aku tidak bisa berpikir dengan waras, aku...!" Keluh Karang dengan tetasan air mata dan badan yang lemah seketika.


"Huuuuf, aku tau, aku paham, ayo masuk, kita pikirkan lagi setelah keadaanmu bisa lebih tenang." Jelas Galang lalu membantu Karang masuk ke dalam mobil.


Karang duduk dengan memejamkan matanya, ia terlihat jelas sedang berusaha untuk berdamai dengan dirinya sendiri, sejenak menatap kearah Karang, Galang pun segera mengemudi untuk pulang. Di sepanjang perjalanan keduanya hanya terdiam, Galang membiarkan Karang untuk istirahat sebelum ia kembali bertarung dengan Kenzo. Namun disaat Galang fokus menyetir disaat itu pula ponsel Karang berdering keras hingga mengalihkan fokus keduanya.


Karang segera merogoh saku jeansnya lalu segera menjawab panggilan yang baru saja mengusik ketenangannya.


"Apa lagi?" Tanya Karang dengan nada yang terdengar jelas begitu ketus dan kasar.


"Waaaaah! Ternyata begitu mudah menghancurkan hidup mu, tau gini sejak dulu harusnya aku mengambil Vee dari kamu." Jelas Kenzo santai dari seberang sana.


"Berhenti bermain-main dengan ku! Sedikit saja kamu menyentuh Vee maka Hesti akan mati dengan cara yang tidak pernah kamu bayangkan sekalipun!" Tegas Karang.


"Karang...!" Ujar Galang berusaha agar Karang tidak memperkeruh keadaan yang sudah cukup sulit bagi mereka berdua.


"Hahh! Apa kamu lupa dimana posisi mu sekarang? Kamu sedang tidak berada diposisi yang telat untuk mengancam! Aaah sudah lah! Aku hanya ingin mengingatkan mu bahwa waktu mu telah berkurang satu hari, itu artinya kamu hanya punya sisa dua hari lagi untuk melakukannya, jika kalian gagal maka akan akan mengembalikan Vee tanpa bernyawa pada mu!" Tegas Kenzo dan langsung memutuskan panggilan secara sepihak.


"Dasar bajingan! Haissssshhh sial!" Maki Karang bahkan dengan membanting ponselnya.


"Apa yang dia katakan?" Tanya Galang pensaran.


"Dia benar-benar ingin melihat diriku dalam wujud pembunuh! Bajingan! Haissssshhh!" Gumam Karang lagi-lagi yang dia ucapakan adalah kata-kata makian.


Ponsel Karang kembali berdering dengan cepat Karang langsung menjawab panggilan yang baru saja masuk.


"Dasar bajingan gila! Sedikit saja kamu berani menyentuh Vee maka aku akan menghisap semua darah mu!" Gumam Karang.

__ADS_1


"Maaf dok, ini saya, Kania." Jelas Kania dengan suara terbata-bata.


"Maafkan aku Nia!" Ucap Karang dengn mengusap wajahnya.


"Dokter harus segera ke rumah sakit sekarang juga, pasien dokter tiba-tiba drop!" Jelas Kania.


"Atas nama?" Tanya Karang.


"Annisa, dok." Jelas Kania.


"Aku akan segera datang!" Tegas Karang yang langsung memutuskan panggilan tersebut.


"Kita balik ke rumah sakit sekarang, cepat!" Pinta Karang.


"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Galang.


"Keadaan Annisa sedang tidak baik, dia tiba-tiba drop." Jelas Karang dengan wajah yang terlihat jels begitu kebingungan.


"Hmmmm." Ujar Galang paham dan langsung menambah kecepatan berharap mereka segera tiba di rumah sakit sebelum hal buruk terjadi pada Annisa.


_________


"Sial! Lagi-lagi kamu tidak meminum obat, apa sih kerja kalian disini, kenapa kalian melewatkan hal terpenting dari pasien?" Gumam Karang dengan tatapan sangar pada para perawat yang sejak tadi berada di ruangan tersebut.


