Diantara Galang Dan Karang

Diantara Galang Dan Karang
Semakin Rumit.


__ADS_3

Melihat kedatangan Anggie seketika membuat Karang langsung mendekatinya lalu memeluk Anggie dengan manja.


"Tante, dia ngusir aku, dia menyuruh ku pergi dari sini!" Adu Karang bak anak SD, telunjuknya bahkan langsung menunjuk kearah dimana Vee masih berdir dengan tatapan geram padanya.


"Vee, ada apa ini? Apa karena teman sekolah mu datang lantas kamu menyuruh Karang pulang?" Tanya Anggie.


"Mi, udah! Jangan terus-terusan dengarin ocehan abang! Dia aja yang ngeselin, datang-datang langsung gangguin orang lagi ngerjain tugas." Jelas Vee membela diri.


"Nggak gitu kejadiannya tante." Bela Karang.


"Dasar tukang ngadu, lebay! Mami juga, selalu aja lebih percaya sama omongannya abang, terus aja dimanja, udah tua ingat umur!" Cetus Vee kesal.


"Tuh kan tante, Vee emang selalu gitu dia, selalu aja ngatain aku." Jelas Karang.


"Huuuuf! Benar-benar bikin ilfil!" Cetus Vee.


"Udah, mending ayo kita masuk aja Karang, biarkan mereka berdua disini!" Ajak Anggie dengan tangan yang merangkul Karang lalu keduanya lekas masuk ke dalam.


"Nyebelin banget! Selalu aja gitu." Cetus Vee.


"Khmmmm, kalau boleh tau, emang dia siapa?" Tanya Wesvy yang mulai angkat bicara setelah tadi hanya berdiam diri menyaksikan prahara Vee dan maminya.


"Tetangga aku." Jawab Vee jutek.


"Kok bisa ya, mami kamu justru terlihag lebih sayang sama dia ketimbang sama kamu, padahal cuma tetangga doang, malah tadi aku kira kalian tuh saudara." Jelas Wesvy.


"Tau deh! Mami aku emang gitu, sejak dulu selalu abang Karang yang menjadi prioritasnya." Jelas Vee.


"Hmmmm, soal tugas kita, jadi gimana? Mau dilanjut lagi sekarang atau udahan dulu?" Tanya Wesvy.


"Ayo lanjut!" Ajak Vee yang kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda karena kedatangan Karang.


Dua puluh menit berlalu dan akhirnya Wesvy dan Vee selesai mengerjakan tugas kelompok mereka, setelah itu Wesvy langsung pamit sedangkan Vee segera kembali kedalam dengan membawa serta semua buku dan peralatan tulisnya.

__ADS_1


Vee meletakkan semua bawaannya diatas meja tepatnya di ruang keluarga di mana Salman, Anggie dan Karang sedang berada. Kini tubuh Vee berdiri tepat di samping Salman dengan menghadap kearah dimana karang dan Anggie sedang duduk menikmati cemilan dan menonton acara TV.


"Ada apa sayang?" Tanya Salman yang paham dengan ekspresi wajah Vee yang terlihat sedang menahan diri agar tidak meledak.


"Hufffff! Ada perang dunia pi." Jawab Vee.


Dengan Vee langsung menarik lengan Karang lalu menyeret Karang untuk ikut bersamanya.


"Ikut aku sekarang juga!" Tegas Vee yang terus berjalan keluar dari ruangan tersebut.


"Vee, jaga sikap kamu, jangan keterlaluan sama Karang!" Pesan Anggie.


"Bakal aku bunuh anak kesayangan mami!" Gumam Vee yang terus saja melangkah menuju teras.


"Ada apa lagi coba?" Tanya Karang saat keduanya tiba di teras rumah.


"Cepat ngomong!" Perintah Vee.


"Sebenarnya abang kenapa sih? Kenapa bersikap kayak tadi ke Wesvy?" Tanya Vee.


"Abang nggak suka kamu dekat dengan cowok ingusan tadi!" Tegas Karang pasti.


"Apa? Haaaah! Jangan bercanda!" Gumam Vee.


"Abang serius! Abang nggak suka lihat kamu terlalu dekat sama bocah itu!" Tegas Karang.


"Dia memang bocah, dia masih SMA tapi tinggah dan sikap dia jauuuuuuh lebih dewasa dari pada abang!" Tegas Vee.


