Diantara Galang Dan Karang

Diantara Galang Dan Karang
Maaf.


__ADS_3

"Vee, Vee! Panggil Karang dengan suara lantang.


Karang terus berteriak memanggil nama Vee hingga beberapa kali namun tidak ada hasil sama sekali. Vee belum juga muncul membuat Karang akhirnya memutuskan untuk meluncur menuju rumah tetangganya tersebut.


Karang terus berlari menuruni tangga, lalu semakin menambahkan kecepatan langkahnya hingga ia sampai di rumah Vee.


Karang bahkan langsung masuk lalu menemui Anggie dan Salman yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Tante, Vee ada di rumah?" Tanya Karang.


"Di kamarnya sayang, apa ini soal tadi siang?" Tanya Anggie.


"Iya tante." Jawab Karang.


"Udah nggak usah terlalu dimanja tuh bocah, ntar semakin menjadi-jadi tingkahnya itu, yang ada kamu bakal kewalahan melayaninya." Jelas Anggie.


"Udah, lebih baik kamu temui Vee dulu, gih buruan!" Jelas Salman.


"Hmmmm, aku permisi om, tante." Ujar Karang yang bergegas mencari keberadaan Vee.


"Vee!" Panggil Karang dengan tangan yang dengan spontan membuka pintu kamar Vee.


"Ngapain kesini?" Tanya Vee yang masih berdiri di depan jendela kamarnya.


"Udah deh, nggak usah bertingkah! Kamu kenapa? Lagian, kamu itu marah sama siapa? Perasaan abang tidak melakukan kesalahan apapun." Jelas Karang.


"Tanya aja sama diri abang sendiri!" Cetus Vee.


"Loh, kok tanya sama abang? Emang abang yang buat salah?" Tanya Karang.


"Tauh ah!" Cetus Vee kesal.


"Mulai lagi dek, kumat aja terus tuh penyakitnya!" Cetus Karang.


"Siapa yang mulai? Kan abang yang duluan manas-manasin." Jelas Vee.


"Kamu kira kompor kali di panas-panasin!" Cetus Karang.


"Nggak usah becanda, nggak lucu!" Tegas Vee.


"Siapa pula yang bercanda, ayo kita ngomong, katakan, salah abang dimana?" Tanya Bara


"Terserah abang aja!" Cetus Vee lagi.

__ADS_1


"Terserah gimana coba? Ayo ngomong, dimana emangnya salah abang?" Tanya Karang yang mulai bicara serius.


(Dia benar-benar bodoh atau terlalu polos sih? Hello, aku tuh sedang cemburu! Cemburu setengah mati sama cewek yang namanya Nisa itu! Abang Karang sebenarnya tau nggak sih kalau aku menyukainya? Kan nggak mungkin aku yang nyosor duluan ke dia, atau mungkin memang sejak awal dia cuma menganggap aku sebatas tetangga doang? Lalu bagaimana dengan hati aku ini? Apa bisa aku hanya menjadi tetangganya saja?) Bisik hati Vee yang hanyut dalam lamunannya.


"Tuh kan ujung-ujungnya bengong nggak jelas! Ayo ngomong! Kenapa?" Tanya Karang.


"Apa abang nggak ingat? Atau pura-pura lupa? Bukankah kita udah janji?" Tanya Vee.


"Janji?" Ulang Karang mencoba mengingat apa yang telah dia janjikan pada Vee.


"Udah lah! Aku ngantuk!" Tegas Vee dan hendak ke tempat tidur.


"Ya ampun! Sorry, abang lupa. Hmmm, gimana kalau kita kesana sekarang?" Tawar Karang.


"Udah tengah malam, udah basi!" Cetus Vee.


"Abang rasa belum basi, ayo!" Ajak Karang yang bahkan langsung menarik tangan Vee untuk ikut bersamanya.


Keduanya buru-buru menuruni tangga.


"Kalian mau kemana?" Tanya Salman.


"Om, kami izin keluar sebentar." Pinta Karang.


Keduanya langsung berlari menuju halaman belakang rumah keluarga Vee, lalu menghentikan langkah mereka tepat di tepi sebuah danau buatan yang memiliki air yang begitu jernih dan sejuk, disisi kiri danua terdapat sebuah pohon mangga yang lumayan rindang dan besar lalu di cabang bagian Utara pohon terdapat dua buah ayunan yang terikat dengan tali yang  kuat lalu kayu yang berwarna coklat yang terpasang sebagai tempat duduk ayunan tersebut.


Lalu pada cabang bagian selatan pohon mangga terdapat sebuah sangkar yang dihuni oleh dua ekor merpati putih.


"Tuh kan udah gelap, banyak nyamuk lagi!" Keluh Vee.


"Udah tenang aja! Duduk gih sana!" Jelas Karang.


