Diantara Galang Dan Karang

Diantara Galang Dan Karang
Waktu Pulang.


__ADS_3

"Vee!" Seru Karang yang spontan menarik tangan Vee dari kerah baju Galang.


Karang yang awalnya hanya berniat menarik tangan Vee agar melepaskan kerah baju Galang namun berakhir tidak sesuai dengan harapan, Karang menariknya dengan menggunakan tenaga hingga membuat tubuh Vee ikut terseret kearah Karang yang sedang duduk di sofa dan disaat yang bersamaan pula tangan Vee secara refleks bukannya melepaskan kerah baju Galang ia justru ikut menarik Galang, dan hasilnya Galang pun ikut terjatuh keatas sofa sesaat setelah tubuh Vee terjatuh tepat di samping Karang.


"Awwww!" Jerit Karang kesakitan karena kini tubuhnya terhimpit oleh Vee.


"Haissssshhh!" Gumam Vee yang juga kesakitan karena tubuh Galang yang menghimpit dirinya.


Karang hendak bangun, namun usahanya malah membuat dirinya semakin terhimpit karena kini punggung Vee malah menempel pada bahu kanannya.


Galang mencoba untuk berdiri agar tidak menjadi beban pada yang lainnya namun hal tersebut justru membuat tubuh Galang terjatuh tepat kearah Vee karena memang ujung jas kedokteran milik Galang terganjal tepat dibawah paha Vee, disaat yang bersamaan pintu ruangan tersebut dibuka dari luar.


"Dokter Karang, dokter Galang...!" Panggil seorang suster, namun langkah dan ucapannya seketika terhenti karena mendapati pemandangan yang cukup membingungkan diatas sofa sana.


"Karang, Galang!" Seru Ryan yang tak lain adalah direktur rumah sakit tersebut.


Kedatangan Ryan membuat Ketiganya segera berdiri secara bersamaan.


"Ini semua kecelakaan!" Jelas Vee.


"Kalian ini benar-benar memalukan!" Jelas Ryan.


"Pak, ini nggak yang seperti bapak pikirkan, itu tadi kecelakaan." Jelas Galang.


"Udah terserah deh mau mikir gimana, kenapa bapak kesini?" Tanya Karang santai lalu kembali duduk membuat Vee dan Galang memandangnya dengan tatapan kesal bercampur heran.


"Apaa?" Tanya Karang karena mendapat tatapan mematikan dari Vee.


"Hmmm!" Jawab Karang lalu kembali berdiri karena mata Vee seolah terus berteriak memintanya untuk kembali berdiri.


"Aah, hampir saja lupa! Karang, mulai hari ini dan seterusnya kamu akan berbagi ruang kerja dengan dokter Galang, saya harap kamu bisa bekerja sama dengan baik, dia adalah dokter ahli loh, aku harap kali ini kamu tidak akan kembali berulah, dia rekan kerja mu bukan lawan perang mu, ingat itu!" Jelas Ryan yang memang paham betul dengan sifat Karang.


"Hmmmmm!" Jawab Karang pasrah.


"Ingat itu baik-baik!" Tegas Ryan dan lekas keluar dari ruangan tersebut dengan diikuti oleh suster dan menutup kembali pintu ruangan tersebut.


Setelah kepergian Ryan, Vee langsung beralih menatap horor kearah Galang lalu tanpa ba bi bu tangan Vee langsung melayang tepat mengenai wajah Galang, refleks tangan Galang malah langsung menampar wajah Karang, karena respon dari alam bawah sadar Karang malah balas menampar Vee.


"Vee, sorry! Abang refleks, benar-benar nggak sengaja!" Pinta Karang bahkan sambil memukul tangan kirinya yang tadi ia gunakan untuk menampar Vee dengan tangan kanannya.


"Kalian berdua benar-benar menyebalkan!" Cetus Vee marah.

__ADS_1


"Abang minta maaf!" Pinta Karang lalu memeluk Vee.


(Huffff! Ternyata begini lah kehidupan yang sebenarnya, aku melihat begitu banyak kebahagiaan diantara mereka berdua. Hmmmm, kini rasanya aku menyadarinya, bahwa hidup sendiri tanpa peduli pada siapapun selain bekerja dan bunda, ternyata pilihan ku bukanlah yang terbaik, aku keliru, aku salah! Rasanya aku ingin sekali menjadi bagian diantara tawa keduanya, aku iri.) Bisik hati Galang dengan tatapan sendu yang terus menatap Karang dan Vee, tidak hanya itu, air mata Galang bahkan menetes tanpa ia sadari.


"Kamu kenapa?" Tanya Karang yang menyadari keadaan Galang.


"Ohhh, aku kelilipan!" Bohong Galang.


