Diantara Galang Dan Karang

Diantara Galang Dan Karang
Lepas!


__ADS_3

Secara tiba-tiba sebuah tangan menarik tangan Vee dengan begitu kuat hingga membuat tubuh Vee tertarik ke salah satu lorong yang sedang ia lewati.


"Lepas!" Teriak Vee tanpa melihat siapa yang menariknya.


Vee mencoba melepaskan tangannya dari genggaman kasar tersebut, namun usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil yang ada malah tangan kekar tersebut kini mendekap erat tubuh Vee.


"Lepas, atau aku teriak!" Ancam Vee dengan terus berusaha lepas darinya.


"Diamlah!" Pinta Karang dengan suara melemah dan masih saja mendekap erat tubuh Vee.


"Abang Karang...." Ujar Vee yang begitu mengenali pemilik suara tersebut bahkan tanpa harus menoleh wajahnya.


"Diamlah sebentar saja!" Pinta Karang.


Beberapa menit keduanya terdiam membisu hingga akhirnya Karang perlahan melepaskan tangannya dari tubuh Vee.


Vee masih berdiri mematung saat Karang perlahan berdiri dihadapannya.


"Pulang lah! Abang lembur, jadi abang tidak bisa mengantarkan mu pulang!" Ujar Karang.


"Apa abang tidak marah lagi pada ku?" Tanya Vee memastikan.


"Pulang gih sana! Abang mau lanjut kerja!" Tegas Karang lalu melangkah hendak meninggalkan Vee.


"Tunggu sebentar!" Pinta Vee yang buru-buru menghadang jalan Karang.


"Jawab aku! Apa sekarang abang tidak marah lagi sama aku?" Vee kembali mengajukan pertanyaan yang sama.


"Abang sibuk! Cepat pulang sana!" Jelas Karang.


"Abang, aku sama sekali tidak mengerti dimana letak kesalahan aku, jadi tolong jelaskan padaku, sikap aku yang mana yang membuat abang samapi begitu marah pada ku, aku janji, aku akan memperbaikinya." Jelas Vee.


"Vee! Abang bilang pulang!" Gumam Karang.


"Marah lagi? Sebenarnya letak salah aku dimana?" Tanya Vee yang juga terlihat mulai kesal.


"Vee kenapa kamu selalu saja membut abang kesal, kamu selalu membuat abang kalang kabut, kamu...." Gumam Karang.


"Selalu merepotkan abang, menjadi beban hidup abang, menempel terus sama abang, aku? Yah aku memang selalu jadi parasit dalam hidup abang!" Jelas Vee dengan air mata yang perlahan menetes dengan sendirinya.


Perlahan Karang kembali mendekat lalu buru-buru memeluk tubuh Vee. Beberapa menit berlalu kini tangan Karang beranjak lalu menggenggam erat tangan Vee lalu membawanya ikut bersama keluar dari rumah sakit.


Sesampai di parkiran, Karang langsung membuka pintu mobil miliknya.


"Masuklah!" Pinta Karang dengan tatapan dalam keadah Vee.


"Abang mengusir aku dari sini?". Tanya Vee.

__ADS_1


"Okay, kalau emang nggak mau pulang, ya udah ayo balik ke dalam!" Ajak Karang.


"Benar, aku boleh ikut abang masuk?" Tanya Vee.


"Hmmm, ayo!" Ajak Karang.


Karang kembali menutup pintu mobilnya lalu keduanya kembali ke ruang kerja Karang, dimana di ruang tersebut terdapat Galang yang terlihat santai menikmati pizza diatas meja kerjanya.


"Kalian rupannya, ayo makan!" Ajak Galang saat melihat kedatangan Vee dan Karang.


"Kamu pikir kamu doang yang punya makanan? Aku juga udah pesan kali!" Cetus Karang lalu membuka pizza yang ada diatas meja kerjanya.


"Bagus! Kalau kamu punya makanan sendiri, jadi aku nggak bakal takut kurang makan karena habis berbagi sama kamu!" Jelas Galang lalu kembali menikmati pizza miliknya.


"Soory, aku sama sekali nggak sudi tuh makan makanan dari kamu!" Tegas Karang sombong lalu memakan pizza miliknya.


"Bagus, aku suka prinsip mu itu, tolong dipertahankan ya!" Ujar Galang dengan senyuman.


"Vee, ayo makan!" Ajak Karang dan Galang berbarengan dengan menyodorkan sepotong pizza kearah Vee.


Sejenak menatap kedua lelaki tersebut secara bergantian, lalu dengan senyuman tangan Vee langsung mengambil pizza dari keduanya dan langsung memakan kedua potongan pizza tersebut secara bersamaan.