Vee nurut, ia langsung duduk di salah satu ayunan. Sejenak Karang mencoba mengumpulkan beberapa rerantingan pohon lalu mengumpulkannya dan terakhri membakarnya.


"Anggap aja api unggun!" Jelas Karang lalu duduk di ayunan yang satunya lagi.


"Gimana? Udah nggak terlalu gelap lagi kan? Nyamuk juga perlahan pergi!" Lanjut Karang dengan menoleh kearah Vee.


"Hmmmm!" Ujar Vee sambil terus berayun.


"Vee, kamu ingat nggak? Pas waktu itu kamu masih kelas 4 SD, kamu hampir aja tenggelam disini, hingga mama bersikeras ingin menimbun danau ini. Dan itu terjadi karena ulah abang yang memaksamu untuk bermain disini, saat itu Abang benar-benar ketakutan, abang takut kalau sesuatu yang buruk sampai terjadi di padamu waktu itu, abang tidak akan pernah bisa memaafkan kelalaian abang saat itu." Jelas Karang.


"Dan untungnya abang menyelamatkan aku tepat waktu, dan tadaaaaaaa! Lihatlah, sekarang ini aku baik-baik saja." Jelas Vee girang.

__ADS_1


"Vee, abang sayang kamu." Ucap Karang dengan tatapan penuh ketulusan.


"Aku juga sayang sama abang Karang." Ucap Vee dari lubuk hati terdalam.


"Oh ya, ayo main!" Ajak Vee yang tiba-tiba mengeluarkan dua perahu kertas dari saku piyamanya.


"Hayyok!" Jawab Karang penuh semangat.


Karang langsung mengambil salah satu perahu kertas yang ada ditangan Vee, keduanya kembali melangkah menekati tepi danau lalu dalam waktu yang bersamaan melapaskan parahu kertas yang ada ditangan masing-masing. Perlahan perahu kertas pun mulai berlayar mengikuti arah angin malam, Karang dan Vee duduk lesehan di atas rumput yang tumbuh hijau nan subur di pinggir danau tersebut.


" Tuh kan! Sejak dulu sampai sekarang emang selalu saja perahu aku yang menang." Puji Vee dengan penuh rasa bangga atas dirinya sendiri.


"Lihat aja, kali ini perahu abang yang bakal menang, apapun ceritanya." Tegas Bara dengan tangan yang mulai mendorong perahu miliknya dengan ranting yang sejak tadi berada ditangannya.


"Dasar curang! Abang selalu aja main Curang!" Tuduh Vee yang mulai emosi.


Vee mengambil ranting lalu melemparkannya tepat mengenai perahu kertas milik Karang, bahkan hingga membuatnya tenggelam.


"Yeeee aku menang!" Teriak Vee riang dan puas.


Secepat kilat, Karang mencari batu lalu melemparkannya secara brutal tepat memgenai perahu Vee dan membuatnya tenggelam. Ternyata batu yang Karang lempar ke danau tidak hanya membuat perahu milik Vee tenggelam namun juga membuat percikan air melesat mengenai piyama Vee dan membuatnya basah.


"Maaf, abang benar-benar nggak sengaja!" Pinta Karang panik.


Vee tidak memberi komentar apapun, yang ada kedua tangannya spontan memeluk tubuhnya sendiri saat angin mulai bertiup dan bermain dengan baju basahnya. Melihat Vee, sontak membuat Karang segera memeluk tubuh Vee


"Vee maaf, abang benar-benar nggak sengaja, maaf banget!" Pinta Karang penuh rasa bersalah.


"Abang, rasanya dingin banget." Jelas Vee dengan suara manja.


Membuat Karang semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Vee.


"Maafkan abang!" Pinta Karang untuk ke yang sekian kalinya.


"Iya aku tau kalau abang nggak sengaja, aku sama sekali nggak marah kok!" Jelas Vee dengan menatap dalam wajah Karang.


"Hmmm, ayo kita pulang!" Ajak Karang. Lalu melonggarkan pelukannya.


Vee bukannya mengikuti ajakan Karang, dia justru tidak beranjak sama sekali, sejenak menatap dalam wajah karang lalu perlahan Vee membenamkan wajahnya di dada bidang milik Karang.


"Maafkan aku, maaf karena selama ini terus menjadi beban dalam hidup abang, maafkan aku!" Pinta Vee dengan tetesan air mata.


"Kamu keliru Vee. Kamu keliru akan satu hal. Jujur, kamu tidak pernah menjadi beban buat abang, kamu adalah kebahagiaan yang begitu  menyempurnakam hidup abang." Jelas Karang dengan tangan yang perlahan mengusap jilbab Vee lalu keduanya segera pulang.

__ADS_1


_______


__ADS_2