Diantara Galang Dan Karang

Diantara Galang Dan Karang
Masa Lalu.


__ADS_3

"Ayo beri salam pada tetangga baru kita." Pinta Anggie kepada sang putri tercinta yang sejak tadi hanya berdiri kaku bak patung di hadapan pasangan suami istri yang baru saja membukakan pintu rumah mereka untuk menyambut kedatangan keluarga Salman.


"Selamat siang om, tante!" Sapa Vee dengan begitu ramah.


"Selamat siang sayang, gemes bangat, boleh tante memeluk mu?" Tanya Tuti yang begitu senang dengan sosok Vee.


"Boleh." Jawab Vee yang langsung mendapat pelukan hangat dari Tuti.


"Salam kenal, kami baru aja pindah ke sebelah, sekarang kita tetangga, semoga kedepannya kita bisa menjalin hubungan yang baik." Ujar Salman dengan mengulurkan tangannya kearah Antoni.


"Salam kenal juga, sepertinya istri saya sangat menyukai putri kalian." Ujar Antoni setelah menjabat tangan Salman.


"Ayo mari masuk!" Ajak Tuti yang langsung masuk dengan membawa serta Vee bersamanya.


"Ayo masuk!" Ajak Antoni.


Ketiganya pun masuk menyusul Tutu dan Vee yang telah lebih dulu menuju ruang tamu.


Mereka sibuk mengobrol dan bercerita tentang satu sama lain, mulai tentang keluarga, tentang pekerjaan lalu tentang anak, hingga suara lantang Karang menghentikan obrolan mereka semua.


"Mama, maa....!" Teriak Karang bahkan ia sudah mulai berteriak saat ia masih di teras rumah.


"Maaaa!" Karang masih berteriak memanggil sang mama sambil terus berlarian masuk ke dalam rumah.


"Kenapa teriak-teriak sih? Nggak bisa apa pakek salam, masuk dulu baru panggil mama? Apa lagi? Masalah apa lagi hari ini?" Tanya Anggie dengan tatapan tajam.


"Kamu berkelahi lagi?" Tanya Antoni yang menyadari beberapa lebam pada wajah Karang.


"Ini semua gara-gara mereka, mereka yang lebih dulu mengusik aku, pa." Jelas Karang membela diri.


"Ini baru namanya cowok, harus tahan banting, jangan biarkan siapapun mengusik mu, apalagi sampai menghajar mu, kamu keren!" Puji Anggie yang langsung mendekati Karang yang masih mengenakan seragam SMP dengan keadaan yang begitu berantakan.


Anggie mengangkat tinjunya seolah mengajak Karang untuk melakukan tos tangan dan tanpa tunggu lama Karang langsung melakukannya.


"Terima kasih tante!" Ucap Karang senang.


"Seperti istri saya sangat menyukai putra mu." Ucap Salman dengan menatap kearah Antoni lalu keduanya tertawa renyah.


"Apa dia anak tante?" Tanya Vee setelah sejak tadi terus memperhatikan sosok Karang.

__ADS_1


"Iya, dia anak tante, ayo kenalan!" Ujar Tuti.


"Salam kenal nama aku Veeliria, panggil aja Vee, senang berkenalan dengan abang." Jelas Vee panjang lebar.


"Karang!" Cetus Karang cuek.


(Kenapa bocah ini terlihat begitu cantik, aah apa ini? Jangan bilang aku langsung tertarik sejak pandangan pertama. Matanya benar-benar begitu indah, seakan terus memikat ku untuk menatapnya, waaah padahal di sekolah banyak banget cewek-cewek cantik tapi kenapa dia terlihat beda, kenapa tiba-tiba hati aku seperti bunga bermekaran seperti ini, huuuf) Bisik hati Karang yang terus berusaha mengendalikan dirinya serta menjaga tingkahnya agar tidak membuat yang lain tau tentang apa yang sedang ia rasakan saat ini.


"Vee, sebaiknya kamu nggak usah dekat-dekat sama bocah brandalan itu, ntar yang ada ketularan nakalnya. Kamu sama tante aja." Jelas Tuti yang kembali memeluk erar tubuh mungil Vee.


"Ayo tante bersihkan lukannya, mas Antoni, bisa tolong ambilkan kotak p3k!" Pinta Anggie.


"Hmmm, akan saya ambilkan." Jawab Antoni yang bahkan langsung mengambilkannya.