"Maafkan kami dok!" Ucap salah satu dari mereka dengan kepala tertunduk.


Galang kembali mengecek keadaan Annisa, namun aktivitas Galang langsung terhenti saat ia melihat tangan Annisa yang perlahan menyentuh tangan Karang.


"Dokter Karang, ini bukan salah mereka, jangan memarahi mereka, aku yang salah." Ucap Annisa dengan suara yang begitu lemah.


"Nisa,,,!" Ujar Karang.


"Kania, tolong segera siapkan ruangan operasi, aku akan melakukan operasi pada Nisa." Jelas Galang.


"Nggak dok, aku benar-benar tidak ingin kembali ke ruanga operasi, aku sudah nggak kua lagi." Jelas Annisa.


"Nisa, aku akan menyembuhkan mu!" Tegas Karang.


"Dokter Karang, hmmmmmm Karang, aku tau dengan jelas waktu yang akh miliki tidak banyak lagi, aku tau semuanya tentang penyakit ku ini dan aku sama sekali tidak pernah menyalahkan siapapun atas apa yang terjadi padaku, oleh karena itu, tolong biarkan aku pergi dengan tenang." Jelas Annisa.


"Nisa,,,!" Ujar Karang pelan dengan tangan yang perlahan menyentuh rambut Annisa.

__ADS_1


"Sebelum aku benar-benar pergi, aku akan mewujudkan permintaan mu, jadi mintalah apapun pada ku!" Jelas Annisa.


"Aku hanya ingin kamu sembuh!" Tegas Karang.


"Jangan meminta hal yang mustahil! Lagi pula aku tau apa yang saat ini sangat kamu butuhkan, ambilah!" Jelas Annisa.


(Apa yang sedang dia bicarakan? Apa dia tau sesuatu?) Bisik hati Karang kebingungan.


"Berikan hati mu untuk Karang!" Ucap Galang.


"Galang!" Gumam Karang yang bahkan langsung menampar wajah Galang.


"Karang!" Ujar Annisa dengan menyentuh kembali tangan Karang.


"Tolong berikan hati mu untuk Karang, aku mohon!" Pinta Galang dengan menundukkan wajahnya, dia terlihat memohon dengan penuh harapan.


"Hmmmmm, ambilah! Lakukan dengan baik, dokter Galang tolong lakukan operasinya dengan baik, selamatkan wanita itu, hmmmm!" Jelas Annisa dengan manatap dalam wajah Galang.


Ucapan Annisa membuat Galang kembali menatap wajah Annisa.


"Maafkan aku!" Ucap Galang.


"Annisa, jangan dengarkan dia! Aku bisa mencari pendonor lain, jadi yang harus kamu lakukan adalah cepat sembuh!" Jelas Karang.


"Karang, aku mohon biarkan aku melakukannya. Anggap aja ini sebagai bukti kalau cinta aku sama kamu itu benar-benar tulus." Jelas Annisa.


"Nisa..." Ujar Karang dengan suara tak karuan.


"Aku sangat mencintai mu, dokter Karang." Ucap Annisa dengan senyuman.


"Maafkan aku!" Ucap Karang dengan meneteskan air matanya.


"Hmmmm, aku tau kalau cinta dokter hanya milik gadis yang bernama Vee kan? Aku doakan kalian selalu bahagia. Ayo kita lakukan operasinya!" Jelas Annisa.


"Hmmmm, aku akan siapkan semuanya, untuk langkah pertama ayo kita lakukan screening, perawat tolong bawa Annisa dan Hesti ke ruangan pemeriksaan!" Jelas Galang yang bergegas untuk bersiap.


"Aku janji aku akan melakukannya dengan baik, percaya sama aku, hmmm!" Ujar Annisa dengan senyuman manis lalu ranjangnya pun mulai didorong oleh para perawat menuju ruangan Screening.


"Terima kasih banyak Nisa, dan juga maaf!" Ucap Karang dengan air mata yang tidak lagi bisa ia kendalikan, antara bahagia dan juga kesedihan yang mendalam.


💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2