Diantara Galang Dan Karang

Diantara Galang Dan Karang
Dulu, Sekarang dan Selamanya.


__ADS_3

Karang yang baru saja tiba di kamarnya langsung melemparkan jas kedokteran keatas sofa, lalu merebahkan tubuhnya keatas tempat tidur, sejenak memejamkan mata mencoba untuk berdamai dengan masalah yang belakangan kerap bermunculan tanpa jeda.


Dengan lengan kiri yang menempel pada dahinya, mencoba mengatur nafas dengan tenang namun akhirnya semua usaha Karang untuk sejenak bisa damai berakhir dengan rasa kesal yang kembali menyerang dirinya saat suara ponselnya berdering nyaring, satu panggilan masuk.


"Sial...! Baru saja ingin tenang langsung ada yang cari perkara!" Gumam Karang lalu meraih ponsel milinya yang berada di saku celananya.


"Siapa lagi? Hufff!" Ujar Karang lalu menjawab panggilan tersebut.


"Siapa?" Tanya Karang dengan suara lantang.


"Rileks bro! Gimana? Kapan kamu akan melakukan operasinya?" Tanya Kenzo dari seberang telpon.


"Huffff! Ken, dengarkan aku baik-baik! Melakukan operasi bukanlah hal sepele, harus melewati beberapa proses terlebih dahulu." Jelas Karang berusaha untuk negosiasi dengan Kenzo.


"Okay! Waktu kamu dua puluh empat jam dari sekarang!" Tegas Kenzo.


"Kamu gila?" Gumam Karang yang amarahnya on seketika.


"Iyap! Sejak dulu emang aku gila. Setelah dua puluh empat jam kamu harus langsung melakukan operasi jika tidak maka nyawa Vee dalam bahaya, aku akan mengirim Hesti ke rumah sakit dimana kamu bekerja." Jelas Kenzo dan langsung memutuskan panggilan secara sepihak.


"Sial! Bajingan kamu Kenzo!" Maki Karang bahkan dengan tangan yang langsung melemparkan ponselnya bagi saja.


"Haissssshhh!" Gumam Karang dengan tubuh yang terus ia gulingkan kesana-sini dengan penuh rasa kesal.


"Hwuuuuuf aku rasanya aku memasukkan mu ke ruang operasi Ken, akan aku tarik keluar otak gila mu itu!" Gumam Karang lalu bangun dari kasur.


Langkah kaki Karang bergerak menuju balkon kamar, sejenak berdiri menghirup udara malam lalu pandangannya beralih kearah balkon kamarnya Vee.


"Apa dia baik-baik saja? Apa dia udah tidur?" Tanya Karang dalam kebisuan dengan rasa khawatir yang begitu dalam.


"Sebaiknya aku temui dia..." Ujar Karang lalu hendak pergi namun suara Vee yang memanggil namanya seketika membuat langkahnya terhenti.

__ADS_1


"Abang Karang..." Panggil Vee yang baru saja tiba di balkon kamarnya.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Karang lalu kembali ke posisi semula berdiri dengan menghadap kearah dimana Vee berada.


"Belum ngantuk, terus abang kenapa belum tidur? Apa masih memikirkan sesuatu?" Tanya Vee.


"Hanya nyari udara segar aja!" Bohong Karang.


"Abang..." Panggil Vee dengan menatap dalam bola mata indah milik Karang.


"Hmmmmm!" Jawab Karang yang berusaha untuk tetap tenang.


"Ayo kita saling jujur!" Ajak Vee.


"Tentang apa? Bukankah sejak awal emang tidak ada kebohongan diantara kita?" Jelas Karang.


"Saat kejadian itu, kenapa abang justru memilih datang menyelamatkan aku? Apa memang sejak dulu abang sudah jatuh cinta pada ku?" Tanya Vee yang sontak membuat Karang kaget.


"Jangan lagi membohongi aku! Saat itu aku percaya karena aku belum mengerti apapun, tapi sekarang aku bukan lagi bocah bang, aku udah ngerti semuanya. Apa abang pacaran dengan kak Renata hanya untuk melupakan perasaan abang terhadap aku? Apa kak Renata hanya pelarian?" Tanya Vee.


"Cukup Vee! Ayo tidur." Jelas Karang dengan suara lantang.