"Aku rasa emang seharusnya kita pindah kesini sejak dulu, mi. Kalian bagaikan ibu dan anak yang tertukar." Ujar Salman yang masih tidak mengerti dengan perlakuan istri dan tetangga barunya tersebut.


________


Vee yang sedang bermain seorang diri di teras rumah seketika segera bergegas pulang saat melihat Karang yang baru saja turun dari mobil papanya. Usaha Vee untuk kabur justru justru membuat dirinya terjatuh ke lantai. Melihat Vee yang kesusahan untuk bangun membuat Karang seketika berlari menghampiri.


"Apa ada yang sakit, ayo sini abang bantu." Ujar Karang yang langsung membantu Vee untuk bangun.


Setelah tubuh Vee berdiri tegak secepat kilat tangan Karang mencoba memeriksa kaki Vee, dia ingin memastikan bahwa Vee tidak terluka.


"Syukurlah, lain kali berhati-hatilah, gimana kalau sampai kamu terluka. Lagian kenapa buru-buru gitu? Mau kemana? Pulang?" Tanya Karang.


"Hmmm, aku mau pulang tapi aku baru ingat kalau aku belum pamit sama tante jadi aku mau masuk eh aku malah terpeleset." Jelas Vee.


"Ya udah ayo masuk, ingat lain kali hati-hati, jangan sampai terluka." Tegas Karang dengan senyuman.


"Kalau aku terluka kan ada abang yang bakal mengobati aku." Celetuk Vee sambil berjalan berdampingan dengan Karang.


"Emang kamu kira abang dokter apa, abang masih SMP loh!" Jelas Karang.


"Ya udah mending nanti jadi dokter aja, biar bisa mengobati ku." Ucap Vee.


"Dokter?" Tanya Karang.


"Hmmm, dokter." Jawab Vee pasti.

__ADS_1


"Baiklah, abang akan masuk universitas kedokteran, abang janji kalau abang akan jadi dokter yang hebat." Jelas Karang.


__________


"Selamat atas gelar dokternya!" Ucap Vee panuh semangat dan langsung memeluk tubuh Karang yang terlihat keren dengan toga wisuda.


"Terima kasih!" Ucap Karang.


"Selamat sayang!" Ucap Tuti lalu memberikan buket yang langsung diterima oleh Karang dengan senyuman sumringah.


"Makasih tante." Ucap Karang yang kini beralih memeluk Anggie.


"Akhirnya lulus juga, mama kira bakal gagal!" Cetus Tuti lalu memberikan buket bunga yang langsung diterima oleh Karang.


"Tapi terbuktikan kalau ketakutan mama benar-benar nggak terjadi, aku benar-benar bisa lulus dengan nilai tinggi." Jelas Karang dengan penuh rasa bangga.


"Selamat pak dokter." Ucap Salman.


"Terima kasih om, terima kasih karena sudah bela-belain datang padahal om lagi sibuk." Jelas Karang.


"Kalau sampai om nggak datang, kayaknya pulang dari kantor om bakal langsung digantung sama tante mu itu." Canda Salman.


"Om bisa aja!" Ujar Karang cengengesan.


"Selamat atas gelarnya, semoga bisa jadi dokter yang bermanfaat, setelah ini jalan mu masih panjang Karang, buktikan sama papa kalau kamu memang seorang dokter." Pesan Antoni.


"Iya pa." Jawab Karang tegas.


"Udah ayo buruan foto!" Ajak Anggie dan mereka segera merapat untuk berfoto bersama.


Setelah beberapa kali foto dalam formasi lengkap, kini beralih hanya bersama kedua orang tuanya lalu Karang bersama Anggie, mereka berfoto dengan senyuman penuh kebahagiaan.


"Ayo Vee!" Ajak Karang setelah Anggie beranjak dari samping Karang.


"Kita berdua?" Tanya Vee.


"Hmmm, kenapa kamu tidak ingin berfoto sama abang?" Tanya Karang.


"Siapa bilang nggak mau, orang udah dari tadi nunggu, emang cuma mami aja yang mau berduan sama abang Karang, aku juga mau." Jelas Vee yang segera berlari mendekat pada Karang.

__ADS_1


Vee langsung menggandeng tangan Karang lalu merebahkan kepalanya pada bahu Karang dan kamera pun langsung mengabadikan potret mereka berdua yang memamerkan senyuman lebar penuh kebahagiaan.


_________


__ADS_2