Diantara Galang Dan Karang

Diantara Galang Dan Karang
Selamanya.


__ADS_3

Sepulang dari makam Vee, Karang langsung pulang ke rumah, sejenak berdiri dengan terus memandang kearah rumah milik orang tuanya, mencoba menarik nafas dalam-dalam dengan mata yang terpejam dan segera melangkah menuju rumah milik Salman. Perlahan melangkah masuk menelusuri setiap ruangan dengan mata yang tertunduk tanpa semangat hidup sedikitpun.


"Sayang, baru pulang? gimana kerjaannya hari ini?" Tanya Anggie yang baru saja keluar dari kamarnya lalu mendapati Karang yang melintasi ruangan tersebut.


"Hmmm, semuanya berjalan lancar." Jawab Karang yang langsung memasang wajah dengan senyuman terbaiknya.


"Apa begitu melelahkan?" Tanya Anggie lalu perlahan mendekati Karang dengan tangan yang langsung mengusap lembut bahu Karang.


"Sedikit. Mi..." Ujar Karang.


"Iya, kenapa? apa terjadi sesuatu?" Tanya Anggie.


"Tidak mi, semuanya baik-baik saja. Aku baru saja pulang kecan, kalau begitu aku ke kamar dulu ya mami, mau mandi." Jelas Karang.


"Hmmm..." Ujar Anggie pelan membuat Karang perlahan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar milik Vee.


"Karang, terima kasih untuk semua yang telah kamu lakukan untuk putri mami dan juga untuk mami, kami sangat mencintai mu, sayang." Jelas Anggie lalu kembali ke kamarnya.


Sejenak berdiri dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena ucapan Anggie, lalu menatap tubuh Anggie yang menghilang dari pandangannya, setelah memastikan bahwa Anggie telah kembali ke kamarnya barulah Karang melanjutkan langkahnya masuk ke kamar.


Karang terus melangkah lalu menjatuhkan tubuh beratnya keatas tempat tidur dengan mata yang terus saja menatap foto Vee yang terpajang indah pada dinding kamar sebelah utara sana, matanya mulai menelusuri seisi kamar hingga berhenti pada bingkai foto yang terletak diatas meja rias, yah yang ada di bingkai tersebut adalah foto dirinya saat wisuda dulu dengan di dampingi oleh Vee yang terus memamerkan senyuman indahnya.


"Selamat jadi dokter! kelak jika aku sakit atau mungkin kecelakaan tolong sembuhkan aku, jangan biarkan aku terluka, abang kan dokter!" Ucapan Vee saat memberika buket untuk dirinya seakan kini kembali tergiang di telinga dan ingatannya.

__ADS_1


"Maafkan aku Vee, tolong maafkan abang, maaf karena tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan mu. Abang gagal menjadi dokter, abang bukanlah dokter! bukankah abang lebih cocok di panggil sebagai pembunuh? Vee, selanjutnya abang harus bagaimana? apa yang harus abang lakukan untuk mereka semua? bagaimana caranya abang bisa menjaga mereka berlima? abang harus bagaimana Vee? apa sebaiknya abang ikut bersamamu saja, hmmm? abang nggak kuat lagi, abang lelah!" Jelas Karang yang masih saja menatap wajah Vee yang sedang ia sandarkan di bahu kanan milik Karang.


"Abang..." Panggil Vee dengan senyuman manis dengan kaki yang terus berlari kearah Karang yang sedang duduk dengan mata yang begitu fokus pada layar ponselnya.


Tangan Vee langsung menarik ponsel milik Karang lalu melemparkannya keatas kasur, Vee mengambil posisi tepat disamping Karang dengan tangan yang langsung bergelayut manja pada lengan kekar Karang.


"Apa yang sedang abang pikirkan?" Tanya Vee dengan muka yang begitu jutek.


"Seisi dunia sedang abang pikirkan!" Tegas Karang kesal dan hendak beranjak dari sana.


"Duduklah sebentar, ada hal yang ingin aku katakan, ini serius!" Jelas Vee yang langsung membuat Karang menurut dan kembali pada posisi semula.


