Diantara Galang Dan Karang

Diantara Galang Dan Karang
Putus.


__ADS_3

"Apa tadi siang Kenzo mendatangi mu??" Pertanyaan Karang sontak membuat Vee kalang kabut, ia bahkan terdiam seribu bahasa dengan tatapan kosong tak terarah.


"Apa dia menemui abang? Apa yang dia katakan?" Tanya Vee yang terdengar panik.


"Jadi benar kalau tadi siang itu dia yang membuat pipi mu lebam?" Tanya Karang dan langsung memutuskan penggilan tersebut.


"Haissssshhh!" Maki Karang dengan kaki yang langsung menendang dinding dengan begitu kasar.


"Hauffffff!" Gumam Karang lagi kali ini tinjunya yang mendarat pada dinding.


Galang yang baru datang langsung melayangkan tangannya, yah tamparan Galang tepat sasaran, membuat Karang meringis kesakitan dengan wajah yang terlihat lebam dalam sekali tamparan.


"Ikut aku!" Tegas Galang yang langsung menyeret Karang untuk ikut bersamannya.


Keduanya menuju ruang IDG, setelah mendudukkan Karang diatas ranjang pasien, Galang segera mencari meja perlengkapan obat lalu menyeret meja tersebut bersamanya. Galang masih berdiri dihadapan Karang dengan tangan yang langsung mengolesi kapas dengan alkohol lalu mencoba membersihkan tangan Galang yang terluka karena ulahnya sendiri.


"Auwwww!" Keluh Karang yang mencoba menahan perih di tangannya.


"Kenapa harus dinding yang jadi sasaran mu? apa kamu mau mati bahkan sebelum memperkenalkan Kenzo pada ku?" Tanya Galang.


"Ciiih!" Cetus Karang yang langsung menarik tangannya dari genggaman Galang.


"Kalaupun ingin mati, maka lakukan setelah membereskan Kenzo, pastikan dia tidak menjadi pengganggu Vee, karena dia musuh mu bukannya musuh Vee. Pastikan Vee, bisa hidup aman dan juga bisa bahagia meski tanpa kamu di sisinya." Jelas Galang dan lekas pergi meninggalkan Karang yang masih duduk tertegun dengan tatapan hampa.


"Setidaknya Galang jauh lebih peduli pada Vee dari pada aku, ku rasa dia memang lebih layak bersama Vee. Hmmm, baiklah Galang, akan aku pastikan kalau Vee bisa bahagia bersama mu." Ungkap Karang lalu bangkit dari tempat duduknya dan lekas pulang.


____


Pagi-pagi sekali mobil Karang sudah terparkir rapi tepat di depan gerbang rumah Salman, sejak beberapa menit yang lalu Karang masih betah menunggu di dalam mobil dengan mata yang terus tertuju kearah gerbang berharap orang yang ia tunggu lekas keluar. menit-menit kembali berlalu dan Vee belum juga kunjung terlihat membuat Karang tidak lagi bisa menunggu terlalu lama, ia bergegas keluar dari dalam mobil dan lekas berlari memasuki gerbang di saat yang bersamaan pula sosok Vee yang berlari gesit muncul, seketika membuat langkah Karang terhenti, keduanya kini berdiri dengan saling menatap satu sama lain. Tangan Karang langsung menyentuh Wajah Vee, namun sebelum tangannya benar-benar mengenai wajah Vee, Vee telah lebih dulu melangkah mundur menghindari sentuhan Karang.


"Pipi aku baik-baik aja kok!" Jelas Vee dengan memamerkan pipinya bahkan sambil memperjelasnya dengan jari telunjuknya.


"Tuh kan? aman." Jelas Vee berusaha memamerkan senyuman.


"Hmmmmm, ayo abang antar!" Jelas Karang dengan menghela nafas mencoba tetap tenang dengan tingkah Vee.

__ADS_1


"Apa abang nggak kerja?" Tanya Vee.


"Nanti siang!" Jelas Karang dan langsung masuk ke mobil dengan diikuti oleh Karang.


Karang lansung menjalankan mobilnya keduanya lekas pergi menuju sekolah.


"Apa yang dia katakan?" Tanya Karang mencoba memecahkan kesunyian yang sejak tadi membuat suasana di dalam mobil begitu canggung.


"Dia siapa?" Tanya Vee cuek.


Jawaban Vee membuat Karang langsung menepikan mobilnya ke pinggir jalan, ulahnya yang berhenti mendadak sukses membuat Vee terepanjat kaget.