"Saat aku dan kak Renata berada diposisi yang sama, kami sama-sama akan dilecehkan, mereka akan merebut kesucian kamu tapi abang justru memilih menyelamatkan aku dari pada kekasih abang, apa artinya kalau bukan cinta!" Jelas Vee dengan emosi yang meledak dan air mata yang perlahan ikut serta membuat keadaan semakin menyedihkan.


"Abang bilang cukup Vee!" Pinta Karang dengan suara tertahan.


"Meski egois, tapi aku bersyukur karena abang memilih datang pada ku!" Ucap Vee di sela tangis pilunya.


"Abang akan kembali ke kamar, dan kamu juga cepat tidur, ini udah larut malam!" Jelas Karang dan langsung kembali ke dalam kamarnya meninggalkan Vee begitu saja.


Selepas kepergian Karang, kini tubuh Vee terduduk tak berdaya, dengan punggung yang bersandar pada jeruji besi pembatas balkon, kepala yang tertunduk dengan wajah yang menempel pada kedua lutut yang sedang ia genggam dengan begitu erat. Vee larut dalam isak tangis yang tak bisa ia kendalikan lagi.

__ADS_1


"Maafkan aku kak Renata, maaf?" Ungkap Vee dengan suara parau tak jelas.


"Ini bukan salah mu, kenapa sibuk minta maaf? Abang yang salah!" Jelas Karang yang tiba-tiba muncul di balkon kamar Vee.


Melihat keadaan Vee yang begitu kacau membuat Karang segera mendekat lalu membawa Vee ke dalam pelukannya.


"Maafkan abang, karena membuat mu jadi seperti ini!" Ucap Karang dengan tangan yang terus mengusap lembut jilbab yang Vee kenakan.


"Apa semua kejadian itu terjadi karena aku? Bahkan sekarang Kenzo meneror abang, ini semua tidak akan terjadi jika sejak aku tidak muncul di kehidupan abang." Jelas Vee dengan isak tangis yang masih terdengar jelas.


"Berhenti bicara omong kosong! Ini bukan salah siapapun." Tegas Karang.


"Jujur sama aku, apa tadi dia datang le rumah sakit? Apa yang dia katakan?" Tanya Vee yang perlahan mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Karang.


"Hmmmm!" Jawab Karang.


"Apa yang dia katakan?" Tanya Vee dengan tangan yang perlahan menyentuh kerah kemeja yang Karang kenakan.


"Tolong untuk kali ini aja, percaya sama abang, abang akan menyelesaikan semua masalah ini, hmmmm!" Jelas Karang dengan membawa tangan Vee yang sedang memegang kerah bajunya kedalam genggamannya.


"Bukannya aku tidak menaruh rasa percaya sama abang, aku percaya kalau abang akan melakukan apapun untuk ku, lalu bagaimana dengan diri abang sendiri? Tolong jangan tempatkan diri abang dalam bahaya hanya karena abang ingin menyelamatkan aku. Abang, apa artinya aku tetap aman jika tidak ada abang di samping aku jadi aku mohon tolong prioritaskan diri abang sendiri, aku mohon!" Jelas Vee yang langsung mendekap erat tubuh Karang yang terasa mematung tanpa reaksi apapun.


Permintaan Vee sontak membuat hati Karang terenyuh tak karuan, segala hal berubah menjadi kacau, perasaan dan detak jantungnya sedang tidak baik-baik saja, bahkan air mata perlahan menetes membasahi pipinya, tangan Karang sama sekali tidak membalas pelukan Vee, dia benar-benar mematung tanpa gerak sedikitpun. Vee yang sadar dengan apa yang sedang terjadi, perlahan melepaskan pelukannya, mata Vee menatap seluruh wajah Karang yang terlihat kebingungan.


"Abang..." Panggil Vee mencoba menarik Karang dari kebisuan.


"Abang mencintai mu, Vee. Aku sangat mencintai mu, Veeliria Agnesia Kanayya Rajaksa. Jangan tinggalkan abang, jangan pernah pergi dari abang, apapun yang akan terjadi tetaplah mencintai abang seperti dulu dan saat ini, pastikan hanya abang satu-satunya lelaki yang kamu cintai, berjanjilah!" Pinta Karang.


"Hmmmm, hanya ada abang, dulu, sekarang dan selamanya. Aku hanya milik abang Karang." Tegas Vee lalu kembali mendekap erat tubuh Karang.


💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2