"Enak banget! Terima kasih banyak." Ucap Vee.


"Ayo duduk!" Pinta Karang dan Galang kali ini kedunya bahkan bangun secara bersamaan dari kursi mereka.


"Buruan duduk!" Perintah Karang kali ini dengan langsung menggeserkan kursi tepat kesisi Vee.


Dengan sedikit ragu Vee segera duduk, ia tidak ingin kembali membuat Karang marah tak jelas terhadap dirinya, sedangkan Galang kembali duduk di kursinya dan Karang kini justru duduk tepat diatas mejanya, yah dia berada tepat dihadapan Vee.


"Aku rasa kalian berdua bakal jadi pasangan kerja yang sangat sempurna, kalian terlihat seperti sahabat baik." Jelas Vee.


"Apa kata mu? Sahabat? Jangan gila!" Tegas Karang.


"Api tidak akan pernah menyatu dengan air, aku nggak akan pernah cocok dengan tetangga mu itu!" Jelas Galang.


"Iya aku airnya dan kamu apinya! Bikin keadaan panas aja kerja mu itu!" Cetus Karang.


"Kalian!" Ujar Vee kebingungan.


"Lagian aku heran kenapa ya kadal seperti kamu bisa di terima kerja di rumah sakit ini? Kayaknya aku harus ajukan protes sama Ryan." Jelas Karang.


"Aku bahkan lebih bingung lagi, entah apa yang membuat pak Ryan memperkejakan buaya di rumah sakit ini!" Jelas Galang yang tak mau kalah dari mulut pedasnya Karang.


"Jangan cari perkara ya?" Gumam Karang.


"Udah! Stop! Kalian berdua ini kenapa sih? Selalu aja gini setiap kumpul! Kayak bocah padahal kalian seorang dokter loh! Dokter! Tapi, sudahlah aku nggak ngerti dengan kalian berdua." Jelas Vee yang merasa begitu lelah dengan perdebatan tak jelas antara kedua dokter tersebut.

__ADS_1


"Eh Vee, sebenarnya kamu di pihak siapa sih?" Tanya Karang.


"Aku netral, aku nggak memihak ke siapapun." Tegas Vee.


"Kamu...." Ucapan Karang langsung terhenti karena tiba-tiba seorang suster masuk ke ruang tersebut.


"Dok, ada pasien darurat!" Jelas Suster.


"Aku kesana sekarang!" Jawab Karang dan Galang serentak lalu keduanya segera berlari menuju ruang UGD.


"Huuuuf! Akhirnya bisa tenang dan damai juga nih ruangan!" Ujar Vee yang langsung bersandar santai dengan memejamkan kedua matanya.


Karang dan Galang yang baru sampai di UGD segera menangani pasien yang baru saja masuk.


"Suster, segera siapkan ruangan operasi!" Perintah Karang.


"Siap dok!" Jawab salah satu suster dan segera melaksanakan perintah Karang.


"Apa kamu berniat akan melakukan operasi atas pasien ini?" Tanya Galang yang terus memeriksa luka dikaki kiri pasien tersebut.


"Lalu, apa kita harus berdiam diri menyaksikan dia sekarat?" Tanya Karang emosi.


"Pasien mengalami retak tulang." Jelas Galang.


"Lalu? Apa kita tidak bisa melakukan operasi?" Tanya Karang yang kini beralih memeriksa luka dikaki pasien tersebut.


"Kita harus menghubungi dokter pesialis Ortopedi!" Tegas Galang.


"Aku akan melakukannya!" Tegas Karang.


"Kamu gila? Aku akan menghubungi bagian Ortopedi!" Jelas Galang.


"Dokter Karang, ruangan operasi sudah siap!" Jelas suster.


"Segera bawa pasien ke ruangan operasi!" Perintah Karang yang langsung dilaksanakan oleh para suster.


"Karang..." Ujar Galang yang mencoba menahan Karang.


"Lepas, aku ada operasi darurat!" Tegas Karang dan lekas pergi begitu saja.


"Benar-benar keras kepala tuh anak!" Cetus Galang khawatir.


"Udah dokter tenang aja, semuanya akan baik-baik saja! Di ruangan operasi sana, tangan dokter Karang bisa berubah menjadi spesialis apa saja, dia bahkan pernah melakukan operasi yang paling parah dari patah tulang." Jelas salah satu suster yang memang sudah sangat kenal dengan Karang.


Suster tersebut berlalu begitu saja dan akhirnya Galang pun memutuskan untuk kembali ke ruangannya.


💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2