Diantara Galang Dan Karang

Diantara Galang Dan Karang
Aku mencintaimu.


__ADS_3

Abang awaas!" Teriak Vee bersamaan dengan tubuhnya yang langsung bergerak lalu memeluk erat punggung Karang.


Ulah Vee membuat pisau yang awalnya hendak megenai tubuh Karang kini menancap sempurna di punggung Vee.


"Apa abang terluka? Abang baik-baik saja kan?" Tanya Vee dengan suara serak tertahan dan air mata yang perlahan menetes dari ujung mata beningnya.


Tubuh Vee perlahan melemah dan hampir saja terjatuh keatas lantai namun dengan sigap Galang langsung menangkap tubuh Vee kedalam dekapannya.


"Vee, Vee..." Panggil Karang saat menyadari ada darah segar yang mulai menetes dari punggung Vee.


"Vee, Vee buka mata mu!" Pinta Galang yang terus berusaha membuat Vee agar tetap sadar.


"Bajingan kamu, Kenzo!" Gumam Karang menggila dan langsung menyerang Kenzo yang berdiri agak jauh dari mereka.


Karang terus saja memukuli Kenzo tanpa henti, ia bahkan beberapa kali membanting tubuh Kenzo ke dinding hingga membuat Kenzo benar-benar tersungkur tak berdaya.


"Karang, berhentilah!" Teriak Galang yang semakin panik dengan keadaan Vee.


Karang segera berlari kembali menghampiri Vee yang masih berada di dalam pangkuan Galang.


"Abang Karang, aku sangat mencintai mu, aku bahkan sudah jatuh cinta pada mu saat pertama kali bertemu dengan abang." Jelas Vee pelan.


"Abang tau, jadi berhenti bicara, abang akan segera menyelamatkan mu, bertahanlah!" Pinta Karang dengan terus mendekap wajah Vee dengan kedua tangannya.


"Untuk yang terakhir kalinya, tolong, tolong katakan kalau abang juga mencintaiku..." Pinta Vee.


"Berhenti bicara omong kosong! Akan akan menyelamatkan mu, dan setelah itu kamu akan terus mendengar ungkapan cinta dari abang, jadi bertahanlah, jangan pernah berencana untuk meninggalkan abang!" Tegas Karang yang langsung membawa tubuh Vee kedalam gendongannya.


"Ayo kita ke rumah sakit, kami akan menyembuhkan mu, Vee!" Tegas Galang yang langsung berlari keluar gedung untuk mengambil mobil mereka.


"Teruslah menatap wajah abang, jangan pejamkan mata mu, abang akan terus ada di samping mu!" Jelas Karang yang terus berlari menuju mobil.


"Abang..." Ujar Vee pelan.


"Jangan katakan apapun lagi!" Tegas Karang.


"Sekali saja, aku benar-benar ingin mendengarnya, tolong katakan kalau abang juga mencintai ku..." Pinta Vee dengan suara yang semakin melemah.


"Aku mencintaimu! Abang sangat mencintai mu, sangat mencintai mu, Vee!" Tegas Karang setelah keduanya masuk kedalam mobil.


"Terima kasih!" Ucap Vee bersamaan dengan matanya yang perlahan terpejam.


"Vee, Vee bangun!" Pinta Karang yang semakin khawatir dan panik.

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan Karang terus saja berusaha membuat Vee tetap sadar agar kondisinya tidak semakin memburuk.


Sesampai di rumah sakit, Vee langsung dibawa ke ruang operasi.


________


Setelah berada di ruang operasi selama hampir dua jam lamanya kini Vee harus berada di ruang ICU karena kondisinya yang masih saja belum membaik.


Disisi kiri ranjang ada Galang yang terus mengontrol perkembangan Vee dan disisi kanan ranjang ada Karang yang sejak tadi terus menatap wajah pucat Vee, sejak tadi tangan Karang terus mengenggam erat tangan lemah Vee.


"Vee, cepatlah bangun, jangan buat abang khawatir!" Pinta Karang dengan memcoba menahan air matanya.


Galang segera keluar dari ruangan tersebut ketika melihat orang tua Vee dan Karang yang sedang berdiri dibalik dinding kaca ruangan ICU tersebut.


"Apa lukanya parah?" Salman khawatir.


"Vee baik-baik saja kan?" Tanya Tuti dengan air mata yang sejak tadi tidak lagi bisa ia tahan.


"Operasinya berjalan lancar, tapi kondisi Vee masih saja belum ada perubahan." Jelas Galang dengan kepala tertunduk.


Penjelasan Galang membuat kaki Anggie melemah sempurna, ia hampir saja terjatuh namun sang suami segera mendekap tubuh Anggie.