"Jangan pernah memikirkan hal gila! teruslah bahagia, jangan menjadikan diri sendiri sebagai pelaka atas segala hal buruk yang terjadi, baik itu pada ku ataupun pada abang sendiri! tetap kuat, aku akan selalu ada disini." Jelas Vee dengan tanganĀ  yang perlahan menyentuh dada bidang Karang.


"Vee...!" Ujar Karang dengan air mata yang perlahan menetes dari ujung matanya.


"Kali ini, tolong dengarkan aku, hmmmmm! kita akan selalu bersama selamanya, udah berhenti menangis! jangan cengeng, harus kuat, karena aku mencintai mu!" Jelas Vee.


"Abang mencintai mu...!" Ujar Karang pelan dengan suara tertahan.


Tangan Karang perlahan bergerak mencoba menyentuh wajah Vee, namun sebelum tangannya berhasil menyentuhnya, ia justru terbangun dari mimpinya.


"Vee..." Panggil Karang setelah membuka matanya dan ia tidak mendapati sosok Vee di dekatnya.

__ADS_1


"Karang..." Panggil Anggie sambil membuka pelan pintu kamar dan mendapati Karang yang sedang duduk termenung dengan air mata yang terus saja menetes membasahi pipinya.


Melihat kondisi Karang yang sedang tidak baik-baik saja membuat Anggie lekas masuk lalu duduk di samping Karang, tanpa ucapan sepatah kata pun Anggie langsung mendekap erat tubuh Karang kedalam pelukannya. Yang awalnya hanya ada air mata kita perlahan berubah menjadi isak tangis yang begitu memilukan, keadaan Karang benar-benar sangat kacau, tubuhkan bahkan melemah seketika.


"Tenanglah sayang... jangan seperti ini! jika kamu ambruk lalu bagaimana mami bisa bertahan? mami sudah kehilangan putri mami jadi jangan buat mami kembali merasakan kehilangan lseorang putra lagi, tetaplah kuat, setidaknya demi mami dan mama mu." Jelas Anggie yang terus mencoba membuat Karang kuat.


"Anggie, Karang..." Ujar Tuti yang masih berdiri diambang pintu sana.


"Mama, ada apa ma? apa mama butuh sesuatu?" Tanya Karang yang bahkan langsung menghentikan isak tangisnya lalu cepat-cepat mengusap air matanya.


"Tuti, ada apa?" Tanya Tuti.


"Kalian..." Ujar Tuti tertahan dan segera memeluk Karang dan Anggie secara bersamaan.


"Berhenti membohongi ku! padahal kalian juga terluka dan bersedih, lantas kenapa harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, kenapa hanya memikirkan perasaan aku saja!" Jelas Tuti yang selama tiga bulan ini hanya melihat sosok Anggie dan Karang yang begitu tangguh bahkan selalu menghibur dirinya yang terus menerus menangisi kepergian Vee.


"Ma..." Ujar Karang.


"Mama tau, kamu bahkan lebih hancur dari mama, tidak ada yang baik-baik saja setelah Vee pergi, kalian berdua juga berhak menangis!" Jelas Tuti.


"Maafkan aku ma, maaf karena tidak bisa menjaga Vee dengan baik!" Pinta Karang.


"Tidak ada yang salah, ini memang sudah takdir untuk kita semua. Batas usia Vee memang sudah habis, tidak ada yang bisa kita lawan saat ajal mendatangi kita, tidak ada yang bisa mengubah takdir tentang kematian." Jelas Tuti dengan begitu bijaksana.

__ADS_1


"Para wanita tangguh ku, aku sangan mencintai kalian berdua. Terima kasih untuk semuanya. Ayo kita hidup dengan bahagia, hanya raga Vee yang pergi, cinta dan sayangnya masih bersama kita, untuk selamanya." Jelas Karang lalu mengeratkan pelukannya pada kedua wanita paruh yang selama ini terus ada untuk dirinya.


__ADS_2