
Jam pelajaran berakhir, bel pulang menggema ke seluruh penjuru sekolah, membuat guru mengakhiri perlajaran mereka. Tsania sejak tadi terus saja memperhatikan Vee yang terlihat begitu kesal dengan tangan yang terus memasukkan semua buku dan perlatan tulis ke dalam ransel miliknya.
"Lagi bete? Kenapa? Apa karena hari ini pak Arman nggak masuk dan justru digantikan oleh bu Maya! Hayyyo...!" Ujar Tsania lalu bagun mengikuti langkah Vee yang perlahan meninggalkan kursinya.
"Resek! Emang kenapa kalau pak Arman nggak masuk? Nggak ada hubungannya sama mood aku!" Tegas Vee.
"Terus? Kenapa tuh muka kusut banget?" Tanya Tsania.
"Kesal aja! Ayo pulang!" Ajak Vee yang terlihat malas menjawab setiap pertanyaan yang Tsania ajukan.
"Vee...!" Panggil Wesvy yang berjalan menghampiri Vee dan Tsania.
"Kenapa?" Tanya Vee.
"Hmmmm, ayo kita makan siang bersama, gimana? Tsania mau kan?" Tanya Wesvy.
"Serius nih aku boleh ikutan?" Tanya Tsania memastikan.
"Hmmmm, ayo Vee!" Ajak Wesvy.
"Sorry, aku nggak bisa gabung, kalian aja deh yang pergi, bye!" Jelas Vee yang berlalu begitu saja meninggalkan Tsania dan Wesvy.
"Ayo!" Ajak Tsania.
"Hmmm, ayo!" Ujar Wesvy lalu pergi bersama Tsania.
Vee yang baru keluar dari gerbang sekolah, perlahan melangkah menelusuri trotoar dengan langkah yang terlihat bermalas-malasan. Yah, tadi pagi dia ke sekolah demgan diantar oleh Antoni, karena Karang yang buru-buru ke rumah sakit, dan berjanji akan menjemputnya namun beberapa menit sebelum jam pulang sekolah Karang justru mengabarkan kalau dia ada operasi dadakan dan hal tersebutlah yang membuat wajah Vee kusut sejak membaca chat dari Karang.
Vee terus saja berjalan hingga tanpa ia sadara ia telah berada jauh dari area sekolahnya, beberapa taxi sempat menawarkan jasanya namun Vee menolak, ia lebih memilih berjalan kaki dengan mulut yang terus bergumam tak jelas.
"Haissssshhh!" Gumam Vee kesal dengan langkah kaki sejenak berhenti, menarik nafas dalam lalu menghentakkan kaki kanannya dengan kasar pada jalan lalu kembali melangkah.
Vee mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu mencoba membuka wa namun sebelum aplikasi tersebut terbuka, sebuah suara memanggil namanya dengan sepeda motor yang berhenti tepat di sampingnya.
"Veeliria?" Ujar seorang pemuda yang mengenakan helm lengkap dengan jaket kulit yang berwarna hitam.
Vee segera menolah kearah pemilik suara tersebut, cowok tersebut turun dari sepeda motornya lalu perlahan mendekati Vee sedangkan yang satunya lagi tampak mengikuti mereka dengan sepeda motor.
"Apa kita saling kenal?" Tanya Vee lalu memperhatikan wajah cowok tersebut yang hanya membukakan kaca helm yang ia kenakan.
"Kamu lupa sama aku? Apa aku harus mengingatkan mu kembali?" Tanyanya dengan tangan yang langsung melepas helmnya.
"Ahhhhh! Kamu rupanya? Kenapa? Masih belum kapok?" Tanya Vee santai ketika ia sadar siapa yang sedang mengikutinya.
__ADS_1
Ia membalasnya dengan gelak tawa, lalu menatap Vee dengan tatapan yang begitu dalam, seolah ia siap menelan Vee hidup-hidup.
"Apa ada yang lucu?" Tanya Vee santai dengan terus berjalan pelan.
"Apa aku harus merobohkan kesombangan mu lebih dulu? Atau aku harus merebut hal yang paling berharga milik mu lebih dulu, supaya kamu berhenti meremehkan aku!" Tanya cowok tersebut yang tak lain adalah Kenzo teman SMAnya Karang.
"Coba saja?" Ujar Vee.
"Kamu menantang ku?" Tanya Kenzo.
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, lakukan semua mu jika memang kamu tidak takut dengan monster yang akan kamu bangunkan nantinya. Kamu belum lupa dengan kejadian waktu itu kan?" Tanya Vee yang kini justru menatap intens mata Kenzo.
"Apa kamu sedang mengancam atau menantang? Akan aku perlihatkan siapa aku yang sebenarnya, aku atau justru monster mu itu yang akan mati, kita lihat saja nanti!" Jelas Kenzo.
"Jangan berimajinasi terlalu tinggi, sejak dulu, dia memang bukan tandingan mu?" Jelas Vee.
"Haaah! Vee, akan aku perlihatkan siapa aku sebenarnya!" Jelas Kenzo dengan tangan yang langsung menyentuh wajah Vee.