"Apa sekarang kamu sedang membandingkan dia dengan abang?" Tanya Karang.


"Tepat sekali!" Tegas Vee.


"Apa kamu menyukainya?" Tanya Karang.

__ADS_1


"Kalau iya emangnya kenapa? Apa hubungannya sama abang? Mau kami pacaran itu bukan urusan abang." Tegas Vee.


"Apa sekarang kamu sudah jadi playgirl? Kamu itu udah punya pacar, kenapa malah dekat sama cowok lain, apa kamu sama sekali tidak mau menghargai perasaan kekasih mu?" Jelas Karang.


"Maksud abang?" Tanya Vee dengan tatapan heran.


"Abang tau kalau kamu pacaran sama Galang, abang tau semuanya, Vee. Dan ingat, jangan sakiti Galang maka dia juga tidak akan menyakiti mu, jangan selingkuh dari dia, jadilah wanita yang setia." Jelas Karang.


"Abang, sebenarnya..." Penjelasan Vee bahkan langsung diselip cepat oleh Karang.


"Stop, cukup! Abang tau semuanya jadi kamu tidak perlu menjelaskan apapun lagi!" Jelas Karang.


"Abang..." Ujar Vee dengan ucapan terbata dan raut wajah yang terlihat sedih seketika.


"Abang tau kalau Galang adalah orang yang baik, dan abang percaya kalau dia akan membahagiakan mu selamanya, jadi abang mohon jangan sakiti dia.". Jelas Karang.


Perlahan tanpa terasa air mata Vee mulai menetes dengan sendirinya, Vee sedikit mendekat lalu mendekap erat tubuh Karang kedalam pelukannya.


(Kenapa maslaahnya jadi begini? Kenapa jadi semakin rumit dan sulit? Bagaimana cara aku menjelaskan semuanya, aku semakin tidak bisa berpikir dengan waras, bagaimana cara akau mengatakan kalau sebenarnya orang yang begitu aku cintai bukan abang Galang tapi kamu, kamu Karang. Kenapa semuanya malah berantakan nggak jelas seperti ini? Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku harus bagaimana?) Tanya Hati Vee yang semakin kewalahan dengan perasaannya sendiri.


"Apaan sih main peluk-peluk nggak jelas, awas! Abang mau pulang, bye!" Cetus Karang yang langsung berlari pulang tanpa lagi menoleh kearah Vee.


Langkah kaki Karang semakin cepat, ia tidak ingin orang rumah melihat dirinya pulang dengan air mata, Karang langsung ke kamarnya dan akhirnya menangis terisak disana.


"Ada apa dengan diri aku ini? Kenapa tiba-tiba rasanya sakit dan sesak begini? Apa yang sebenarnya tarjadi dengan perasanku ini? Harusnya aku bahagia karena Vee sekarang sama Galang, laki-laki yang jauh lebih baik dari aku, tapi kenapa aku malah nangis nggak karuan seperti ini? Karang get up please! Kamu dan Vee hanya sebatas tetangga doang nggak lebih, jangan berharap terlalu jauh, okay! Hanya sebatas tetangga, nggak lebih, ingat itu!" Tegas Karang pada dirinya sendiri dengan tangan yang perlahan mengusap air matanya.


Sejenak menarik nafas untuk menenangkan diri, memejamkan mata untuk melupakan segala perasaannya namun yang terjadi justru wajah Vee yang datang kedalam kedalam ingatannya. Senyuman, tawa, sikap manja seakan semuanya tergambar jelas di pelupuk matanya, semakin Karang berusaha untuk menghapus bayang-bayang Vee yang terjadi malah bayangan tersebut enggan pergi dari ingatan manisnya. Karang kembali mencoba membuka matanya, tubuhnya masih terduduk di tepi kasur dengan kedua tangan yang mengenggam erat rambutnya. Karang terus menerus meyakinkan dirinya untuk secepat mungkin melepaskan Vee dari semua kenangan indahnya namun yang terjadi justru air mata yang kembali membasahi pipinya, dia benar-benar terlihat begitu kacau, tanpa arah sama sekali.


Perlahan pintu kamar terbuka dari luar, terdengar langkah kaki yang perlahan melangkah menuju kearahnya membuat Karang mau tidak mau seketika harus terlihat baik-baik saja.


"Abang..." Panggil Vee dengan suara lembut lalu perlahan duduk berlutut tepat dihadapan Karang.


💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2