Diantara Galang Dan Karang

Diantara Galang Dan Karang
Kedatangan Wesvy.


__ADS_3

Galang yang baru saja sampai tepat di depan ruang kerjanya, langsung mengangkat tangan kanannya menyentuh gagang pintu, sebelum tangan Galang membuka pintu ternyata pintu tersebut telah lebih dulu dibuka dari dalam. Pintu terbuka lebar membuat Vee dan Galang saling berhadapan.


"Mau kemana?" Tanya Galang dengan gaya yang terlihat jelas kaku dan canggung lalu tangannya kanannya menyentuh rambut miliknya untuk sedikit menetralkan keadaan yang ada.


"Aku mau pulang!" Jawab Vee.


"Ya udah ayo aku antarin!" Ajak Galang.


"Hmmm, okay, ayo!" Ujar Vee setuju.


Setelah mencapai kesepakatan keduanya segera menuju parkiran dan lekas pulang bersama.


Karang yang baru keluar dari ruang operasi segera melepas membersihkan diri dan lekas kembali ke ruang kerjanya. Tangan Karang segera mencari kunci motor miliknya dari saku jaket yang ia sangkutkan di kursi kerja, setelah menemukannya ia segera berjalan santai menuju parkiran. Karena malam ini bukan jadwal jaga malamnya, dia terlihat begitu santai berjalan sambil bersiul riang karena bisa tidur nyenyak malam ini.


Sesampai di parkiran tiba-tiba langkahnya terhenti di depan sebuah mobil sedan berwarna merah, matanya sedikit menatap fokus pada nomor plat mobil tersebut.


"Jadi dia belum pulang? Di ruangan juga nggak ada, terus keluyuran kemana lagi tuh anak! Apa dia tertidur di sofa? Udah ah, mending cek balik aja lah!" Cetus Karang pada dirinya sendiri lalu segera berlari kembali kedalam rumah sakit dan lekas ke ruangannya.


"Vee, Vee..." Panggil Karang dengan suara lantang dan langkah yang terus menelusuri setiap sudut ruangan.


Setelah memeriksa dengan teliti, Karang tetap tidak menemukan keberadaan Vee dengan kesal Karang melempar kasar kunci motor miliknya ke atas meja.


"Haissssshhh! Aaaah sial!" Gumam Karang dengan penuh emosi dan amarah yang ia tahan sebisa mungkin.


"Huuuuf! Emang paling hobi buat orang jantungan, dasar bar-bar!" Gumam Karang dan kali ini dengan cepat tangannya langsung merogoh saku celana lalu mengambil ponsel dan langsung menghubungi nomor Vee.


"Dimana? Dimana kamu sekarang?" Tanya Karang dengan suara lantang saat Vee manjawab panggilannya dari seberang.


"Abang Karang, aku di rumah." Jawab Vee tanpa dosa sama sekali.


"Di rumah? Di rumah kata mu? Lalu kenapa mobil mu masih di parkiran rumah sakit? Katakan dimana kamu sebenarnya?" Tanya Karang.


"Aku benaran di rumah, tadi aku diantar sama abang Galang." Jelas Vee.

__ADS_1


Penjelasan Vee membuat Karang langsung memutuskan panggilan telpon tidak hanya sampai di situ, ia justru membanting pinselnnya ke meja membuat layar depannya mendapatkan beberapa retakan.


"Abang? Abang Galang! Waaaaah, benar-benar. Sejak kapan mereka jadi sedekat itu? Galang, Galang lagi, dia lagi, terus saja dia yang menyebabkan semua petaka ini! Sial, kenapa hobi banget merebut miliki ku? Mulai dari ruang kerja, pasien dan sekarang...? Haissssshhh ambil, silahkan ambil semuanya dan lihat saja apa yang akan aku lakukan pada hidup mu! Aku akan menghancurkan semua yang kamu miliki, haissssshhh!" Gumam Karang dengan emosi yang pecah tak terarah.


Karang mengambil ponsel miliknya dan lekas keluar dari rumah sakit. Dengan penuh amarah Karang langsung pulang dengan menggunakan motor kesayangannya. Jarak tempuh yang biasanya menyita waktu hingga 20 menit kali ini Karang hanya butuh waktu 10 menit dan dia sudah sampai tepat di depan teras rumahnya.


