
"Kamu lihat sekarang? Apa semua hinaan mu itu tertuju untuk aku atau malah sebaliknya? Terbuktikan? Aku bisa berdiri tegak dan kokoh tanpa nama besar keluarga ku, dan satu lagi aku bukan pengecut, tapi pengecut yang sebenarnya itu adalah kamu!" Bisik Vee dengan jari telunjuk yang menunjuk tepat pada dada Wesvy.
Setelah puas melepaskan semua kekesalannya Vee kembali ke mejanya dan pastinya dengan disusuli oleh Wesvy yang juga kembali ke mejanya.
"Baiklah, pelajaran kita hari ini sampai pada pembahasan ini. Wesvy banyaklah bertanya sama Vee, dia juara kelas kita. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya, permisi." Jelas Ferdi dan langsung keluar dari kelas tersebut.
"Kamu emang selalu hebat, Vee." Puji Mahendra sang ketua kelas.
"Iya kan emang Vee selalu unggul dalam pelajaran apapun." Jelas Hengki siswa yang duduk tepat di hadapan Vee.
"Kalian ini, udah ah, ayo cabut!" Ajak Vee karena memang sudah waktunya pulang sekolah.
"Hayyok!" Ajak Tsania yang langsung merangkul Vee lalu keduanya sama-sama keluar dari kelas.
"Putra!" Panggil Vee saat melihat Putra di parkiran.
"Kenapa?" Tanya Putra.
"Aku titip mobil aku ya." Jelas Vee yang langsung menyerahkan kuncil mobilnya pada Putra yang merupakan sapupunya Vee dari pihak mama.
"Okay!" Jawab Putra santai dan bergegas masuk ke dalam mobil Vee dan lekas pulang.
"Terus kamu mau pulang pakek apa?" Tanya Tsania.
"Ayo bareng sama aku aja!" Ajak Mahendra.
"Udah sama aku aja, aku bakal antar sampai gerbang rumah mu!" Tawar Hengki.
"Mending bareng aku, bakal aku antar sampai pintu kalau perlu sampai masuk ke dalam rumah sekalian, aku ikhlas." Jelas Rio, siswa terjail di kelas Vee.
"Kalian ini, udah ayo biar aku yang antar!" Jelas Tsania.
"Sorry teman-teman baik ku semuanya, bukannya aku menolak kebaikan kalian semua, haha saja bentar lagi jemputan aku bakal datang. Udah kalian duluan aja gih!" Jelas Vee.
"Ya udah kalau gitu, hati-hati!" Jelas Mahendra.
"Bye bye!" Ujar Hengki dan Rio hampir bersamaan dan lekas pergi.
"Aku duluan,bye my hunny!" Jelas Tsania lalu segera ke mobilnya dan pulang.
Vee hendak meninggalkan area parkiran, ia memutuskan untuk menunggu Karang di depan gerbang sana namun langkah Vee langsung terhenti karena namanya di panggil oleh Wesvy.
"Vee, kita harus bicara!" Jelas Wesvy yang bahkan langsung menarik tangan Vee.
"Lepas!" Tegas Vee dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Vee, dengarkan aku, sebentar aja!" Pinta Wesvy.
"Nggak butuh! Aku mau pulang." Tegas Vee dengan menarik kasar tangannya dari genggaman Wesvy.
"Vee, aku hanya mau minta maaf, karena aku sudah salah dalam menilai mu." Pinta Wesvy.
"Dengarkan aku baik-baik! Kamu itu udah terlanjur membuat hati aku beku, aku nggak butuh permintaan maaf mu! Kamu sadar nggak? Kalau kata-kata kamu tadi sudah cukup membunuh mental ku! Yah, meski sebenarnya aku penasaran dari sisi mana kamu melihat aku sehingga kamu dengan lantang menghina aku seperti tadi." Jelas Vee lalu melangkah pergi.
Langkah Vee tiba-tiba terhenti lalu perlahan kembali menghampiri Wesvy.
"Dan satu lagi, jangan cara perkara lagi sama aku, jangan campuri apapun lagi urusan aku!" Tegas Vee memberi peringatan keras.
"Vee!" Panggil Wesvy.
"Stop! Jangan lagi panggil nama aku!" Tegas Vee dan langsung keluar dari gerbang sekolah.
Mata Vee terus saja mencari sosok yang tadi sudah berjanji bahwa ia akan datang untuk menjemput Vee. Namun yang di tunggu tak pula kunjung datang membuat Vee semakin kesal.
"Mana lagi tuh makhluk coba! Udah setengah tiga tapi belum juga keliatan batang hidungnya. Awas aja kalau sampai ingkar janji, bakal aku tebas lehernya." Gumam Vee yang mulai emosi.
"Ayo, aku antar!" Ajak Wesvy yang menghentikan mobilnya di samping Vee.