"Apa menurut mu ini hanya lulucon? jangan menyepelekan Kenzo, dia itu gila, dia bisa melakukan bahkan hal yang tidak terpikirkan oleh manusia normal lainnya." Jelas Karang dengan yang menggenggam erat stir mobil.


"Lalu aku harus bagaimana? apa aku harus bersembunyi? aku harus bagaimana?" Tanya Vee dengan suara lantang.


"Ayo putus!" Tegas Karang dengan mata yang terpejam dan jantung yang berpacu dua kali lipat dari biasanya.


"Putus? setelah menunggu belasan tahun supaya abang jadi milik ku dan sekaran setelah baru beberapa hari aku memiliki abang, lalu dengan menudahnya abang bilang putus? apa aku sebegitu tidak berartinya dalam hidup abang?" Jelas Vee dengan suara yang terbata-bata dan wajah di penuhi rasa kecewa.


"Karena memang sebaiknya..." Jelas Karang terhenti.


"Harusnya aku yang jadi korbannya..." Ujar Vee dengan suara melemah lalu mencoba untuk membuka pintu mobil.


"Jika saja kamu yang berada di posisi Renata saat itu, mungkin saat ini abang tidak lagi disini, abang pasti akan menghilang dari dunia ini. Bagaimana bisa abang melanjutkan hidup abang tanpa kamu di samping abang." Jelas Karang yang langsung menyentuh tangan Vee.


Perlahan Vee kembali menatap wajah Karang yang juga mulai basah karena air mata yang perlahan menetes dari ujung mata indahnya. Jemari Karang perlahan mencoba mengusap air mata Vee, lalu perlahan mengusap lembut pucuk kepala Vee yang terbungkus dengan jilbab putih.


"Abang tau kalau abang jahat dan egois, tapi entah kenapa abang bersyukur karena bukan kamu yang menjadi korban dalam kejadian itu, maafkan abang." Jelas Karang dengan tatapan yang begitu dalam.


"Maafkan aku, maaf karena selalu menyusahkan abang, maaf!" Ujar Vee dengan menundukkan wajahnya.


"Mulai hari ini abang yang akan selalu mengantar dan menjemput mu, jangan lagi pergi sendirian, udah berhenti menangis, semua akan baik-baik saja." Jelas Karang.


"Hmmmmm." Ujar Vee patuh.

__ADS_1


"Ayo berangkat, pasang lagi sabuk pengamannya!" Pinta Karang yang kembali keposisi semula.


"Hmmmm." Jawab Vee yang langsung memasang sabuk yang tadi sempat ia lepas karena ingin keluar dari mobil.


keduanya kembali melanjutkan perjalan mereka.


_____


Tepat pukul dua siang mobil Karang sudah berada tepat di depan gerbang sekolah Vee. Dari gerbang sana terlihat jelas Vee yang sedang keluar bersama dengan Putra sang sepupu sekaligus teman sekolah.


"Dijemput sama abang Karang?" Tanya Putra saat melihat mobil Karang.


"Hmmmm, aku duluan ya." Jelas Vee.


"Tapi jangan lupa ya, soal Nia." Jelas Putra.


"Siap komandan, tenang aja! bye..." Seru Vee yang langsung berlari menuju mobil.


Tangan Vee langsung membuka pintu mobil dan hendak masuk, namun langkahnya langsung terhenti saat ia mengetahui bahwa yang datang menjemputnya bukanlah Karang melainkan Galang.


"Masuk!" Pinta Galang dengan mengedipkan mata kirinya lalu tersenyum manis.


"Kenapa abang yang datang? apa abang Karang lagi sibuk? padahal aku bisa naik taksi loh!" Jelas Vee dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Dia sedang tertidur nyenyak, pasti terlalu lelah karena baru saja menyelesaikan operasi." Jelas Galang yang mulai menjalankan mobilnya.


"Tapi tadi katanya abang Karang masuk siang!" Ujar Vee.


"Operasi dadakan." Jawab Galang.


"Ooo..." Ujar Vee.


"Vee..." Ujar Galang lalu sejenak menatap kearah Vee lalu kembali fokus kejalan.


"Kenapa?" Tanya Vee.

__ADS_1


"Antarkan aku untuk bertemu dengan Kenzo!" Pinta Galang yang sontak membuat Vee seketika menatap fokus kearah Galang yang masih saja terlihat begitu tenang.


_____


__ADS_2