Vee yang sejak tadi memang sedang menunggu kepulangan Karang, seketika langsung berlari mendekati Karang yang masih berada di atas motornya.


"Abang maaf! Aku benar-benar lupa izin sama abang lebih dulu, soalnya aku tau abangย  sedang ada operasi makannya aku langsung pulang sama abang Galang, lagi pulang abang sendiri yang bilang kalau malam ini abang shif malam." Jelas Vee panjang lebar.


"Katakan pada abang, apa kamu jatuh cinta padanya?" Tanya Karang lalu turun dari motornya.


"Jatuh cinta sama siapa?" Tanya Vee yang terlihat langsung ketakutan.


"Siapa lagi kalau bukan abang Galang mu itu!" Cetus Karang.


"Aku sama sekali tidak jatuh cinta padannya, kami hanya berteman nggak lebih!" Jelas Vee.


"Jangan berusaha untuk membohongi abang, abang bisa melihatnya dengan sangat jelas kalau kalian berdua itu saling menyukai. Terlihat jelas kok dari wajah kalian berdua!" Jelas Karang.


"Tidak mencintainya? Tapi sekarang kalian sedang pacaran kan! Selamat untuk hiburan kalian berdua, semoga langgeng sampai nenek kakek!" Cetus Karang dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa lagi peduli pada Vee.


"Apa dia sedang marah? Atau...?? Mungkinkah dia cemburu? Apa ini artinya dia suka sama aku? Apa ini sebenarnya? Kenapa jadi serunyam ini?" Keluh Vee pada dirinya sendiri lalu segera pulang ke rumahnya.


______


Tepat pukul 9 pagi, bel pintu rumah Salman berbunyi, bukan hanya sekali tapi hingga berkali-kali membuat Anggie dan Salman yang sedang bersantai di ruanh keluarga terusi dengan suara bel yang tiada henti.


"Sebentar nyonya, saya lihat dulu siapa yang datang!" Jelas Rahma, yang tak lain adalah pembantu setia keluarga Salman.


"Nggak usah bi, biar saya aja yang bukakan pintu, bibi balik kerja lagi aja." Jelas Anggie lalu bangun dari duduknya.


"Baik nyonya." Jawab Rahma dan langsung kembali ke dapur untuk melanjutkan kerjaannya.

__ADS_1


"Tumben pagi-pagi sudah ada tamu, papi jadi penasaran nih!" Ujar Salman.


"Biar mami lihat, mungkin orang kantor papi kali." Jelas Anggie dan lekas membukakan pintu.


"Selamat pagi tante!" Ucap seorang pria yang terlihat begitu sopan dan rapi.


"Pagi, hmmmm, apa kamu temannya Vee?" Tanya Anggie setelah memandangi sosok yang ada dihadapannya yang terlihat seumuran dengan putri semata wayangnya.


"Iya tante, saya Wesvy teman sekelasnya Vee, apa Vee nya ada tante?" Tanua Wesvy.


"Ada, ayo silahkan masuk, biar tante panggil Vee dulu." Jelas Anggie.


"Saya tunggu disini aja tante, terima kasih banyak!" Ucap Wesvy dengan senyuman.


Wesvy langsung duduk di bangku yang ada di teras sedangkan Anggie segera kembali kedalam ruma untuk mencari keberadaan sang putri tercinta.


"Vee, Vee..." Panggil Anggie.


"Iya mi, ada apa?" Tanya Vee yang memang sedang berjalan menuju ruang keluarga.


"Ada teman mu tuh di luar." Jelas Anggie memberi tau.


"Teman? Tsania maksud mami?" Tanya Vee.


"Bukan..." Ujar Anggie.


"Lalu siapa? Mahendra? Alex? Atau jangan-jangan malah Putra?" Tebak Vee.


"Kalau mereka mah mami kenal, tapi ini bukan mereka, kalau nggak salah tadi katanya nama dia Wesvy!" Jelas Anggie.


"Apa? Wesvy? Dimana dia mi?" Tanya Vee yang terlihat jelas begitu kaget saat mendengar nama Wesvy.


"Di teras." Jawab Anggie santai.

__ADS_1


Vee bahkan langsung memasang langkah seribu, ia segera berlari untuk menemui Wesvy yang sedang menunggunya di teras sana.


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


__ADS_2