"Nggak butuh tumpangan! Masih punya kaki buat jalan!" Jawab Vee.
"Vee, aku minta maaf, ayo aku antar pulang!" Aja Wesvy lagi.
" Yakin ni tuan putri mau di bonceng dengan motor butut aku?" Tanya Vikar tak percaya.
"Udah ah, tolong antarkan aku pulang." Pinta Vee yang bahkan langsung naik keatas motor Vikar.
Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, vikar langsung mengantarkan Vee pulang dengan motor butut kesayangannya. Vikar menghentikan motornya tepat di depan gerbang rumah Vee.
"Terima kasih banyak, ayo mampir!" Ajak Vee.
"Lain kali aja lah tuan putri, aku pulang ya, bye!" Jelas Vikar.
Vikar langsung pulang, sedangkan Vee bukannya langsung masuk ke rumahnya ia malah langsung berlari memasuki rumah Karang.
"Vee, Karang mana?" Tanya Tuti saat mendapati mobil yang baru saja melewati ruang tengah.
"Bukannya abang di rumah? Atau belum pulang dari rumah sakit?" Tanya Vee.
"Karang baru aja pergi, katanya mau jemput kamu." Jelas Tuti.
"Nyasar kemana coba!" Keluh Vee kesal.
__ADS_1
"Tuh anak emang selalu aja nggak jelas, keluyuran ntah kemana-mana, ntar biar mama yang menegurnya, mama mau masak dulu ya sayang." Jelas Tuti.
"Iya ma, kalau gitu aku tunggu abang di atas aja." Jelas Vee dan langsung menaiki tangga menuju kamar Karang.
Sesampai di kamar Vee langsung menghempaskan tubuhnya untuk berbaring melepas lelah sambil melempar ransel dan kaos kaki berceceran di lantai sana, untuk bebeapa menit pertama, Vee masih saja menggulingkan tubuhnya ke kiri lalu ke kanan berharap yang di tunggu lekas datang namun akhirnya ia malah tertidur nyenyak.
Karang yang baru saja pulang, terus saja mengomel dengan penuh rasa kesal.
"Hauissssh! Katanya nungguin di jemput, eh taunya malah kelayapan nta kemana, benar-benar ngeselin banget tuh anak, makin hari tingkahnya semakin menjengkelkan, bisanya cuna ngerepotin orang setiap hari, hauissssh!" Gumam Karang sambil terus memasuki rumah.
"Keapa teriak-teriak nggak jelas?" Tanya Tuti.
"Itu, siapa lagi kalau bukan putri kesayangn mama, berulah lagi dia! Pas di jemput malah hilang ntah kemana!" Jelas Karang kesal.
"Siapa yang hilang, Vee lagi di atas, nungguin kamu." Jelas Tuti.
"Dia udah pulang? Waaah benar-benar tuh anak, suka-suka hati dia aja!" Cetus Karang.
"Orang kamunya yang salah!" Tuduh Tuti.
"Kenapa jadi aku yang salah?" Tanya Karang heran.
"Ya karena kamu yang telat jemputnya." Jelas Tuti.
"Mama selalu aja gitu..." Ujar Karang dan langsung naik ke atas.
"Vee...!" Teriak Karang lantang dengan tangan yang langsung membuka pintu kamarnya.
Betapa kagetnya Karang saat mendapati keadaan kamarnya yang begitu berantakan dan Vee yang tertidur begitu pulas diatas tempat tidur miliknya yang kini lebih mirip dengan kapal pecah.
"Vee, kamu apakan kamar aku? Apa tadi disini gempa?" Keluh Karang kesal namun ia tetap merapikan kamarnya, ia bahkan menaikkan Kembali tangan Vee yang mengambang di udara.
"Selalu saja buat orang kesal setengah mati!" Cetus Karang sambil menatap wajah Vee yang tertidur dengan begitu lelap.
Perlahan tangan Karang mencoba untuk sedikit menarik jilbab yang menutupi mata kanan Vee, hingga akhirnya ia berhasil, meski agak berantakan namun kini wajah Vee terlihat seutuhnya.
Karang larut dalam tatapannya hingga dia terbawa suasana, perlahan tangannya kembali menyentuh wajah Vee namun disaat Karang larut dalam perasaannya di saat itu pula pintu kamar di buka dari luar.
"Karang!" Panggil Tuti.
"Iya ma!" Jawab Karang yang bahkan langsung berdiri menjauh dari Vee.
"Vee mana?" Tanya Tuti.
"Tidur ma, oh ya hampir lupa, aku harus kembali ke rumah sakit. Aku pergi dulu ya ma!" Jelas Karang gugup dan lekas pergi.
__ADS_1
Tuti pun ikut turun, ia tidak ingin menganggu tidur nyenyak Vee.
💜💜💜