Telpon yang tiba-tiba berbunyi membuat Karang hendak mengangkatnya namun langsung dicegah oleh Galang.


"Biar aku aja!" Jelas Galang lalu segera menerima panggilan tersebut.


"Dokter harus segera ke ruang 2, ada pasien kritis, cepat dok!" Jelas suara dari seberang sana.


"Baik, kami akan langsung kesana." Jelas Galang lalu menutup telpon tersebut.


"Ada apa?" Tanya Karang.


"Ada pasien kritis!" Jelas Galang.


"Ruang berapa?" Tanya Karang.


"Vee, kami tunggu disini ya, abang nggak akan lama!" Jelas Karang ia juga langsung berlari menuju ruangan pasien yang sedang kritis.


Galang yang lebih dulu sampai langsung memeriksa keadaan pasien tersebut.


"Apa yang terjadi?" Tanya Karang yang baru saja tiba.


"Pasien mengalami ventricular tachycardia, suster siapkan defribrilator!" Jelas Galang.


"Baik dok!" Jawab seorang suster dan langsung melanksanakan perintah Galang.


"Biar aku ambil alih!" Jelas Karang yang sudah bersiap untuk menerima defribrilator dari tangan suster.


"Biar aku aja!" Jelas Galang yang bahkan langsung beraksi.


"1 2 3, shoot!" Pinta Galang.


"Shoot!" Jelas Suster yang sudah bersiap.


Galang kembali mengulangi hingga beberapa kali namun tidak membuahkan hasil sama sekali, bahkan mesin elektrokardiograf yang terpasang pada pasien berbunyi memberi sinyal bahwa jantung pasien kini telah berhenti berdetak, itu artinya mereka gagal menyelamatkan pasien tersebut.

__ADS_1


"Dokter..." Jelas Suster dengan terus menatap garis lurus pada layar  elektrokardiograf.


"Awas!" Tegas Karang yang langsung mengambil alih pasien tersebut.


Karang langsung menekan bagian dada pasien dengan ritme yang beraturan dengan harapan ia bisa kembali memancing detak jantung pasien namun sekuat apapun usaha Karang, semuanya berakhir sia-sia.


"Dokter Karang...!" Ujar suster dengan tangan yang berusaha menghentikan tangan Karang.


"Haissssshhh, sial!" Teriak Karang dengan penuh emosi.


"Dokter, kalian harus mengumumkan waktu kematian pasien." Jelas suster.


"Haissssshhh!" Lagi-lagi Karang memaki kesal pada dirinya sendiri, tubuhnya bahkan langsung ambruk dilantai dengan punggung yang bersandar pada dinding ruang rawat tersebut.


"Pasien atas nama Ari dinyatakan meninggal pada hari Rabu tanggal 22 February 2023 pukul 16.02 sore hari." Jelas Galang dengan suara yang tertahan.


"Ini semua salah mu!" Tuduh Karang dengan mata yang kian memerah.


"Nggak ada yang salah, ini sudah menjadi takdirnya, kamu dan aku cuma dokter dan tugas kita usaha selebihnya bukan kuasa kita." Jelas Galang.


"Kamu tau, selama ini semua pasien yang aku tangani semuanya bisa aku selamatkan, tapi hari ini, setelah kau datang, semuanya kacau! Hari ini aku gagal menjadi dokter, aku gagal menyelamatkan satu nyawa dan itu artinya..." Gumam Karang dengan suara tertahan penuh dengan kesedihan.


"Dan itu artinya aku telah membiarkan satu keluarga menangis hari ini." Sambung Galang.


"Ini semua salah mu!" Tegas Karang dan langsung keluar dari ruangan tersebut.


Galang pun ikut keluarga, langkahnya begitu tertatih, dia terlihat begitu terluka.


"Kamu benar Karang, ini semua salah aku, jika saja, huffff!" Ujar Galang pada dirinya sendiri sambil terus berjalan.


"Ini bukan salah abang Karang ataupun dokter Galang, nggak ada yang salah, karena ini sudah takdir pasien tersebut, waktunya sudah habis, jadi bagaimanapun usaha kalian untuk menyelamatkannya pada akhirnya dia tetap harus pulang, karena memang waktu ia pulang sudah tiba." Jelas Vee yang terlihat begitu dewasa dengan segala ucapannya.


"Vee, kenapa disini? Karang mana?" Tanya Galang yang menyadari keberadaan Vee.


"Abang lagi ambil tas di ruangannya." Jelas Vee.


"Ayo pulang!" Ajak Karang dan lekas berlalu begitu saja.


"Kami duluan, semangat dok!" Ujar Vee dengan senyuman lalu berlari mengikuti langkah Karang yang telah lebih dulu pergi.


___________

__ADS_1


__ADS_2