
Galang keluar dari mobil dengan langkah yang tertatih, pandangan yang sayu serta wajah yang terlihat jelas sedang bersedih. Ia terus melangkah memasuki rumahnya.
"Sayang, kamu udah pulang? Gimna kerjanya di hari pertama? Kamu bisa beradaptasi kan dengan tempat yang baru?" Jelas Adelia yang tak lain adalah ibunda tercinta.
"Bunda...!" Ujar Galang lalu memeluk erat tubuh Adelia.
"Kenapa? Apa dokter-dokter disana nggak ada yang baik?" Tanya Adelia khawatir.
"Bukan itu, hanya saja hari ini, di hari pertama aku kerja aku justru tidak bisa menyelamatkan pasien aku, dia meninggal karena aku tidak bisa menolongnya dengan baik!" Jelas Galang.
"Sayang, dokter itu bukan penyelamat apalagi pengubah takdir, tugas dokter hanya membantu untuk menyembuhkan orang-orang yang sakit, bukan melawan kematian." Jelas Adelia.
"Hmmmm, tapi..." Keluh Galang.
"Udah jangan nangis, ini bukan salah mu..." Ujar Adelia dengan tangan yang perlahan mengusap kepala Galang.
"Lalu gimana dengan dokternya? Terus para perawatnya gimana? Hmmm, pasti mereka cantik-cantik semua kan?" Tanya Adelia.
"Bunda dimana-mana yang namanya rumah sakit ya sama, untuk dokter ataupun suster ya kalau nggak tampan ya pasti cantik." Jelas Galang.
"Bukan gitu maksud bunda, apa ada yang membuat kamu terpikat?" Tanya Adelia.
"Tapi, ada sesuatu yang aku suka disana!" Jelas Galang yang bahkan langsung memasang senyuman manisnya.
"Apa? Waaah biar bunda yang tebak! Ayo, pasti partner kamu cantik kan? Ayo dong kenalkan sama bunda." Pinta Adelia yang seketika langsung bersemangat.
"Bunda, partner aku kali ini cowok bukan cewek, namanya Karang bukan Dewi. Jadi aku mohon bunda berhenti berharap terlalu jauh, ya udah aku ke kamar dulu ya bunda sayang!" Jelas Galang dengan senyuman dan segera masuk ke kamarnya.
______
Tepat di kamarnya Vee terlihat sedang duduk di tepi tempat tidur dengan terus berpikir keras dengan akal sehatnya. Sesekali ia terlihat begitu serius namun dimenit selanjutnya ia justru tersenyum-senyum tak jelas.
(Aaaaahha! Sekarang aku punya ide gimana caranya supaya aku tau bagaimana perasaan abang yang sebenarnya terhadap aku. Wuiiih mantap, harus bisa, kali ini aku harus tau gimana status aku sebenarnya, apa cuma sebatas tetangga? Atau mungkin....! Okay, semangat Vee, semangat!) Jelas hati Vee dengan lamunan yang melayang jauh.
Vee benar-benar begitu girang kini bahkan ia meloncat-loncat tak jelas diatas kasur.
"Bahagia banget? Menang lotre?" Tanya Karang yang berada diambang pintu. Langkahnya terhenti saat mendapati Vee yang sedang bertingkah konyol layaknya anak kecil.
"Heiii, ke kamar orang ketuk pintu dulu! Jangan main nyosor aja!" Protes Vee yang langsung meloncat turun dari tempat tidur.
"Sejak kapan ada peraturan seperti itu? Situ aja ke kamar abang main terobos aja, nggak ada permisi apalagi ketuk pintu, masuk keluar suka hati." Jelas Karang.
"Lah ini kan aturan aku!" Tegas Vee.
"Nggak berlaku! Udah ah, nggak guna debat, pinjem laptop dong!" Pinta Karang.
"Emang punya abang mana? Kenapa minjem?" Tanya Vee.
"Tau ah tiba-tiba mati nggak permisi mana lagi penting banget, udah pinjam bentar!" Jelas Karang yang langsung menuju meja belajar untuk mengambil laptop milik Vee.
"Enak banget main comot aja, nggak lihat nih aku lagi ngerjain tugas!" Jelas Vee yang langsung menarik tangan Karang yang hendak menyentuh laptop miliknya.
"Please, bentar aja!" Pinta Karang.
"Nggak bisa, aku lagi buat tugas." Jelas Vee.
__ADS_1
" Ya udah aku tungguin!" Jelas Karang yang langsung rebahan keatas kasur.
"Ya udah tungguin aja sampai aku kelar!" Jelas Vee yang segera mengerjakan tugasnya.
"Vee, gimana? Udah siap?" Tanya Karang setelah beberapa menit berlalu dan dia mulai bosan berbaring disana.
"Bawel banget, tunggu! Belum siap nih!" Jawab Vee.
"Vee..." Panggil Karang setelah waktu kembali berlalu.
"Apa masih belum siap?" Tanya Karang memastikan karena tidak mendapat jawaban dari Vee.
