
"Apa kamu sudah lapor polisi?" Tanya Antoni.
"Kamu benar-benar keterlaluan Karang! Cari Vee sampai ketemu! Mama mau kamu bawa Vee kembali pulang!" Gumam Tuti bahkan sebelum Karang sempat menjawab pertanyaan dari sang papa.
"Ma, cukup! Aku tau kalau mama khawatir, dan aku juga sama, kita semua sama, kita khawatir dengan keadaan Vee! Aku janji, bagaimana pun caranya aku akan membawa Vee kembali pulang!" Jelas Karang.
"Ayo kita ke kantor polisi!" Ajak Salman.
"Hmm, sebaiknya kita memang harus ke kantor polisi." Jelas Antoni.
"Om, pa, untuk saat ini tolong jangan lapor polisi. Aku akan menyelesaikan semuanya, percaya sama aku, aku akan membawa Vee kembali." Jelas Karang.
"Hmmm, baik sayang, tante percaya sama kamu, jadi tante mohon, tolong cari Vee, bawa dia kembali pada kita." Pinta Anggie penuh harap.
"Om percaya sama kamu, Karang. Tolong bawa pulang putri semata wayang om." Jelas Salman.
"Hmmmm, aku pasti akan menemukan Vee, pasti!" Tegas Karang.
"Terima kasih sayang!" Ucap Anggie lalu kembali memeluk Karang.
"Aku pamit, assalamualaikum!" Ujar Karang setelah melepaskan tubuhnya dari pelukan Anggie.
" Hati-hati!" Pesan Salman.
"Jika terjadi sesuatu langsung hubungi papa, kamu paham kan?" Jelas Antoni.
"Iya pa." Jawab Karang dan lekas pergi, kali ini ia pergi dengan menggunakan motornya.
_____
Tepat pukul 21.30 Galang keluar dari kamarnya, dengan langkah yang begitu terburu-buru ia terus menuruni tangga dengan tangan yang berusaha mengancingi kemejanya sedangkan lengan kirinya menjepit sebuah map di dipenuhi dengan beberapa file. Langkah yang tidak fokus membuat ujung map menepis bagian penghalang disisi tangga hingga membuat map tersebut jatuh dan kertaspun berhamburan di tangga hingga ke lantai. Galang segera memugut kertas tersebut membut Mutia yang melihatnya juga lekas ikut membantu memugut kertas yang ada dilantai.
"Mau kemana?" Tanya Mutia.
"Ke rumah sakit ma." Jawab Galang sambil terus mengutip setiap lembar kertas yang berjatuhan diatas tangga.
"Loh, kenapa buru-buru sekali? Ada apa? Apa ada pasien darurat?" Tanya Mutia setelah berhasil mengumpulkan semua kertas ditangannya.
"Ada masalah besar ma, aku harus segera kembali ke rumah sakit, nanti aku cerita sama mama!" Jelas Galang.
"Hmmm, hati-hati!" Jelas Mutia setelah menyerahkan kertas tersebut pada Galang.
__ADS_1
"Aku pamit ma, assalamualaikum!" Jelas Galang lalu mengambil semua berkas miliknya dan lekas pergi dengan mobilnya.
_______
"Gimana? Udah dapat pendonornya?" Tanya Galang yang perlahan melangkah mendekati Karang yang terlihat sedang berdiri di depan jendela dengan tatapan kosong menatap malam dari balik kaca jendela.
"Aku benar-benar bingung! Bagaimana bisa aku mendapatkan pendonor hati dalam waktu tiga hari! Dia benar-benar gila!" Gumam Karang.
"Sebenarnya..." Ujar Galang terhenti.
"Apa kamu menemukannya?" Tanya Karang yang langsung bersemangat.
"Hmmm, aku punya satu orang, tapi...dari rekam medis miliknya seperti kita hanya punya 20% kemungkinan kecocokannya." Jelas Galang.
"Kita kan belum melakukan screening, jadi semuanya belum pasti, 20% bisa saja berubah menjadi 100%, ayo temui pendonornya!" Jelas Karang.
"Karang, percuma, aku rasa kita pasti gagal, sebaiknya kita cari pendonor yang lain saja!" Jelas Galang.
"Aku nggak peduli, aku akan tetap menemuinya!" Jelas Karang dan lekas pergi.
"Baiklah, ayo temui dia." Ujar Galang mengalah dan lekas pergi menuju alamat rumah sakit dimana pasien tersebut dirawat.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, keduanya segera bergegas masuk lalu menemui resepsionis rumah sakit tersebut.