"Dia akan segera bangun kan? Putri ku pasti akan sembuh, iya kan?" Jelas Tuti penuh keyakinan.


"Hmmmm, Vee pasti akan baik-baik saja, dia gadis yang kuat, dia pasti akan segera bangun!" Jelas Antoni optimis.


"Hmmmm, tapi...!" Ujar Galang tertahan.


"Baiklah, kami paham. Sebaiknya Anggie dan Salman masuk lebih dulu, kami akan menunggu disini!" Jelas Antoni.


"Hmmmm,,,,!" Jawab Anggie dan segera bersiap bersama Salman.


Setelah mengenakan pakaian khusus ruang ICU, keduanya bergegas masuk.


"Apa kamu baik-baik saja, Karang?" Tanya Anggie dengan tangan yang perlahan menyentuh bahu Karang membuat Karang segera menoleh pada sosok Anggie.


"Maafkan aku tante, maaf karena aku tidak bisa menjaga Vee dengan baik." Pinta Karang yang langsung bangun lalu berdiri tegak di hadapan Anggie.


Tanpa jawaban apapun Anggie langsung mendekal erat tubuh Karang dengan tangan yang mengusap pelan punggung lebar Karang.


"Ini semua bukan salah mu, Karang. Lagi pula operasinya berjalan lancar, sebentar Vee juga bakal sadar, dia akan segera kembali kepada kita semua." Jelas Antoni lalu menepuk lembut pundak Karang.


"Vee, ayo bangun sayang." Ujar Anggie yang perlahan menyentuh tangan Vee.

__ADS_1


"Mami..." Ujar Vee pelan yang baru saja membuka matanya.


"Vee...." Ujar Anggie dengan senyuman bahagia.


"Syukurlah kamu sudah bangun sayang." Ujar Salman lega.


"Abang, apa tante nggak dan om tidak datang? Padahal aku sangat merindukan mereka berdua." Jelas Vee pelan.


"Tante dan om disini sayang!" Ujar Tuti yang baru saja masuk bersama Galang dan Antoni.


Tuti segera mendekat, perlahan tangannya menyentuh wajah Vee dengan penuh kelembutan.


"Tante, ini semua terjadi karena salah aku, jadi tolong jangan salahkan abang Karang, hmmmm, jangan memarahinya." Pinta Vee.


"Tapi, kamu terluka gini itu karen...." Keluh Tuti terhenti.


"Tante, jangan terlalu memanjakan Vee, selama ini tante selalau sama memarahi abang saat Vee melakukan kesalahan. Tante, selama ini abang terus menjaga aku dengan sangat baik, jangan tolong jangan lagi menyalahkan abang Karang. Dan....." Jelas Vee tertahan membuat semua orang penasaran.


"Dan... Kenapa?" Tanya Anggie.


"Mi, teruslah sayang dan perhatian sama abang Karang hingga selamanya, karena abang Karang adalah orang yang sangat aku cintai. Papi, om, aku mencintai abang Karang." Jelas Vee.


"Kamu pikir papi nggak tau? Sudah sejak dulu papa tau sayang! Hanya saja papi tidak ingin mengusik kalian, ini tentang perasaan kalian maka kalian sendiri yang menentukannya." Jelas Salman.


"Hmmmm, kami tidak akan ikut campur, kalian lah yang berhak menentukannya, karena itu tentang hati kalian berdua." Jelas Antoni.


"Karang, apa kamu juga mencintai bocah ini?" Tanya Anggie memastikan.


"Hmmm, iya tante!" Jawab Karang tegas.


"Kamu pasti sudah gila!" Jelas Anggie.


"Mami..." Ujar Vee kesal.


"Apapun keputusan kalian, kami akan selalu ada untuk kalian berdua!" Jelas Salman.


(Benar-benar sempurna, tidak ada celah sedikitpun, mereka semua bak malaikat, mereka hidup dengan penuh kasih sayang dan cinta, aku benar-benar iri pada kedua keluarga ini. Rena, pantas saja aku begitu betah bersama mereka berdua, ternyata mereka memang orang-orang baik.) Ungkap hati Galang dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa kamu yang bernama Galang? Teman yang sering Vee ceritakan itu?" Tanya Tuti.


"Hmmm, iya tante..." Jawab Galang yang langsung mendapat pelukan dari Tuti.


"Terima kasih karena sudah menjaga Karang dan Vee." Ucap Tuti yang semakin membuat Galang terharu.

__ADS_1


Di saat semua orang larut menatap kearah Tuti dan Galang disaat itu pula keadaan Vee tiba-tiba memburuk membuat semua orang panik seketika.


________


__ADS_2