"Lepas!" Tegas Vee yang langsung menepis kasar tangan Kenzo dari wajahnya.
"Wowww!" Ujar Kenzo yang bahkan kembali menyentuh wajah Vee.
Kali ini Kenzo melakukannya dengan kasar, membuat Vee kesulitan untuk menghindarinya. Tangan kanan Kenzo menarik kasar bagian belakang jilbab Vee, membuat wajah Vee terperangah keatas, lalu tangan kiri Kenzo mencoba menyentuh wajah Vee yang terlihat jelas begitu marah.
"Singkirkan? Hahhh!" Cetus Kenzo yang justru memegang kasar bagian dagu Vee.
"Benar-benar!" Gumam Vee yang langsung menggunakan kakinya untuk menendang betis Kenzo hingga membuat sang empunya meringis kesakitan dengan kedua tangan yang spontan melepaskan Vee.
"Jangan main-main dengan ku!" Gumam Vee mengingatkan lalu melangkah meninggalkan Kenzo.
Tak terima diperlakukan begitu kini Kenzo malah kembali mengejar Vee lalu menarik kasar tangan Vee lalu melayangkan tanganya tepat pada pipi kanan Vee.
"Aku akan menghancurkan hidup kalian berdua, sebagaimana kalian menghancurkan hidup aku!" Gumam Kenzo dan lekas pergi bersama temannya yang sejak tadi terus mengikuti mereka.
"Huffffff!" Ujar Vee mencoba menenangkan dirinya dengan tangan yang menyentuh pelan bagian pipinya yang sudah memerah kerena ditampar oleh Kenzo.
"Owww! Haissssshhh, ternyata sakit banget! Tau gini aku bakal langsung sat set set membalasnya, haisssssh!" Gumam Vee yang begitu kesal karena tidak sempat membalaskan rasa sakitnya.
Vee hendak kembalikan melangkah, namun suara dering ponselnya kembali menghentikan langkah kakinya.
"Iya om..." Jawab Vee yang seketika langsung menjadi cewek lembut nan kalem.
"Kamu dimana? Udah pulang? Apa om harus menjemput mu?" Tanya Antoni dari seberang sana.
__ADS_1
"Nggak usah om, ini aku lagi di taxi." Bohong Vee.
"Ya udah, kalau gitu kamu hati-hati." Jelas Antoni.
"Iya om." Jawab Vee lalu mengakhiri panggilannya.
Vee hendak memasukkan kembali ponsel ke dalam sakunya namun ponselnya justru kembali berdering kali ini panggilan dari Karang.
"Masih ingat nomor aku rupanya?" Gumam Vee yang langsung menyerang bahkan sebelum Karang mengatakan sepatah katapun.
"Dimana? Tunggu, abang bakal jemput." Jelas Karang.
"Nggak usah, aku udah di jalan nih, bentar lagi juga sampai di rumah." Jelas Vee.
"Ya udah kalau gitu abang lanjut kerja, hati-hati." Jelas Karang yang hendak memtuskan panggilan namun langsung mengurungkan niatnya saat ia Kembali mendengar suara Vee.
"Dasar manusia berhati baja!" Gumam Vee.
"Vee..." Ujar Karang.
"Kerja aja terus! Prioritas abang kan cuma pasien abang, bukan aku!" Tegas Vee yang langsung memetuskan panggilan tersebut.
Tidak hanya sampai di situ ia justru menonaktifkan ponselnya lalu kembali menelusuri trotoar dengan penuh rasa kesal.
_______
Karang yang baru turun dari motornya langsung bergegas menuju rumah Arman.
"Tante, apa Vee ada di rumah" Tanya Karang yang kini sudah berada di dapur dimana Anggie sedang masak bersama bi Ijah.
"Ada, Sejak pulang sekolah tadi kayaknya dia di kamarnya, kenapa? Apa dia buat ulah lagi?" Tanya Anggie yang paham betul dengan kelakuan putrinya yang kerap kali menyusahkan Karang.
"Nggak kok tante, kalau gitu aku temui Vee dulu ya tante." Jelas Karang.
"Hmmm, nanti makan malam di sini yang sayang!" Ajak Anggie.
"Siap Tante tercinta." Ujar Karang dengan senyuman dan lekas menuju ke kamar Vee.
Karang langsung menerobos masuk tanpa izin lebih dulu, Karang terus melangkah masuk mencoba mencari sosok Vee dan ternyata orang yang ia cari justru sedang tertidur lelap. Perlahan Karang mendekat, untuk memastikan bahwa yang ia lihat benar adanya. Yah, Vee tertidur dengan handuk kecil yang menempel di pipinya serta baskom yang berisi air es yang terletak di atas meja kecil disamping tempat tidurnya. Karang semakin mendekat lalu perlahan menyentuh handuk tersebut lalu memindahkannya.
"Apa dia habis berantem?" Gumam Karang yang langsung panik saat mendapati pipi Vee yang memerah dan sedikit bengkak.
💜💜💜
__ADS_1