
"Jangan bercanda! Kembalikan Vee atau aku tidak akan melakukan operasi pada Hesti." Jelas Karang setelah menjawab panggilan dari Kenzo.
"Santrai bro! Selama kamu fokus sama kesehatan Hesti maka aku juga akan fokus menjaga Vee, adil kan?" Jelas Kenzo.
"Sekali lagi aku katakan, kembalikan Vee!" Tegas Karang penuh penekanan.
"Temukan pendonor yang cocok untuk Hesti, maka akan aku kembalikan Vee secara utuh, tanpa kurang satu hal pun!" Tegas Kenzo dan langsung memutuskan panggilan secara sepihak.
"Bajingan kamu, Kenzo!" Gumam Karang yang bahkan langsung berteriak histeris.
"Apa yang terjadi?" Tanya Galang yang baru saja datang bahkan dengan masih menggunakan baju ruang operasi.
"Kenzo menculik Vee?" Jelas Karang dengan tubuh yang langsung ambruk diatas lantai dan air mata yang tak bisa ia kendalikan.
"Aku mencarinya." Jelas Galang yang hendak pergi.
"Bukan Vee yang harus kita cari, tapi pendonor untuk Hesti, karena hanya dengan cara itu kita bisa mengambil kembali Vee dari Kenzo." Jelas Karang yang sontak membuat langkah Galang terhenti.
"Sial!" Gumam Galang emosi dengan tangan yang menghantam dinding dengan penuh kesal.
Karang bangun dan lekas meraih kunci mobilnya lalu bergegas keluar dari ruangan tersebut.
"Mau kemana?" Tanya Galang.
"Aku akan ke kantor polisi! Di pemerasan!" Tegas Karang.
"Aku ikut, aku akan jadi saksi!" Jelas Galang yang bergegas mengikuti Karang keluar dari ruangan mereka.
Saat tiba di parkiran Galang langsung mengambil mobilnya lalu berhenti di samping Karang yang masih berdiri mununggu dirinya.
"Ayo! Masuk!" Pinta Galang yang bahkan langsung membukakan pintu mobilnya.
Karang segera masuk, Galang hendak menjalankan mobilnya namun suara chat yang masuk ke ponsel Karang membuat Galang menghentikan mobilnya, keduanya saling bertatapan satu sama lain, lalu Karang mulai membuka chat yang memang dikirim oleh Kenzo.
(Silahkan ke kantor polisi, itu artinya kalian sudah siap kehilangan Vee)
Baca Karang dengan suara lantang.
"Apa mereka sedang meneror kita? Aku yakin mereka pasti tidak jauh dari kita, mereka memperhatikan gerak-gerik kita!" Jelas Galang dengan tangan yang memukul stir karena kesal.
"Kenzo, benar-benar ingin melihat sosok iblis yang ada dalam diriku!" Gumam Karang.
"Sekarang bagaimana?" Tanya Galang.
"Kita tetap akan ke kantor polisi!" Tegas Karang.
__ADS_1
"Okay!" Ujar Galang lalu kembali menjalankan mobilnya.
"Haissssshhh! Galang berhenti!" Tegas Karang sembari memperlihatkan foto Vee yang baru saja di kirim oleh Kenzo.
"Sial!" Gumam Galang saat melihat Vee sedang tidak baik-baik saja.
Foto yang Kenzo kirimkan jelas memperlihatkan keadaan Vee yang terduduk diatas sebuah bangku dengan tali yang melilit tubuhnya hingga ke ujung kaki dan parahnya Vee dalam keadaan tidak sadarkan diri.
(Silahkan lapor polisi jika kamu ingin melihat mayat gadis kesayangan mu ini.)
(Waktu kalian 3 hari dihitung mulai dari sekarang)
Kenzo kembali mengirimin chat pada Karang hingga membuat Karang semakin murka.
"Haissssshhh! Bajingan!" Teriak Karang lalu keluar dari mobil milik Galang.
"Mau kemana?" Tanya Galang yang ikut keluar dari mobil saat melihat Karang hendak kembali ke parkiran.
"Aku akan mencari pendonor, aku pasti bisa menemukannya!" Tegas Karang dan lekas pergi dengan menggunakan mobil miliknya.
"Aku juga harus segera menemukannya!" Tegas Galang.
Galang langsung membuka baju ruang operasi lalu membuangnya ke tong sampah yang tergeletak di area parkiran rumah sakit, ia bergegas kembali ke dalam mobilnya lalu segera mencari ponselnya dan langsung menghubungi nomor sahabatnya saat berkerja di rumah sakit yang lama.
"Joe..." Panggil Galang setelah panggilannya di respon dari sebarang.
"Aku serius! Aku butuh bantuan kamu." Jelas Galang dengan suara yang terdengar begitu serius.