"Baik, tunggu sebentar, saya cek dulu!" Jelanya dan segera mengecek data di komputer.
"Maaf pak, pasien atas nama Nadia Ervina sudah keluar dari rumah sakit ini, baru saja dua hari yang lalu dibawa pulang oleh pihak keluarganya." Jelas resepsionis tersebut.
"Bisa tolong berikan kami alamatnya?" Tanya Galang.
"Maaf, kami tidak bisa memberikan informasi pribadi pasien." Jelasnya.
"Berikan kami alamatnya!" Gumam Karang.
"Tenanglah!" Pinta Galang dengan suara pelan.
"Maaf mbak, saya adalah dokter Galang, saya hmmm, saya adalah dokter yang akan menanganinya. Bisa tolong berikan alamat rumahnya, dia pasien saya, tolong banget mbak!" Jelas Galang sedikit berbohong.
"Hmmmmm,,,!" Ujarnya kebingungan.
"Tolonglah mbak, ini demi keselamatan pasien." Jelas Galang lagi.
__ADS_1
"Baiklah!" Ujarnya dan langsung menuliskan alamat pasien tersebut pada secarik kertas lalu memberikannya pada Galang.
"Terima kasih banyak, mbak cantik!" Ucap Galang dengan senyuman.
"Ayo buruan!" Ajak Karang yang bahkan langsung bergegas keluar dengan diikuti oleh Galang.
Keduanya kembali pergi menuju alamat yang baru saja mereka dapatkan dengan susah payah. Setelah menempuh perjalanan hingga beberapa menit lamanya akhirnya kini keduanya sampai depan sebuah rumah.
"Apa sebaiknya kita kembali besok aja, nggak etis rasanya kita bertamu tengah malam gini!" Usul Galang.
"Udah buruan turun!" Tegas Karang yang bahkan langsung keluar dari mobil dan langsung memasuki area rumah tersebut.
Galang pun buru-buru menyusul Karang, dia tidak ingi Karang kembali membuat masalah.
"Biar aku!" Ujar Karang yang spontan menghentikan tangan Yang hendak menekan bel pintu rumah tersebut.
Galang mangambil alih, perlahan menekan bel hingga dua kali barulah pintu rumah tersebut terbuka dari dalam, seorang wanita remaja keluar dari balik pintu.
"Kalian siapa? Ada perlu apa?" Tanya wanita itu judes dan dengan tatapan yang sangat tidak ramah.
"Maaf, apa benar ini rumahnya Nadia Ervina?" Tanya Karang.
"Kalian siapa? Ada hubungan apa kalian dengan adik aku?" Tanyanya.
"Aku hanya ingin bertemu dengannya sebentar saja, dimana dia?" Tanya Karang yang mulai tidak bisa sabar.
"Karang, biar aku yang bicara!" Tegas Galang dengan menatap kearah Karang membuat Karang sedikit mundur.
"Maaf mbak, kami adalah dokter. Aku dapat info dari dokter Joe bahwa adik mbak, yaitu Nadia ingin mendonorkan hatinya, jadi kami ingin menemuinya, apa boleh kamu bertemu dengan Nadia, sebentar?" Jelas Galang perlahan.
"Kalian terlambat! Pulanglah!" Jelas wanita itu lagi.
"Apa maksud mu? Bicara yang jelas? Apa dia membatalkan rencananya? Atau malah kamu yang membuatnya berubah pikiran?" Tanya Karang yang kembali terbawa emosi.
"Karang, tenanglah! Tahan dirimu." Tegas Galang yang kembali menarik tubuh Karang agar menjauh dari wanita tersebut.
"Mbak, tolong izinkan kau bertemu sebentar saja, aku mohon!" Pinta Galang.
"Adik ku memang sangat ingin mendonorkan hatinya karena hanya hati satu-satunya organ terbaik yang dia miliki, dan dengan mendonorkannya dia percaya kalau dia akan tetap hidup meski diraga orang lain, setidaknya dia tidak benar-benar meninggalkan aku dan mama. Namun sayang, saat ini dia telah tiada, dia sudah meninggal." Jelas sang kakak tang terlihat jelas begitu sedih.
"Apa? Lalu dimana makamnya? Aku akan menggali makannya!" Jelas Karang yang dengan spontan langsung mendapat tamparan keras di wajahnya.
__ADS_1
💜💜💜