"Udah kan?" Ulang Karang setelah 10 menit kembali berlalu.
"Diam nggak sebelum aku usir! Tunggu aja sampai aku bilang selesai." Tegas Vee.
"Vee..." Ujar Karang.
"Berisik!" Gumam Vee.
Lalu keduanya kembali hening, Vee kembali fokus mengerjakan tugasnya.
"Tumben nurut, nah diam gini kan enak" ungkap Vee.
Sepuluh menit berlalu dan Vee sudah selesai dengan tugasnya. Setelah memeriksa ulang lalu menyimpan file miliknya, Vee menutup laptop lalu membawanya kepada Karang.
"Malag bercanda lagi!" Cetus Vee saat mendapti Karang yang menutup wajahnya dengan buku yang tadinya ia baca.
Tangan Vee memindahkan buku tersebut dari wajah Karang dan ternyata saat itu Karang benar-benar sedang tertidur lelap karena menunggunya.
"Abang....!" Panggil Vee dengan tangan yanb perlahan bergerak lalu menyentuh pipi Karang dan tiba-tiba saja bibir Karang bergerak lalu mulai bernyanyi dalam tidurnya.
Vee ku yang baik...
Vee ku yang manis...
Oooo Vee ku... Vee ku
Vee ku teman baik ku...
(Teman??? Yah, ternyata memang hanya sebatas teman, nggak lebih!) Bisik hati Vee dengan perasaan yang begitu memilukan.
"Vee..." Panggil Karang yang baru saja membuka matanya lalu perlahan menyentuh tangan Vee yang masih berada di pipinya.
"Abang, nih laptopnya udah siap!" Jelas Vee gugup.
"Vee..." Ujar Karang yang entah kenapa ia langsung mengecup tangan Vee yang berada dalam genggamannya.
"Abang, aku udah siap!" Ulang Vee masih dengan perasaan gugup.
Karang terus mendekatkan wajahnya kearah Vee, dan Vee terlihat jelas begitu gelisah lalu spontan memejamkan kedua matanya.
"Kenapa? Ada ada aja kamu ini!" Jelas Karang dengan gelak tawa lalu mengambil laptop dari tangan Vee.
"Apanya yang kenapa? Orang biasa aja!" Tegas Vee.
__ADS_1
"Udah ngaku aja, kamu takut kan kalau abang sampai...." Ucapan Karang langsung diselip oleh Vee.
"Udah hussssh pulang sana gih buruan! Aku mau istirahat!" Jelas Vee yang bakan langsung mendorong tubuh Karang untuk keluar dari kamarnya.
"Iya aku pulang!" Tegas Karang.
"Besok langsung antar kembali laptop aku!" Jelas Vee.
"Siap komandan!" Jawab Karang dan lekas keluar dari kamar Vee.
______
Pagi-pagi Vee berdiri tegak tepat di depan ranjang dimana Karang masih tertidur lelap. Vee yang sudah rapi dengan segaram putih abu-abu serta ransel yang menempel di punggungnya.
"Banguuuuuuu!" Seru Vee dengan suara lantang.
"Haissssshhh berisik! Ngapain ke sini? Masih pagi banget lagi!" Gumam Karang lalu kembali memejamkan matanya.
"Buruan bangun! Ntar telat!" Jelas Vee.
"Telat??? Abang nggak aja shift pagi ini! Udah sanah gih pergi!" Jelas Karang yang kembali menarik selimut.
"Siapa yang lagi bahas soal abang? Orang aku yang bakal telat!" Jelas Vee.
"Apa hubungannya sama abang?" Tanya Karang.
"Ya karena abang nggak ngantarin aku ke sekolah!" Jawab Vee lalu duduk tepat disisi kaki Karang.
"Mobil kamu mana sih?" Tanya Karang yang mulai kesal.
"Bengkel!"
"Yang satu lagi?"
"Di pakai sama pak Udin pulang kampung."
"Oooo, ya udah bareng sama papa aja!"
"Banguuuuun!" Teriak Vee yang langsung menarik selimut yang membalut tubuh Karang.
"Vee...."
"Ya udah kalau abang nggak mau antarin, aku juga lanjut tidur lagi aja!" Jelas Vee yang langsung merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Haissssshhh! Ya udah lima menit, abang mandi bentar!"
"Nggak usah mandi, buang waktu!"
"Ababg baru bangun tidur Vee! Udah nggak bakal lama." Jelas Karang yang langsung menuju ke kamar mandi.
Karang keluar dari ruang ganti dengan penampilan yang sudah rapi, lalu berdiri di depan cermin untuk merapikan rambutnya.
"Udah buruan!" Tegas Vee yang bahkan langsung menyeret tubuh Karang untuk keluar dari kamar.
"Tante, Vee ke sekolah dulu ya, love tante!" Jelas Vee saat melewati teras dimana Tuti terlihat sedang menata bunga yang ada diatas meja teras.
__ADS_1
"Iya, hati-hati sayang!" Pesan Tuti dengan senyuman.
💜💜💜