"Apa terjadi sesuatu dengan Karang dan Vee? Bukankah kamu datang untuk melindungi mereka berdua, lalu kenapa? Apa mereka buat ulah? Atau...!" Penjelasan Joe langsung diselip oleh Galang.
"Hmmmm, aku butuh pendonor hati!" Tegas Galang.
"What??? Pendonor hati kata mu? Siapa yang sakit? Kamu? Tante Mutia? Atau malah salah satu dari dua bocah itu?" Tanya Joe.
"Aku butuh donor untuk melindungi mereka berdua, tolong bantu aku! Aku tidak ingin kembali mengalami penyesalan yang sama untuk kedua kalinya, aku harus melindungi mereka berdua." Jelas Galang dengan suara yang terdengar jelas begitu putus asa.
"Galang, tenangkan dirimu! Berpikir dengan tenang, aku akan mencari donor hati." Jelas Joe.
"Terima kasih banyak Joe, kamu memang sahabat terbaik aku! Terima kasih karena mau mengerti keadaan aku!" Jelas Galang.
"Hmmmm, sekarang cobalah untuk tenang, jangan panik dan gegabah, aku akan segera memberi kabar, jaga diri mu baik-baik." Jelas Joe.
"Terima kasih banyak!" Ucap Galang.
"Hmmmmm." Jawab Joe dan langsung mengakhiri panggilan tersebut.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana ini Re???" Tangis Galang pecah dengan wajah yang ia telungkupkan pada stir mobil dengan air mata yang perlahan menetes.
_______
"Tante......" Ujar Karang dengan tubuh yang berdiri tepat di hadapan Anggie, wajah Karang tertunduk sempurna dengan tetesan air mata yang perlahan mulai menetes dari ujung mata indahnya.
"Karang, kamu kenapa? Ada apa sayang?" Tanya Anggie yang langsung memeluk tubuh kekar Karang.
Anggie terlihat begitu khawatir dengan keadaan Karang yang terlihat jelas sedang tidak baik-baik saja.
"Maafkan aku, maaf!" Ucap Karang dengan suara pelan disela isak tangis yang begitu memilukan.
"Apa terjadi sesuatu? Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Anggie memastikan dengan mengusap pelan punggung lebar milik Karang.
"Karang, kenapa kamu pulang sendirian? Bukannya tadi mama udah pesan supaya kamu menjada Vee, sekarang dimana Vee?" Tanya Tuti yang ternyata juga sedang berada di rumah Keluarga Salman.
Sejak tadi kedua pasangan tersebut memang sedang berkumpul di rumah Salman.
"Vee..." Ujar Karang dengan suara tertahan.
"Kenapa diam saja? Dimana Vee?" Tanya Tuti dengan suara yang terdengar jelas mulai khawatir, tangan Tuti bahkan menarik tangan Karang agar berdiri menghadap dirinya.
Mata Tuti terus saja menatap dalam wajah Karang.
"Katakan pada mama, dimana Vee?" Tanya Tuti yang bahkan langsung memukul bahu Karang.
"Ma, tenang dulu!" Pinta Antoni yang mencoba menenangkan istirnya.
"Sayang, Karang, apa Vee buat ulah lagi? Apa dia menyusakan mu?" Tanya Anggie yang kembali menyentuh tangan Karang dengan penuh kelembutan.
"Dimana kamu meninggalkan Vee? Mama akan menjemputnya, jika sesuatu terjadi sama Vee, kamu jangan lagi pulang ke rumah!" Tegas Tuti.
"Ma, kita dengar penjelasan Karang dulu, jangan emosi gitu ah!" Jelas Antoni.
"Karang...!" Ujar Salman seolah sedang menunggu jawaban dari Karang.
"Vee, Vee, dia, dia di culik, maafkan aku!" Jelas Karang dengan wajah yang tertunduk penuh rasa bersalah.
"Apa kata mu?" Gumam Tuti dengan tubuh yang ambruk sekita.
"Ma..." Ujar Antoni yang langsung memapah tubuh sang istri agar tidak ambruk di lantai.
"Karang, katakan, sebenarnya apa yang sedang terjadi?" Tanya Salman yang mencoba untuk tetap tenang agar bisa berpikir dengan baik.
"Vee..." Ujar Anggie yang mulai khawatir dan panik.
__ADS_1
"Vee diculik? Sebenarnya apa yang kamu lakukan? Kenapa tidak menjaganya dengan baik? Apa kamu meninggalkan Vee sendirian? Mama kan udah bilang berulang kali, jaga Vee! Jangan biarkan Vee seorang diri, apa kamu tuli? Kamu tidak mendengarkan perintah mama. Mama benar-benar kecewa sama kamu, Karang!" Gumam Tuti yang tidak lagi bisa menahan amarahnya.
💜💜💜